Editor
KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian membahas penguatan pemikiran Islam Wasathiyyah atau moderat serta nilai-nilai perdamaian global.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam kunjungan kehormatan delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).
Baca juga: LPPOM MUI Perkuat Kolaborasi di Bengkulu Jelang Wajib Halal Oktober 2026
Kunjungan delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian tersebut berlangsung di Aula Buya Hamka dan bertepatan dengan Simposium Ilmiah bertajuk Pembentukan Fatwa dan Fikih Realitas Menurut Al-Allamah Abdullah bin Bayyah.
Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar menilai penguatan pemikiran wasathiyyah serta keterlibatan tokoh agama semakin penting di tengah krisis global, konflik geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca juga: MUI Siapkan E-commerce untuk UMKM, Targetkan 1.000 Usaha saat Peluncuran
“Kedatangan beliau berdua dan rombongan ini akan memberikan satu pemahaman dan kerja sama tentang pentingnya Islam wasathiyyah, pemikiran tawassuth, serta perdamaian dunia. Keadaan dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja dan itu berbahaya bagi masa depan umat manusia,” ujar Kiai Anwar Iskandar.
Menurut Kiai Anwar, pembahasan mengenai perdamaian juga tidak terlepas dari perspektif Islam dalam melihat hubungan antarmanusia dan antarbangsa.
Wakil Rais Aam PBNU tersebut menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dan persaudaraan antarbangsa. Nilai tersebut, menurut dia, antara lain termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 dan Surah Al-Hujurat ayat 13.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Kediri, Jawa Timur itu mengatakan keragaman suku, bangsa, dan latar belakang merupakan sunnatullah yang seharusnya menjadi ruang untuk saling mengenal dan menghormati.
“Betapapun kita berbeda latar belakang, baik suku, bangsa, bahasa, bahkan agama, prinsip-prinsip universal kemanusiaan harus tetap kita jaga. Hari ini kita membangun kesepahaman antara dua bangsa dan sesama muslim agar dunia diterangi oleh kedamaian,” tegasnya.
Gagasan mengenai Islam wasathiyyah dan perdamaian tersebut juga mendapat perhatian dari Peneliti Senior Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian, Dr Muhammad Mahbub bin Bayyah.
Cucu ulama terkemuka Syekh Abdullah bin Bayyah itu mengapresiasi peran historis dan kepemimpinan MUI dalam membimbing umat melalui kearifan dan pandangan yang tajam.
Dr Mahbub juga menilai Indonesia sebagai model pionir dalam penerapan moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Dalam kesempatan tersebut, Dr Mahbub memaparkan pentingnya pendekatan fikih yang adaptif terhadap perubahan zaman untuk merespons berbagai gejolak, krisis, dan ekstremisme global.
Pendekatan tersebut, menurutnya, dapat dilakukan melalui penguatan fikih realitas (fiqh al-waqi’) serta ijtihad berbasis tujuan syariat (al-ijtihad al-maqashidi).
Menurut Dr Mahbub, pendekatan tersebut dapat menghadirkan solusi konkret yang moderat tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar agama.
“Kemitraan aktif kita hari ini merupakan penerjemahan nyata dari upaya bersama kita menuju penyampaian narasi Islam yang autentik, yang mampu menghadirkan solusi-solusi fikih realistis yang berkontribusi dalam menyebarkan perdamaian dunia, memadamkan api ekstremisme, melawan kedzaliman, dan menebarkan keadilan,” paparnya.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat komitmen tersebut secara berkelanjutan, Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian juga menjajaki penandatanganan nota kesepahaman atau MoU kemitraan strategis bersama MUI dalam waktu dekat.
Kehadiran delegasi Forum Abu Dhabi untuk Perdamaian dalam agenda tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai Islam wasathiyyah, fikih realitas, dan penguatan nilai perdamaian dalam menghadapi dinamika global.
Dalam acara tersebut, hadir Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh serta mantan Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Islam Dr Muhammad Sholahuddin Al-Mustawi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.