Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Salman Al-Farisi, Sahabat Nabi yang Gigih Mencari Kebenaran

Kompas.com, 7 Oktober 2026, 19:03 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Salman Al-Farisi merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia. Sebelum bertemu Rasulullah SAW, Salman menjalani perjalanan panjang untuk mencari agama yang diyakininya benar. Perjalanan tersebut membawanya meninggalkan tanah kelahiran hingga akhirnya sampai di Madinah dan memeluk Islam.

Kisah Salman tercatat dalam kitab biografi sahabat, di antaranya Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan At-Ṭabaqāt Al-Kubrā karya Ibnu Sa'd. Riwayat-riwayat tersebut menggambarkan perjalanan Salman melalui beberapa tempat dan keadaan sebelum akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW.

Salman Al-Farisi Berasal dari Persia

Dalam sejumlah riwayat yang dihimpun Ibnu Sa'd, terdapat perbedaan keterangan mengenai tempat asal Salman. Salah satu riwayat menyebut Salman berasal dari Ram Hurmuz, sementara keterangan lain menghubungkannya dengan wilayah Jay di Isfahan.

Baca juga: Cari Rezeki dalam Islam, Tak Cukup Hanya yang Halal

Riwayat yang lebih tegas mengenai asal Salman juga terdapat dalam Sahih Al-Bukhari. Salman sendiri mengatakan:

أَنَا مِنْ رَامَ هُرْمُزَ

Anā min Rāma Hurmuz.

Artinya: “Aku berasal dari Ram Hurmuz.” (Sahih Al-Bukhari Nomor 3947).

Keterangan ini menjadi salah satu dasar untuk menyebut Salman sebagai sahabat Nabi yang berasal dari Persia.

Salman Gigih Mencari Agama yang Benar

Menurut riwayat panjang tentang kehidupan Salman yang dihimpun dalam At-Ṭabaqāt Al-Kubrā dan Al-Iṣābah, Salman tumbuh dalam lingkungan agama Majusi. Ia kemudian tertarik kepada agama Nasrani setelah melihat praktik ibadah yang dilakukan oleh para penganutnya.

Ketertarikan tersebut mendorong Salman meninggalkan lingkungan sebelumnya dan mencari orang yang dapat membimbingnya. Ia kemudian berpindah dari satu guru agama ke guru lainnya. Perjalanan itu berlangsung hingga Salman mendapatkan petunjuk mengenai seorang nabi yang akan muncul di wilayah Arab.

Baca juga: Kisah Fransisca, Apoteker Katolik Lulusan UM Bandung dengan IPK 3,96

Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa Salman tidak berhenti pada satu pencarian. Ia terus berpindah dan belajar ketika merasa ajaran yang ditemuinya belum membawa dirinya kepada tujuan yang dicari.

Perjalanan Salman Membawanya ke Madinah

Pencarian Salman kemudian membawanya ke wilayah Arab. Dalam perjalanan tersebut, ia mengalami keadaan yang membuat dirinya menjadi seorang budak. Salman kemudian berpindah dari satu majikan kepada majikan lainnya.

Sahih Al-Bukhari mencatat bahwa Salman pernah berpindah dari satu majikan ke majikan lainnya lebih dari sepuluh kali. Dalam riwayat tersebut disebutkan:

تَدَاوَلَهُ بِضْعَةَ عَشَرَ مِنْ رَبٍّ إِلَى رَبٍّ

Tadāwalahu biḍ‘ata ‘asyara min rabbin ilā rabb.

Artinya: “Ia berpindah dari satu majikan ke majikan lainnya lebih dari sepuluh kali.” (Sahih Al-Bukhari Nomor 3946).

Riwayat ini menggambarkan salah satu bagian sulit dalam perjalanan hidup Salman sebelum akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW.

Setelah berada di Madinah, Salman mengetahui kedatangan Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian bertemu Rasulullah SAW dan memeluk Islam. Peristiwa tersebut menjadi titik penting setelah perjalanan panjang yang ditempuhnya untuk mencari kebenaran.

Baca juga: Muhammadiyah: Cegah Korupsi Sejak Dini Dimulai dengan Rizki yang Halal

Salman Berusaha Memperoleh Kemerdekaan

Setelah masuk Islam, Salman masih berstatus sebagai seorang budak. Dalam riwayat yang dihimpun Ibnu Hajar, Salman melakukan mukatabah dengan majikannya untuk memperoleh kemerdekaan.

Mukatabah merupakan perjanjian antara budak dan majikannya agar budak tersebut dapat memperoleh kemerdekaan dengan memenuhi pembayaran yang disepakati. Nabi Muhammad SAW kemudian membantu Salman dalam proses tersebut bersama kaum Muslimin.

Dengan kemerdekaan itu, Salman tidak lagi terikat dengan status perbudakan dan dapat menjalani kehidupannya sebagai seorang Muslim yang merdeka. Kisah ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Salman setelah menemukan Islam.

Nabi Muhammad SAW Memuji Kaum Salman

Kedudukan Salman juga tampak dalam sebuah hadis ketika Nabi Muhammad SAW menjelaskan ayat tentang orang-orang yang belum bergabung dengan umat Islam. Saat itu Salman berada di antara para sahabat.

Baca juga: Kemenag Libatkan KUA untuk Sosialisasi Wajib Halal 18 Oktober 2026

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ كَانَ الإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ ـ أَوْ رَجُلٌ ـ مِنْ هَؤُلاَءِ

Lau kānal-īmānu ‘indats-tsurayyā lanālahu rijālun au rajulun min hā’ulā’i.

Artinya: “Seandainya iman berada di dekat bintang Tsurayya, niscaya akan diraihnya oleh orang-orang atau seseorang dari mereka.” (Sahih Al-Bukhari Nomor 4897).

Hadis tersebut disampaikan ketika Salman berada bersama Nabi Muhammad SAW. Riwayat ini menunjukkan bahwa kedudukan seseorang dalam keimanan tidak ditentukan oleh asal bangsa atau tempat kelahirannya.

Salman Al-Farisi Wafat di Al-Mada'in

Salman kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang memiliki kedudukan penting di kalangan kaum Muslimin. Ia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Ibnu Sa'd meriwayatkan bahwa Salman wafat di Al-Mada'in pada masa kekhalifahan Utsman. Ibnu Hajar juga mencatat sejumlah pendapat mengenai tahun wafatnya dan menyebut 35 Hijriah sebagai salah satu pendapat yang lebih kuat.

Baca juga: Apa Itu Dakwah Ekonomi dalam Islam? Ini Konsep dan Contohnya

Kisah Salman Al-Farisi menunjukkan bahwa perjalanan mencari kebenaran dapat berlangsung panjang dan menghadirkan berbagai ujian. Ia meninggalkan lingkungan yang dikenalnya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengalami perbudakan, hingga akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW dan memeluk Islam.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar