KOMPAS.com - Memberi hadiah dan bersedekah sama-sama dianjurkan dalam Islam. Keduanya merupakan bentuk kebaikan yang dapat mempererat hubungan antarmanusia sekaligus menjadi amal yang dicintai Allah SWT.
Namun, muncul pertanyaan: jika harus memilih, mana yang lebih utama?
Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Para ulama menjelaskan bahwa hadiah dan sedekah memiliki tujuan yang berbeda.
Sedekah lebih diutamakan ketika ada orang yang membutuhkan, sedangkan hadiah lebih utama untuk menumbuhkan kasih sayang dan memperkuat silaturahmi.
Dalam fikih, hadiah (hadiyyah) adalah pemberian kepada orang lain sebagai bentuk penghormatan, kasih sayang, atau mempererat hubungan.
Sementara sedekah adalah pemberian yang diniatkan untuk mencari ridha Allah, terutama kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan.
Baca juga: Mengintip Basra, Gym Keluarga Muslim di Bandung, Privasi Jadi Perhatian
Perbedaan utama keduanya terletak pada niat dan sasaran pemberian. Hadiah tidak selalu diberikan kepada orang miskin, sedangkan sedekah memiliki dimensi ibadah sosial yang lebih kuat karena membantu memenuhi kebutuhan orang lain.
Al-Qur'an memberikan gambaran besar tentang pahala sedekah yang dilipatgandakan oleh Allah SWT. Salah satu ayat yang paling sering dijadikan dasar adalah Surah Al-Baqarah ayat 261.
Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah Ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Matsalul-lażīna yunfiqūna amwālahum fī sabīlillāhi kamatsali ḥabbatin ambatat sab‘a sanābila fī kulli sumbulatin mi'atu ḥabbah, wallāhu yuḍā‘ifu limay yasyā', wallāhu wāsi‘un ‘alīm.
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki keutamaan luar biasa karena bukan sekadar mengurangi harta, melainkan menjadi investasi amal yang pahalanya terus bertambah atas kehendak Allah.
Baca juga: Apa Arti Qaulan Sadida dalam Surat Al-Ahzab? Ini Penjelasan Ulama
Meski sedekah memiliki pahala besar, Rasulullah SAW juga memberikan teladan tentang pentingnya hadiah sebagai sarana membangun hubungan baik.
Diriwayatkan oleh Aisyah RA:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا
Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yaqbalu al-hadiyyata wa yutsību ‘alaihā.
Artinya: “Rasulullah SAW menerima hadiah dan membalasnya.” (HR Sahih al-Bukhari No. 2585).
Hadis ini memperlihatkan bahwa memberi hadiah merupakan sunnah yang bernilai sosial.
Baca juga: Gontor Dituding Tegur Prabowo lewat Al-Ahzab, Stafsus Menag: Itu Doa, Bukan Tamparan
Rasulullah tidak hanya menerima hadiah, tetapi juga membalasnya sebagai bentuk penghargaan dan menjaga hubungan yang harmonis.
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah menjadi lebih utama apabila terdapat orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, kelaparan, sakit, atau terlilit kebutuhan mendesak.
Dalam kondisi seperti ini, membantu kebutuhan hidup seseorang memiliki nilai kemanusiaan sekaligus ibadah yang sangat besar.
Muhammadiyah dalam kajian tentang filantropi Islam juga menekankan bahwa sedekah merupakan instrumen pemerataan sosial.
Tujuannya bukan hanya memberi, tetapi mengangkat martabat dan meringankan beban sesama.
Di sisi lain, hadiah menjadi pilihan yang lebih tepat ketika tujuannya mempererat silaturahmi, membahagiakan orang tua, pasangan, sahabat, guru, atau tetangga.
Hadiah tidak harus mahal, bahkan pemberian sederhana yang tulus dapat menghadirkan kebahagiaan dan menghilangkan rasa renggang dalam hubungan.
Baca juga: Nasaruddin Umar Terpilih Jadi Presiden Pertama Majelis Imam Masjid Internasional
Karena itu, para ulama tidak mempertentangkan hadiah dan sedekah. Keduanya justru saling melengkapi: sedekah memperkuat kepedulian sosial, sedangkan hadiah memperkuat ukhuwah dan kasih sayang.
Jawaban fikihnya adalah melihat kondisi dan niat. Jika di hadapan kita ada orang yang kelaparan sementara kita memilih memberi hadiah kepada orang yang sudah berkecukupan, maka sedekah tentu lebih diutamakan.
Sebaliknya, ketika kebutuhan dasar telah terpenuhi dan tujuan kita adalah menyambung silaturahmi, hadiah menjadi sunnah yang sangat dianjurkan.
Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan persaingan antara hadiah dan sedekah, melainkan mengajarkan kebijaksanaan dalam menempatkan keduanya.
Memberi kepada yang membutuhkan adalah wujud kasih kepada sesama, sementara memberi hadiah adalah cara menumbuhkan cinta dan persaudaraan di tengah masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.