
NAHDLATUL Ulama (NU) resmi melintasi gerbang sejarah baru. Muktamar ke-35 NU di Tambakberas menjadi saksi terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Pilihan para ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) ini bukan sekadar rutinitas organisatoris. Ia adalah cerminan dari kebutuhan spiritual dan geopolitik sebuah jam'iyah terbesar di dunia yang sedang mengetuk pintu abad keduanya.
Di tengah samudera perubahan global yang penuh intrik, NU tidak membutuhkan nakhoda yang bimbang. NU membutuhkan ketegasan yang berakar pada kedalaman spiritual. Dan sosok itu mewujud dalam diri Kiai Miftah. Namun, penting bagi kita untuk menundukkan kepala sejenak dan merenungkan: seperti apa ketegasan yang dibawa oleh pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah Surabaya ini? Di sinilah kita harus jeli membedakan antara "sikap tegas" dan "saklek-keras".
Sikap saklek dan keras sering kali lahir dari ego yang kaku, kemarahan yang meluap, atau kepicikan yang menolak dialog. Sebaliknya, ketegasan Kiai Miftah adalah ketegasan yang reflektif. Ketegasan yang lahir dari prinsip fiqih yang matang, komitmen tanpa tawar pada Qanun Asasi NU, serta kecintaan yang mendalam pada keselamatan ummat.
Beliau tidak berteriak dengan urat leher yang tegang, namun keputusan-keputusan strategisnya memotong segala bentuk penyimpangan dengan ketajaman yang mutlak. Ketegasan Kiai Miftah adalah manifestasi dari jargon haqqul yakin yang diamalkan, bukan sekadar diwacanakan. Ketegasan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merupakan cerminan nyata dari komitmen menjaga kesucian dan martabat organisasi.
Baca juga: Ucapkan Selamat ke Kiai Miftah dan Gus Kikin, Gus Yusuf: Saatnya Kembali Guyub
Langkah-langkah berani beliau dalam menegakkan disiplin organisasi -termasuk pernah memberhentikan nama-nama besar seperti Ali Maschan Moesa yang nekat mencalonkan diri jadi wakil gubernur Jatim dan Gus Yahya yang dianggap berkaitan dengan jaringan zionisme global dan masalah keuangan organisasi, hingga Holland Taylor—sering kali disalahartikan oleh sebagian pihak sebagai tindakan yang kontroversial atau tanpa dasar.
Namun, jika ditelaah lebih dalam dengan hati yang jernih, keputusan-keputusan besar tersebut bukanlah bentuk kesewenang-wenangan, melainkan sebuah manifestasi dari rekam jejak keteguhan beliau yang tak kenal kompromi demi menjaga marwah NU. Beliau melangkah bukan atas dasar sentimen pribadi, melainkan murni berdiri di atas konstitusi dan aturan organisasi demi membentengi jam'iyah dari pergeseran nilai.
Ujian terbesar dari ketegasan seorang Rais Aam terletak pada bagaimana beliau menjaga kesucian asas organisasi dari infiltrasi ideologi asing yang merusak. Rekam jejak Kiai Miftah mencatat tinta emas saat jajaran Syuriyah di bawah kepemimpinannya mengambil langkah berani.
Beliau membekukan lembaga atau institusi internal (seperti preseden langkah tegas pada struktur/mitra akademis taktis organisasi, salah satunya ketika mencuat isu penyusupan agenda melalui aliansi global—dalam dinamika pembekuan entitas seperti Akademi Kebijakan Nasional/AKN atau lembaga serupa yang terindikasi bersinggungan dengan jejaring internasional). Langkah ini diambil karena adanya indikasi kuat infiltrasi gerakan zionisme global.
Bagi Kiai Miftah, anti-zionisme bukanlah sekadar isu politik luar negeri yang dinamis, melainkan prinsip teologis dan konstitusional yang final bagi NU. Konstitusi tertinggi NU, Qanun Asasi yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, dengan tegas menolak segala bentuk penjajahan dan kezaliman di atas muka bumi.
