KOMPAS.com - Hidup modern identik dengan kecepatan. Jadwal yang padat, pekerjaan yang menumpuk, hingga notifikasi yang terus berdatangan membuat banyak orang terbiasa melakukan segala sesuatu tergesa-gesa.
Sayangnya, kebiasaan itu kadang terbawa hingga ke dalam ibadah.
Tidak sedikit orang yang shalat secepat mungkin agar segera kembali bekerja, membaca Al-Qur'an tanpa tadabbur, atau berdoa sekadar menggugurkan kewajiban.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa ibadah bukan perlombaan mengejar waktu, melainkan perjumpaan seorang hamba dengan Allah SWT yang menuntut kekhusyukan dan ketenangan.
Baca juga: Cara Mengajarkan Anak Shalat Tanpa Membuatnya Tertekan
Allah SWT menjadikan kekhusyukan sebagai salah satu ciri utama orang beriman. Kekhusyukan tidak mungkin lahir dari ibadah yang dilakukan dengan tergesa-gesa.
Dalam QS Al-Mu'minun Ayat 1–2, Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Qad aflaḥal-mu’minūn. Allażīna hum fī ṣalātihim khāsyi‘ūn.
Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
Baca juga: Gaji Suami Bukan Tolok Ukur Ketaatan Istri, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Ayat ini menunjukkan bahwa keberuntungan seorang mukmin tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga kualitas kehadiran hati ketika beribadah.
Salah satu hadis paling terkenal tentang tuma'ninah adalah kisah seorang sahabat yang shalat dengan sangat cepat.
Rasulullah SAW tidak langsung menyalahkannya, tetapi memintanya mengulang shalat hingga tiga kali.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA
ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
Irji‘ fa ṣalli fa innaka lam tuṣalli.
Artinya: “Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” (HR Sahih al-Bukhari No. 793; Sahih Muslim No. 397.)
Setelah itu, Rasulullah SAW mengajarkan agar setiap ruku' dan sujud dilakukan hingga tenang. Dari hadis inilah para ulama menetapkan bahwa tuma'ninah merupakan rukun shalat, bukan sekadar sunnah.
Tuma'ninah berarti diam sejenak hingga anggota badan benar-benar tenang pada setiap gerakan shalat.
Seseorang tidak berpindah dari ruku' ke sujud atau dari sujud ke duduk sebelum tubuhnya kembali stabil.
Baca juga: Masjid Berusia 1.300 Tahun Ditemukan di Arab Saudi, Simpan Prasasti Al-Quran
Karena itu, shalat yang terlalu cepat hingga menghilangkan ketenangan dapat mengurangi bahkan membatalkan kesempurnaan ibadah apabila rukun-rukunnya tidak terpenuhi.
Hikmah tuma'ninah adalah memberi ruang bagi hati untuk menghadirkan kesadaran bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah.
Islam memahami bahwa sifat tergesa-gesa merupakan bagian dari tabiat manusia. Namun, sifat tersebut perlu dikendalikan agar tidak menguasai ibadah.
QS Al-Isra Ayat 11, Allah berfirman:
وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
Wa kānal-insānu ‘ajūlā.
Artinya: “Dan manusia bersifat tergesa-gesa.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kecenderungan terburu-buru adalah sifat manusia, tetapi bukan alasan untuk menjadikan ibadah kehilangan kekhusyukannya.
Justru ibadah menjadi latihan mengendalikan diri dari ritme hidup yang serba cepat.
Baca juga: Konflik Saudi-Houthi Memanas, Pemerintah Diminta Siapkan Skenario Darurat Umrah
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kualitas ibadah jauh lebih penting daripada sekadar menyelesaikannya.
Membaca Al-Qur'an dengan perlahan, berdzikir dengan memahami makna, dan berdoa dengan penuh harap merupakan bentuk menghadirkan hati dalam ibadah.
Dalam kehidupan sehari-hari, meluangkan beberapa menit lebih lama untuk shalat sering kali terasa berat.
Padahal, waktu yang singkat itu justru menjadi jeda yang menenangkan pikiran, meredakan kecemasan, dan mengembalikan orientasi hidup kepada Allah SWT.
Baca juga: Kemenhaj Blokir Siskopatuh Travel Anissa Ahmada, Setoran Jemaah Ditaksir Rp120 Miliar
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu menghadirkan ketenangan dalam ibadah.
Pertama, datang lebih awal sebelum shalat sehingga tidak terburu-buru mengejar takbiratul ihram.
Kedua, memahami bacaan shalat agar setiap ayat yang dibaca memiliki makna di dalam hati.
Ketiga, memberi jeda pada setiap ruku' dan sujud hingga tubuh benar-benar tenang.
Keempat, menjauhkan ponsel atau gangguan lain selama beribadah agar fokus tidak mudah terpecah.
Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut membantu mengubah ibadah dari sekadar rutinitas menjadi momen perjumpaan yang penuh kesadaran.
Baca juga: Khutbah Jumat: Amalan yang Dapat Dikerjakan pada Bulan Rabiul Akhir
Kesibukan bukan alasan untuk mempercepat ibadah, melainkan alasan untuk semakin membutuhkan ibadah yang berkualitas.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, shalat mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, menenangkan jiwa, dan mengingat tujuan hidup yang lebih besar.
Karena itu, ketika hidup terasa semakin terburu-buru, jangan biarkan ibadah ikut kehilangan tuma'ninah.
Sebab, justru dalam ketenangan itulah seorang hamba lebih dekat dengan ridha Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.