Editor
KOMPAS.com — Harapan mendapatkan pekerjaan, melanjutkan pendidikan, atau memperbaiki kehidupan tidak selalu terwujud sesuai rencana.
Rasa sedih dan kecewa ketika menghadapi keadaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, alumnus Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan, sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Nurul Huda, Pakong, Modung, Bangkalan, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW juga pernah mengalami kesedihan ketika harapan dalam dakwahnya belum tercapai.
“Ketika harapan tidak tercapai, rasa sedih dan kecewa adalah hal yang manusiawi,” jelas Syifaul dikutip dari NU Online, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, pengalaman Rasulullah memberikan pelajaran untuk mengakui kesedihan sekaligus menjaga diri agar tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Baca juga: Tidak Lolos SNBP 2026, Ini Doa yang Bisa Dibaca untuk Menenangkan Hati yang Sedih dan Kecewa
Syifaul merujuk Surat Asy-Syu’ara ayat 3 yang menggambarkan beratnya kesedihan Rasulullah ketika orang-orang yang didakwahinya tidak beriman.
Allah SWT berfirman:
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Artinya, “Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka tidak beriman.” (QS Asy-Syu’ara [26]: 3).
Dalam Tafsirul Baghawi, jilid VI, halaman 106, Imam al-Baghawi menjelaskan bahwa Rasulullah sangat mengharapkan keimanan penduduk Makkah. Namun, penolakan dan pendustaan terhadap dakwahnya membuat beliau bersedih.
Syifaul mengatakan, kisah tersebut memperlihatkan sisi manusiawi Rasulullah. Kesungguhan memperjuangkan kebaikan tidak membuat beliau terlepas dari rasa kecewa ketika menghadapi penolakan.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Syifaul juga mengutip penafsiran Syekh Nawawi Banten dalam Marah Labid, jilid II, halaman 142–143.
Menurut penjelasan tersebut, ayat itu merupakan pengingat agar Rasulullah tidak membebani dirinya dengan kesedihan berlebihan akibat keengganan kaumnya menerima dakwah.
Pesan serupa dijelaskan Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsirul Munir, jilid X, halaman 136.
Rasulullah diingatkan agar tidak berlebihan dalam kesedihan karena penolakan terhadap risalah yang disampaikannya.
Menurut Syifaul, pelajaran yang dapat diambil adalah membedakan kesungguhan dalam berusaha dengan kemampuan menentukan hasil. Manusia dapat menjalankan ikhtiar, tetapi tidak seluruh keadaan berada dalam kendalinya.
“Di sini kita belajar bahwa bersedih karena harapan belum tercapai sah-sah saja,” ujarnya.
Syifaul menjelaskan bahwa ketika usaha sudah dilakukan secara maksimal, tetapi hasilnya belum sesuai harapan, seseorang tetap dapat mencari pelajaran dari pengalaman tersebut.
Kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi langkah, memperbaiki cara, atau mengenali kemungkinan lain yang sebelumnya belum terlihat.
Menurutnya, kesedihan tidak perlu menjadi akhir dari perjuangan. Seseorang dapat kembali mengarahkan waktu dan tenaganya untuk hal yang bermanfaat, termasuk mencoba mewujudkan harapan dengan langkah baru.
“Sebaliknya, yang paling baik adalah menjadikan kesedihan itu sebagai energi positif baru. Energi yang menjadi semangat baru dalam mewujudkan impian yang belum tercapai,” kata Syifaul.
Dengan demikian, menerima kenyataan dapat berjalan bersama ikhtiar. Harapan yang belum terwujud menjadi bagian dari perjalanan yang perlu dihadapi tanpa kehilangan kesempatan untuk melangkah kembali.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.