Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tema dan Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag serta PBNU

Kompas.com, 2 Oktober 2026, 22:16 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sama-sama meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026.

Meski mengangkat semangat yang sama tentang kontribusi santri bagi bangsa, keduanya membawa penekanan yang berbeda.

Kemenag mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, sedangkan PBNU memilih tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.

Kedua tema tersebut sama-sama menghubungkan peran santri dengan kehidupan kebangsaan, tetapi Kemenag lebih menekankan orientasi kontribusi menuju masa depan, sementara PBNU menyoroti pentingnya akar tradisi sebagai dasar pengabdian.

Tema Hari Santri 2026 Versi Kemenag

Kemenag meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026 pada 22 September 2026.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, rangkaian Hari Santri menjadi momentum untuk mengingat kembali peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa.

Baca juga: Kisah Abu Umamah Al-Bahili, Sahabat Nabi yang Gemar Bersedekah

Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” juga disertai sejumlah agenda yang menyoroti kontribusi santri dan penguatan kemandirian pesantren. Beberapa di antaranya yakni Surat Santri untuk Presiden, Pesantren Award, Santri Vision, Mu'tamad Santri, Expo Kemandirian Pesantren, hingga Malam Bakti Santri untuk Negeri.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa tema Kemenag tidak hanya diarahkan pada pengingatan sejarah, tetapi juga pada kontribusi santri dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan bangsa.

Tema Hari Santri 2026 Versi PBNU

PBNU meluncurkan tema dan logo Hari Santri 2026 pada Rabu, 30 September 2026. Tema yang diangkat adalah “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.

Baca juga: Kapan Ghibah Dibolehkan dalam Islam? Ini Penjelasan Ulama

Sekretaris Jenderal PBNU Gus Gudfan Arif mengatakan, tema tersebut membawa pesan agar santri tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar keilmuan, adab, sanad, dan tradisi pesantren.

Menurut Gus Gudfan, kuatnya akar tradisi justru menjadi bekal bagi santri untuk memperluas pengabdian. Santri tidak hanya dituntut menjaga tradisi, tetapi juga berperan dalam menjawab persoalan masyarakat, bangsa, dan negara.

Tema PBNU kemudian menghubungkan tradisi pesantren dengan tanggung jawab kebangsaan. Menjaga agama, menurut Gus Gudfan, berjalan beriringan dengan menjaga persaudaraan dan keutuhan bangsa.

Perbedaan Titik Tekan Kedua Tema

Jika dibandingkan, tema Kemenag menempatkan “menguatkan negeri” sebagai tujuan yang diarahkan menuju Indonesia Emas. Sementara itu, PBNU menempatkan “akar tradisi” sebagai pijakan untuk menjalankan pengabdian dan menjaga keutuhan negeri.

Baca juga: Kapan Ghibah Dibolehkan dalam Islam? Ini Penjelasan Ulama

Keduanya tetap memiliki irisan. Baik Kemenag maupun PBNU sama-sama melihat santri tidak hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai kelompok yang memiliki kontribusi dalam kehidupan bangsa saat ini.

Perbedaannya terletak pada cara pesan tersebut dirumuskan. Kemenag menghubungkan peran santri dengan agenda masa depan dan penguatan kemandirian pesantren, sedangkan PBNU menekankan kesinambungan antara tradisi keilmuan pesantren, identitas santri, dan pengabdian kebangsaan.

Makna Logo Hari Santri 2026 Kemenag

Kemenag menggunakan konsep anyaman atau ikatan dinamis pada logo Hari Santri 2026. Konsep tersebut merepresentasikan kebersamaan, persatuan, dan keberlanjutan perjuangan santri dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam filosofi logo Kemenag, dua lingkaran yang saling menyimpul menggambarkan dua pijakan kehidupan santri, yakni nilai keagamaan sebagai landasan moral dan kesadaran bernegara sebagai ruang pengabdian kepada bangsa.

Baca juga: Perkiraan Awal Ramadhan 2027, Jadwal Libur Lebaran, hingga Hari Pertama Masuk Kerja

Bagian bawah logo menjadi poros pondasi, sedangkan lingkaran cita di bagian atas menggambarkan pandangan masa depan dan ikhtiar bersama menuju Indonesia Emas 2045. Warna biru toska merepresentasikan keterbukaan, ketenangan, dan pembaruan, sementara warna keemasan berkaitan dengan cita-cita menuju Indonesia Emas.

Makna Logo Hari Santri 2026 PBNU

Berbeda dari konsep Kemenag yang menggunakan bentuk anyaman, logo PBNU menampilkan sejumlah elemen yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan pesantren, yakni akar, kitab terbuka, kubah, dan bintang.

Akar melambangkan tradisi dan sanad keilmuan yang kokoh. Kitab menggambarkan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual pesantren. Kubah merepresentasikan nilai spiritual dan kehidupan keagamaan, sedangkan bintang menjadi simbol cita-cita luhur yang menerangi perjalanan santri.

Gus Gudfan menjelaskan, akar mengingatkan santri tentang asal-usulnya, kitab menunjukkan bahwa santri tumbuh bersama ilmu, kubah menjadi landasan spiritual, sedangkan bintang menggambarkan cita-cita dan arah pengabdian.

Baca juga: Perkiraan Awal Ramadhan 2027, Jadwal Libur Lebaran, hingga Hari Pertama Masuk Kerja

Sama-sama Menempatkan Santri dalam Pengabdian Kebangsaan

Meski memiliki tema dan identitas visual yang berbeda, Kemenag dan PBNU sama-sama menempatkan santri dalam konteks pengabdian yang lebih luas daripada kehidupan pesantren.

Kemenag mengaitkannya dengan kontribusi santri, kemandirian pesantren, dan cita-cita menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara PBNU menekankan bahwa pengabdian tersebut perlu berangkat dari akar tradisi keilmuan, adab, sanad, dan nilai pesantren.

Itu artinya, dua tema Hari Santri 2026 tersebut sama-sama membawa pesan tentang peran santri bagi negeri, tetapi melalui penekanan yang berbeda.

Kemenag menyoroti arah kontribusi menuju masa depan, sedangkan PBNU menegaskan pentingnya akar tradisi sebagai pijakan dalam memperluas pengabdian dan menjaga keutuhan bangsa.

Baca juga: Mengapa Nabi Melarang Meniup Makanan dan Minuman? Ini Penjelasannya 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar