Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi

Kompas.com, 26 September 2026, 06:01 WIB
Reni Susanti

Editor

JEMBER, KOMPAS.com — Ketika KH Abdul Mu’id Sulaiman mendirikan Pondok Pesantren Baitul Arqom di Balung, Jember, pada 1959, ia membawa pengalaman belajar dari Pondok Modern Darussalam Gontor.

Abdul Mu’id adalah lulusan Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor tahun 1943.

Puluhan tahun kemudian, hubungan itu masih terjaga. Anak dan cucu Abdul Mu’id menempuh pendidikan di Gontor, sementara generasi keempat keluarganya ada yang telah lulus dan ada yang sedang bersiap belajar di sana.

Anggota keluarga lainnya belajar di Baitul Arqom, yang menerapkan sistem pendidikan KMI.

Baca juga: Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor

Pimpinan Baitul Arqom, KH Izzat Fahd, mengatakan hubungan dengan Gontor tidak hanya tampak dari riwayat pendidikan keluarga pendiri.

Nilai-nilai dan sistem pendidikannya juga diterapkan di pesantren yang didirikan Abdul Mu’id bersama Kiai Mahin Ilyas dan Kiai Djawahir Abdul Muin itu.

“Nilai-nilai, sistem KMI, hingga Panca Jiwa Gontor telah menjadi ruh pendidikan di Baitul Arqom sejak awal berdiri hingga saat ini,” kata Izzat dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Menurut Izzat, Baitul Arqom merupakan pesantren pertama di Indonesia yang didirikan alumni KMI Gontor.

Ia mengatakan, keterangan itu pernah disampaikan sejumlah tokoh dari lingkungan Gontor, termasuk KH Ahmad Hidayatulah Zarkasyi, KH Akrim Mariyat, dan almarhum KH Samsul Hadi Abdan.

Baca juga: Menag Ungkap Kunci Gontor Bertahan dan Tetap Relevan Selama 100 Tahun

Berlanjut dalam keluarga pendiri

Setelah Abdul Mu’id, putranya, KH Masykur Abdul Mu’id, lulus dari KMI Gontor pada 1968.

Pada generasi berikutnya, Izzat lulus pada 2002, disusul adiknya, H Ismat Syauqi, pada 2004. Ismat kini menjabat Wakil Pimpinan Baitul Arqom.

Tradisi itu berlanjut ke generasi keempat. Basma Tania lulus dari Gontor Putri Mantingan pada 2019, sedangkan Haekal Nawafie saat ini menempuh jenjang calon pelajar di Gontor.

Tidak semua anggota keluarga pendiri belajar langsung di Gontor. Iffat Maimunah dan Muhammad Imaduddin, misalnya, menempuh pendidikan di Baitul Arqom.

Iffat merupakan istri Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Wildana Wargadinata. Adapun Imaduddin adalah alumni Madrasatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al-Islamiyah (MMI/MMaI) Baitul Arqom.

Keluarga juga menyiapkan jalur pendidikan lain sesuai kebutuhan pesantren. Azmi Farhadi dipersiapkan untuk menempuh pendidikan kedokteran, dengan harapan kelak dapat ikut memperkuat Baitul Arqom sebagai dokter spesialis.

Ismat mengatakan, keluarga pendiri ingin menyiapkan penerus pesantren melalui pendidikan di Gontor maupun Baitul Arqom. Ia memperkirakan sekitar 30 hingga 50 anggota keluarga besar Abdul Mu’id dari berbagai generasi pernah mengenyam pendidikan di Gontor.

“Ini adalah bentuk komitmen kami menjaga sanad keilmuan tersebut,” ujar Ismat.

Pesantren untuk beragam golongan

Bagi Izzat, pengaruh Gontor juga terlihat dari cara Baitul Arqom menerima santri. Sejak awal, pesantren tersebut mengacu pada prinsip “Berdiri di Atas dan untuk Semua Golongan”.

Ia mengatakan, ketika Baitul Arqom berdiri pada 1959, masyarakat di sekitarnya masih terkotak-kotak berdasarkan kelompok.

Abdul Mu’id, menurut Izzat, memandang model pendidikan Gontor sebagai cara untuk mempertemukan mereka.

“Almarhum kakek kami melihat bahwa model pendidikan Gontor adalah solusi yang paling tepat untuk menjembatani dan merangkul semua komunitas,” kata Izzat.

Kini, menurut dia, santri Baitul Arqom datang dari keluarga dengan latar belakang Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Mereka berasal dari berbagai daerah, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

“Begitu masuk Baitul Arqom, semuanya menyatu. Dan ketika lulus, mereka kembali mengabdi di komunitasnya masing-masing. Baitul Arqom hadir sebagai perekat umat,” ujarnya.

Pihak pesantren mengatakan, para perintis dan pengasuh Baitul Arqom juga memiliki riwayat membina masyarakat desa dan menanamkan nilai kebangsaan. Semangat itu, menurut mereka, diteruskan melalui pendidikan santri setelah pesantren berdiri.

Alumni dan rencana pertanian

Selama lebih dari enam dekade, alumni Baitul Arqom berkiprah di berbagai bidang. Salah satunya adalah Jenderal Pol (Purn) Badrodin Haiti, mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Izzat mengatakan, ia menghargai kiprah alumni, baik yang mencapai jabatan nasional maupun yang bekerja di lembaga pendidikan di kota dan desa.

“Harapan kami di usia pesantren yang terus matang ini, Baitul Arqom dapat terus memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Panca Jiwa,” katanya.

Di samping mempertahankan pendidikan KMI, Baitul Arqom berencana mengembangkan kegiatan pertanian.

Direktur Badan Pemeliharaan, Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf dan Amal Usaha Baitul Arqom, H Muhammad Imaduddin, mengatakan rencana itu berangkat dari lingkungan pesantren yang agraris serta latar belakang keluarga pendiri sebagai petani.

“Ke depan, kami ingin Baitul Arqom berkembang menjadi pesantren yang juga mampu menguatkan ketahanan pangan berbasis pertanian, melengkapi kurikulum KMI yang murni kami terapkan,” ujar Imaduddin.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar