KOMPAS.com - Ketika menghadapi musibah atau kegagalan, umat Islam sering dianjurkan untuk bersabar, bertawakal, atau belajar ridha terhadap ketentuan Allah. Ketiga istilah ini memang saling berkaitan, tetapi memiliki makna dan kedudukan yang berbeda dalam ajaran Islam.
Memahami perbedaannya penting agar seorang Muslim tidak tertukar antara menahan diri, menerima ketetapan Allah, dan menyerahkan hasil setelah berikhtiar. Al-Qur'an dan hadis sahih memberikan penjelasan yang jelas mengenai ketiga akhlak mulia tersebut.
Sabar berarti menahan diri agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah, baik ketika menjalankan ketaatan, meninggalkan maksiat, maupun menghadapi ujian hidup.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Yā ayyuhallażīna āmanus-ta‘īnū biṣ-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma‘aṣ-ṣābirīn.
Baca juga: Tren Baju Lebaran Sarimbit 2027, Tak Lagi Didominasi Warna Pastel
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru sabar menuntut keteguhan hati untuk tetap berbuat benar meskipun menghadapi kesulitan, tekanan, atau rasa kehilangan.
Jika sabar adalah kemampuan bertahan, maka ridha adalah keadaan hati yang menerima keputusan Allah tanpa menyimpan kebencian terhadap takdir-Nya.
Ridha tidak berarti menyukai musibah atau berhenti berikhtiar. Seorang Muslim tetap boleh bersedih, menangis, dan berusaha memperbaiki keadaan, tetapi hatinya tidak memprotes kebijaksanaan Allah SWT.
Prinsip ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 23:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
Likailā ta’sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum.
Artinya: “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu.”
Baca juga: KH Miftachul Akhyar: Jangan Terobsesi Mengejar Keramat
Ayat ini mengajarkan keseimbangan batin: tidak larut dalam kehilangan dan tidak berlebihan dalam kenikmatan karena semuanya berada dalam ketentuan Allah.
Tawakal sering disalahartikan sebagai pasrah tanpa usaha. Padahal, tawakal justru dimulai setelah seseorang melakukan ikhtiar terbaik yang mampu ia lakukan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Fa iżā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn.
Artinya: “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
Baca juga: Kemenag Catat 7.710 Perempuan Usia 15–17 Tahun Menikah Sepanjang 2026
Urutan ayat ini sangat penting. Tekad dan usaha didahulukan, baru kemudian tawakal. Artinya, menyerahkan hasil kepada Allah bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.
Makna tawakal dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA.
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
I‘qilhā wa tawakkal.
Artinya: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR Jami’ at-Tirmidzi No. 2517).
Hadis ini menjadi kaidah penting dalam Islam. Tawakal bukan berarti membiarkan sebab-sebab dunia, melainkan menggabungkan usaha yang maksimal dengan keyakinan penuh kepada Allah SWT.
Baca juga: Qanun Asasi NU Bantah Dana Korupsi ATR/BPN Mengalir ke Muktamar ke-35
Sabar, ridha, dan tawakal bukanlah tiga sikap yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi dalam kehidupan seorang Muslim.
Seseorang yang kehilangan pekerjaan, misalnya, pertama-tama bersabar agar tidak putus asa dan tetap menjaga ibadah. Ia kemudian bertawakal dengan terus mencari pekerjaan sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Setelah segala ketentuan terjadi, ia belajar ridha menerima keputusan Allah sambil terus melangkah memperbaiki kehidupannya.
Urutan ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha lahiriah dan kekuatan batin.
Baca juga: Qanun Asasi NU Bantah Dana Korupsi ATR/BPN Mengalir ke Muktamar ke-35
Ringkasnya, sabar adalah menahan diri dalam menghadapi ujian, ridha adalah menerima ketetapan Allah dengan hati yang lapang, sedangkan tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan.
Ketiga akhlak ini menjadi bekal penting bagi seorang Muslim dalam menghadapi dinamika kehidupan. Dengan sabar seseorang tetap teguh, dengan tawakal ia tidak bergantung pada usahanya semata, dan dengan ridha ia memperoleh ketenangan karena yakin bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah terbaik.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.