Editor
FAKFAK, KOMPAS.com — Siswa Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al-Hidayah Bomberay, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menjalani pembelajaran di tengah keterbatasan buku dan tenaga pengajar. Salah satu ruang kelas bahkan tidak memiliki papan tulis.
Kondisi tersebut ditemui Sarach Diba Hidayat, anggota tim mahasiswa dan alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) yang menjalankan asistensi mengajar di madrasah itu pada 19 Agustus hingga 14 November 2026.
Menurut Sarach, madrasah masih menggunakan Kurikulum 2013, tetapi guru dan siswa belum memiliki buku pegangan yang memadai. Di ruang tempatnya mengajar, papan tulis juga tidak tersedia.
Baca juga: Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Meski menghadapi keterbatasan, siswa tetap antusias mengikuti pembelajaran. Kehadiran tim pendamping memberi mereka kesempatan mempelajari materi yang sebelumnya jarang diajarkan.
“Kalau ada kakak-kakak, kami lebih sering belajar. Apa yang sebelumnya tidak pernah kami pelajari, sekarang bisa kami pelajari, seperti Bahasa Inggris dan informatika yang jarang sekali,” kata Putri, siswa kelas XII dalam rilis yang diterima Kompas.com, Minggu (4/10/2026).
Dalam salah satu pengamatannya, Sarach mendapati siswa sudah hadir dengan seragam rapi untuk mengikuti pelajaran yang dimulai pukul 07.30. Namun, sejumlah ruang kelas belum diisi guru.
Ketika tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 pada hari itu, Sarach hanya melihat dua guru hadir untuk menangani tiga kelas.
Sejumlah siswa kemudian harus pulang sekitar pukul 12.00 karena tidak ada lagi guru yang mengajar. Padahal, kegiatan belajar seharusnya berlangsung hingga pukul 14.00.
Menurut Sarach, semangat siswa tetap terlihat ketika ia masuk kelas dan mendampingi pembelajaran.
Siswa kelas XII, Ramlan, berharap mahasiswa dan alumni Unpad dapat lebih sering mengajar. Ia merasa pendampingan membantu dirinya memahami pelajaran.
“Saya berharap kakak-kakak dari Unpad lebih sering mengajar. Kalau kakak Unpad mengajar, kami jadi cepat paham, terutama Bahasa Inggris dan matematika,” ujar Ramlan.
Matematika, Bahasa Inggris, dan komputer menjadi mata pelajaran yang banyak disebut siswa ketika ditanya mengenai kebutuhan pembelajaran lanjutan.
Baca juga: Cara Mengunduh 90 Buku PAI dan Bahasa Arab Gratis untuk Siswa Madrasah
Madrasah tersebut memiliki laboratorium komputer. Namun, menurut Sarach, pemanfaatannya terkendala keterbatasan listrik dan tidak adanya guru yang mengajarkan pengoperasian komputer.
Sekolah menggunakan genset yang hanya dinyalakan ketika diperlukan. Kondisi ini membatasi kesempatan siswa menggunakan komputer untuk belajar.
Dalam pendampingan, tim Unpad mengenalkan keterampilan dasar, termasuk cara menyalakan laptop. Sarach mengatakan, siswa senang ketika mendapat kesempatan melihat dan mencoba mengoperasikan laptop.
Kepala MAS Al-Hidayah Bomberay, Darmiati, menyampaikan bahwa kemampuan siswa mulai berkembang setelah mendapatkan pendampingan.
“Sebelum diajar mahasiswa, masih banyak siswa yang belum mengetahui pengoperasian komputer. Setelah diajarkan, sebagian besar sudah paham. Untuk Bahasa Inggris, siswa sudah mulai bisa reading, writing, dan speaking, tetapi masih tahap awal,” kata Darmiati.
Kondisi buku pegangan guru dan siswa di MAS Al-Hidayah Bomberay, Fakfak, Papua Barat yang terbatas. Selain sarana pembelajaran, kondisi bangunan sekolah juga membutuhkan perhatian.
Menurut pengamatan Sarach, sejumlah bagian plafon dan atap mengalami kerusakan. Ia mengkhawatirkan bagian yang rusak dapat runtuh saat kegiatan belajar berlangsung.
Ketersediaan air bersih turut menjadi persoalan, terutama pada musim kemarau.
Pihak madrasah menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak meliputi buku pegangan siswa dan guru untuk seluruh mata pelajaran, peralatan olahraga, serta alat peraga.
Asistensi mengajar di MAS Al-Hidayah Bomberay merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Prof Atwar Bajari.
Program tersebut menjadi tindak lanjut permohonan madrasah kepada Unpad untuk mendukung pembelajaran melalui asistensi mengajar, bimbingan belajar, dan pengayaan materi.
Lima mahasiswa dan alumni yang terlibat ialah Sarach Diba Hidayat, Raja Bani Yudanegara, Adista Nurfadilla, Denis Setia Prismayana, serta Miryam Elizabeth Rambe.
Mereka mendampingi siswa kelas X hingga XII sesuai bidang masing-masing.
Selain mengajar di kelas, tim menyiapkan modul ajar dan melakukan tes awal serta tes akhir untuk melihat perkembangan pengetahuan siswa.
Khusus kelas XII, pendampingan juga mencakup latihan soal dan berbagi pengalaman mengenai kehidupan setelah sekolah.
Program yang dijadwalkan berlangsung hingga 14 November 2026 itu diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pembelajaran yang telah diidentifikasi bersama pihak madrasah.
Hasil pendampingan juga akan menjadi bahan evaluasi untuk tindak lanjut sesuai kebutuhan sekolah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.