Editor
KOMPAS.com — Bercanda dapat mencairkan suasana dan mempererat hubungan. Namun, candaan perlu dijaga agar tidak berubah menjadi kebohongan, penghinaan, atau perkataan yang menyakiti orang lain.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pringsewu, Lampung, H Muhammad Faizin, menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya tertawa dan bergembira. Rasulullah juga memberikan teladan bercanda dengan tetap menjaga kejujuran dan adab.
“Saat kita ingin bercanda, kita juga harus mempertimbangkan jangan sampai candaan tersebut berubah menjadi penghinaan,” kata Faizin dikutip dari NU Online, Minggu (4/10/2026).
Baca juga: Hukum April Mop dalam Islam: Bolehkah Bercanda dengan Kebohongan?
Menurutnya, ungkapan “saya hanya bercanda” tidak cukup untuk membenarkan perkataan yang menyakitkan. Seseorang perlu mempertimbangkan isi candaan sekaligus dampaknya terhadap orang lain.
“Ukuran baik dan buruknya sebuah candaan bukan hanya terletak pada niat orang yang mengucapkannya, tetapi juga harus mempertimbangkan isi perkataan dan dampaknya kepada orang lain,” ujarnya.
Faizin menjelaskan, candaan dapat menjadi cara untuk menghilangkan ketegangan dan membuat komunikasi lebih akrab. Namun, keinginan menghibur tidak boleh menjadi alasan untuk berbohong.
Ia mencontohkan riwayat ketika seseorang meminta Rasulullah membantunya mendapatkan tunggangan unta. Rasulullah mengatakan akan menaikkannya ke atas “anak unta”.
Orang tersebut khawatir anak unta tidak mampu membawanya. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa setiap unta merupakan anak dari seekor unta.
Menurut Faizin, kisah itu menunjukkan bahwa humor dapat disampaikan tanpa meninggalkan kebenaran.
Ia juga mengutip peringatan Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Hakim, mengenai orang yang berbohong untuk membuat orang lain tertawa.
Baca juga: Bolehkah Tertawa Terbahak-bahak dalam Islam? Ini Penjelasan dan Hadisnya
Faizin mengingatkan agar candaan tidak menjadikan fisik, kekurangan, keluarga, pekerjaan, status sosial, maupun aib seseorang sebagai bahan tertawaan.
“Apa yang menurut kita lucu belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Bisa jadi orang lain tertawa di hadapan kita, tetapi sebenarnya menyimpan luka di dalam hatinya,” katanya.
Ia merujuk Surat Al-Hujurat ayat 11 yang melarang suatu kaum mengolok-olok kaum lain.
Ayat tersebut mengingatkan bahwa orang yang diperolok bisa jadi lebih baik daripada orang yang mengoloknya.
Karena itu, menurut Faizin, respons berupa tawa tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran bahwa candaan dapat diterima.
Seseorang juga perlu memikirkan apakah ucapannya membuat orang lain bahagia atau justru terluka.
Selain menjaga isi perkataan, Faizin menekankan pentingnya memahami situasi sebelum bercanda.
“Tidak semua keadaan cocok untuk dijadikan bahan candaan. Bahan candaan untuk seseorang tidak mesti cocok untuk orang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada waktu untuk tertawa bersama keluarga dan sahabat. Namun, seseorang perlu menunjukkan empati ketika orang lain sedang berduka, menghormati orang yang sedang berbicara, serta bersikap serius saat menghadapi persoalan penting.
Bercanda juga perlu dilakukan secukupnya. Faizin mengutip hadis riwayat At-Tirmidzi yang mengingatkan agar tidak berlebihan dalam tertawa karena dapat mematikan hati.
Menurutnya, kehidupan membutuhkan keseimbangan antara bergembira dan menjalankan tanggung jawab, termasuk belajar, bekerja, beribadah, serta melakukan introspeksi diri.
Faizin turut mengingatkan bahwa candaan dalam bentuk tulisan di media sosial berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Berbeda dengan percakapan langsung yang mungkin hanya didengar beberapa orang, unggahan di media sosial dapat dilihat, disimpan, dan disebarkan oleh banyak orang.
“Karena itu, kehati-hatian dalam bercanda di ruang digital menjadi semakin penting,” katanya.
Faizin menekankan bahwa Islam mengajarkan kebahagiaan yang tetap dibingkai dengan akhlak baik. Humor dapat mendekatkan hubungan dan menghilangkan ketegangan selama disampaikan dengan menjaga perasaan orang lain.
“Senyum adalah kebaikan, bercanda dapat menjadi sarana mendekatkan hati, dan humor dapat menjadi jalan untuk menghilangkan ketegangan. Tetapi semuanya harus ada batasnya,” ujarnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.