KOMPAS.com - Abu Umamah Al-Bahili merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal melalui banyak riwayat hadis.
Nama lengkapnya adalah Shuday bin Ajlan bin Wahb, meski terdapat beberapa perbedaan riwayat mengenai nasabnya. Ia lebih dikenal dengan kuniyah Abu Umamah.
Ibn Sa'd mencatat Abu Umamah sebagai sahabat Nabi yang tinggal di wilayah Syam. Ia juga meriwayatkan sejumlah hadis dari Rasulullah SAW.
Sementara itu, Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah juga mencatat Abu Umamah sebagai sahabat Nabi yang dikenal dengan kuniyah tersebut.
Dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Ibn Sa'd menyebut Abu Umamah dengan nama Shuday bin Ajlan. Ia termasuk sahabat yang kemudian menetap di Syam.
Baca juga: MUI Siapkan E-commerce untuk UMKM, Targetkan 1.000 Usaha saat Peluncuran
Ibn Sa'd juga mencatat kesaksian Abu Umamah mengenai Perang Shiffin.
Dalam riwayat tersebut, Abu Umamah mengatakan, ketika ia menyaksikan peristiwa itu, para pihak yang bertempur tidak menghabisi orang yang terluka, tidak mengejar orang yang mundur, dan tidak mengambil barang milik orang yang tewas.
Riwayat tersebut menunjukkan salah satu kesaksian Abu Umamah mengenai peristiwa yang ia alami setelah masa Nabi Muhammad SAW.
Ibn Sa'd juga mencatat bahwa Abu Umamah biasa menyampaikan hadis dan mendorong orang lain untuk menyampaikan kembali ilmu yang mereka dengar.
Salah satu riwayat yang disampaikan Abu Umamah berkaitan langsung dengan sedekah. Dalam Jami' at-Tirmidzi, Abu Umamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَاتِ ظِلُّ فُسْطَاطٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنِيحَةُ خَادِمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ طَرُوقَةُ فَحْلٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Afdhalush-shadaqāti zhillu fusṭāṭin fī sabīlillāh, wa manīḥatu khādimin fī sabīlillāh, au ṭarūqatu faḥlin fī sabīlillāh.
Artinya: “Sedekah yang paling utama adalah memberikan tempat berteduh berupa tenda di jalan Allah, memberikan seorang pelayan di jalan Allah, atau memberikan hewan pejantan untuk dikembangbiakkan di jalan Allah.” (Jami' at-Tirmidzi Nomor 1627)
Baca juga: Kenapa Muslim Dianjurkan Menutup Mulut Saat Menguap?
Imam At-Tirmidzi menilai hadis tersebut sebagai hasan gharib sahih.
Riwayat ini memperlihatkan bahwa Abu Umamah termasuk sahabat yang menyampaikan penjelasan Rasulullah SAW mengenai bentuk pemberian yang memiliki keutamaan.
Al-Qur'an juga menjelaskan besarnya keutamaan menginfakkan harta di jalan Allah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Maṡalullażīna yunfiqụna amwālahum fī sabīlillāhi kamaṡali ḥabbatin ambatat sab'a sanābila fī kulli sumbulatin mi'atu ḥabbah, wallāhu yuḍā'ifu limay yasyā', wallāhu wāsi'un 'alīm.
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261)
Baca juga: 5 Pola Asuh Anak dalam Islam yang Dicontohkan Nabi Ibrahim
Ayat tersebut menggambarkan bahwa pemberian di jalan Allah tidak dipandang sekadar sebagai berkurangnya harta.
Allah menjanjikan pelipatgandaan pahala bagi orang yang menginfakkan hartanya sesuai ketentuan-Nya.
Selain meriwayatkan hadis tentang sedekah, Abu Umamah dikenal sebagai salah satu sahabat yang menyampaikan banyak hadis dari Rasulullah SAW.
Ibn Sa'd mencatat, ia pernah menyampaikan kepada orang-orang bahwa majelis ilmu merupakan bagian dari penyampaian yang telah diteruskan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Abu Umamah kemudian menjadi salah satu perawi yang darinya sejumlah generasi setelahnya menerima hadis.
Di antara perawi yang meriwayatkan darinya adalah Khalid bin Ma'dan, Al-Qasim Abu Abdurrahman, Syurahbil bin Muslim, Muhammad bin Ziyad Al-Alhani, dan Sulaim bin Amir.
Abu Umamah menetap di Syam hingga akhir hidupnya. Ibn Sa'd mencatat bahwa ia wafat di Syam pada tahun 86 Hijriah pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan.
Baca juga: Kebahagiaan Sejati dalam Islam Tidak Bergantung pada Pujian, Cukup dengan Mencari Ridha Allah
Riwayat tentang Abu Umamah memperlihatkan kedudukannya sebagai sahabat yang tidak hanya memiliki pengalaman pada masa setelah Rasulullah SAW, tetapi juga berperan dalam menyampaikan hadis kepada generasi berikutnya.
Kaitannya dengan sedekah terutama terlihat dari hadis yang ia riwayatkan tentang bentuk sedekah yang utama.
Karena itu, kisah Abu Umamah dapat menjadi pengingat bahwa sedekah dalam Islam tidak terbatas pada pemberian uang, tetapi mencakup berbagai bentuk pengorbanan dan kemanfaatan yang diberikan untuk kebaikan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.