Kemanusiaan dan kemerdekaan adalah harga mati. Ketika benteng itu coba disusupi oleh gerakan zionisme global—apapun alasannya, baik atas nama diplomasi, kebudayaan, maupun akademis—Kiai Miftah berdiri tegak di garis depan. Beliau tidak menimbang untung-rugi politik sekuler; beliau menimbang keselamatan ideologis nahdliyin. Ketegasan ini mengirimkan pesan clear ke seluruh dunia: abad kedua NU tetaplah abad yang menentang kolonialisme dalam bentuk apa pun.
Jika Tanfidziyah adalah mesin eksekutif organisasi, maka Syuriyah adalah jiwa, kompas, dan pemegang otoritas tertinggi di NU. Namun, dalam realitas praktisnya, menjaga supremasi Syuriyah bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat betapa ruang-ruang NU sering kali diguncang oleh berbagai intrik, tekanan politik, hingga manuver antarkelompok melalui forum Musyawarah Besar (Mubes), Musyawarah Kubro (Muskub), hingga forum-forum luar biasa lainnya yang mencoba menggoyang stabilitas organisasi.
Di sinilah Kiai Miftah menunjukkan kelasnya sebagai jangkar organisasi. Ketika tekanan dari berbagai faksi begitu kuat, ketika intrik politik mencoba mengerdilkan peran ulama menjadi sekadar pemberi stempel legalitas bagi kepentingan pragmatis, Kiai Miftah mengembalikan marwah Syuriyah ke tempat tertinggi.
Beliau menghadapi badai tekanan itu bukan dengan konfrontasi fisik yang kasar atau pernyataan-pernyataan polemik di media massa, melainkan dengan keteguhan sikap dalam rapat-rapat internal organisasi.Kiai Miftah membuktikan bahwa kedudukan Rais Aam tidak bisa didekte oleh kepentingan modal maupun kekuasaan.
Supremasi Syuriyah dijaga dengan basis legitimasi fiqih, disiplin organisasi, dan wibawa spiritual. Beliau merangkul semua elemen sebagaimana pesan AHWA, namun ketika menyangkut prinsip dan marwah kelembagaan, beliau tidak memberikan ruang se-milimeter pun untuk kompromi yang menggadaikan nilai-nilai pesantren.
Perjalanan NU di abad kedua menuntut tantangan yang jauh lebih kompleks daripada abad pertama. Kita menghadapi disrupsi teknologi, pergeseran geopolitik global, hingga ancaman pendangkalan nilai-nilai spiritual akibat sekularisme yang makin canggih. NU tidak bisa lagi dipimpin dengan gaya yang ragu-ragu atau sekadar mencari aman di tengah arus popularitas.
Kombinasi antara kealiman Kiai Miftah yang ditempa dari pesantren-pesantren besar seperti Tambakberas, Sidogiri, hingga Lasem, dengan ketegasan prinsipnya yang kokoh, adalah berkah terbesar bagi PBNU saat ini. Kepemimpinannya memberikan rasa aman bagi warga Nahdliyin di akar rumput: bahwa di tengah dunia yang bergerak begitu cepat dan sering kali membingungkan, kompas moral dan ideologis NU tetap berada di tangan yang tepat.
Baca juga: Profil KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU, Apa Bedanya dengan Ketua Umum?
Ketegasan Kiai Miftah —bukanlah saklek yang kaku—adalah teladan utama bagi generasi muda NU. Bahwa menjadi modern dan adaptif di abad kedua tidak berarti harus kehilangan taring dalam membela kebenaran, menolak zionisme, dan menjaga supremasi ulama.
Beliau adalah bukti hidup bahwa kelembutan seorang sufi bisa bersanding mesra dengan keberanian seorang kesatria saat benteng jam'iyah mulai diusik. Selamat berkhidmat kembali, Kiai. Jagalah terus kompas spiritual jam'iyyah dan jamaah NU di abad kedua ini. Wallahu'alam bishawab
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.