KOMPAS.com - Salman Al-Farisi merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia. Sebelum bertemu Rasulullah SAW, Salman menjalani perjalanan panjang untuk mencari agama yang diyakininya benar. Perjalanan tersebut membawanya meninggalkan tanah kelahiran hingga akhirnya sampai di Madinah dan memeluk Islam.
Kisah Salman tercatat dalam kitab biografi sahabat, di antaranya Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan At-Ṭabaqāt Al-Kubrā karya Ibnu Sa'd. Riwayat-riwayat tersebut menggambarkan perjalanan Salman melalui beberapa tempat dan keadaan sebelum akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW.
Dalam sejumlah riwayat yang dihimpun Ibnu Sa'd, terdapat perbedaan keterangan mengenai tempat asal Salman. Salah satu riwayat menyebut Salman berasal dari Ram Hurmuz, sementara keterangan lain menghubungkannya dengan wilayah Jay di Isfahan.
Baca juga: Cari Rezeki dalam Islam, Tak Cukup Hanya yang Halal
Riwayat yang lebih tegas mengenai asal Salman juga terdapat dalam Sahih Al-Bukhari. Salman sendiri mengatakan:
أَنَا مِنْ رَامَ هُرْمُزَ
Anā min Rāma Hurmuz.
Artinya: “Aku berasal dari Ram Hurmuz.” (Sahih Al-Bukhari Nomor 3947).
Keterangan ini menjadi salah satu dasar untuk menyebut Salman sebagai sahabat Nabi yang berasal dari Persia.
Menurut riwayat panjang tentang kehidupan Salman yang dihimpun dalam At-Ṭabaqāt Al-Kubrā dan Al-Iṣābah, Salman tumbuh dalam lingkungan agama Majusi. Ia kemudian tertarik kepada agama Nasrani setelah melihat praktik ibadah yang dilakukan oleh para penganutnya.
Ketertarikan tersebut mendorong Salman meninggalkan lingkungan sebelumnya dan mencari orang yang dapat membimbingnya. Ia kemudian berpindah dari satu guru agama ke guru lainnya. Perjalanan itu berlangsung hingga Salman mendapatkan petunjuk mengenai seorang nabi yang akan muncul di wilayah Arab.
Baca juga: Kisah Fransisca, Apoteker Katolik Lulusan UM Bandung dengan IPK 3,96
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa Salman tidak berhenti pada satu pencarian. Ia terus berpindah dan belajar ketika merasa ajaran yang ditemuinya belum membawa dirinya kepada tujuan yang dicari.
Pencarian Salman kemudian membawanya ke wilayah Arab. Dalam perjalanan tersebut, ia mengalami keadaan yang membuat dirinya menjadi seorang budak. Salman kemudian berpindah dari satu majikan kepada majikan lainnya.
Sahih Al-Bukhari mencatat bahwa Salman pernah berpindah dari satu majikan ke majikan lainnya lebih dari sepuluh kali. Dalam riwayat tersebut disebutkan:
تَدَاوَلَهُ بِضْعَةَ عَشَرَ مِنْ رَبٍّ إِلَى رَبٍّ
Tadāwalahu biḍ‘ata ‘asyara min rabbin ilā rabb.
Artinya: “Ia berpindah dari satu majikan ke majikan lainnya lebih dari sepuluh kali.” (Sahih Al-Bukhari Nomor 3946).
Riwayat ini menggambarkan salah satu bagian sulit dalam perjalanan hidup Salman sebelum akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW.
Setelah berada di Madinah, Salman mengetahui kedatangan Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian bertemu Rasulullah SAW dan memeluk Islam. Peristiwa tersebut menjadi titik penting setelah perjalanan panjang yang ditempuhnya untuk mencari kebenaran.
Baca juga: Muhammadiyah: Cegah Korupsi Sejak Dini Dimulai dengan Rizki yang Halal
Setelah masuk Islam, Salman masih berstatus sebagai seorang budak. Dalam riwayat yang dihimpun Ibnu Hajar, Salman melakukan mukatabah dengan majikannya untuk memperoleh kemerdekaan.
Mukatabah merupakan perjanjian antara budak dan majikannya agar budak tersebut dapat memperoleh kemerdekaan dengan memenuhi pembayaran yang disepakati. Nabi Muhammad SAW kemudian membantu Salman dalam proses tersebut bersama kaum Muslimin.
Dengan kemerdekaan itu, Salman tidak lagi terikat dengan status perbudakan dan dapat menjalani kehidupannya sebagai seorang Muslim yang merdeka. Kisah ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Salman setelah menemukan Islam.
Kedudukan Salman juga tampak dalam sebuah hadis ketika Nabi Muhammad SAW menjelaskan ayat tentang orang-orang yang belum bergabung dengan umat Islam. Saat itu Salman berada di antara para sahabat.
Baca juga: Kemenag Libatkan KUA untuk Sosialisasi Wajib Halal 18 Oktober 2026
Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ كَانَ الإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ ـ أَوْ رَجُلٌ ـ مِنْ هَؤُلاَءِ
Lau kānal-īmānu ‘indats-tsurayyā lanālahu rijālun au rajulun min hā’ulā’i.
Artinya: “Seandainya iman berada di dekat bintang Tsurayya, niscaya akan diraihnya oleh orang-orang atau seseorang dari mereka.” (Sahih Al-Bukhari Nomor 4897).
Hadis tersebut disampaikan ketika Salman berada bersama Nabi Muhammad SAW. Riwayat ini menunjukkan bahwa kedudukan seseorang dalam keimanan tidak ditentukan oleh asal bangsa atau tempat kelahirannya.
Salman kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang memiliki kedudukan penting di kalangan kaum Muslimin. Ia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
Ibnu Sa'd meriwayatkan bahwa Salman wafat di Al-Mada'in pada masa kekhalifahan Utsman. Ibnu Hajar juga mencatat sejumlah pendapat mengenai tahun wafatnya dan menyebut 35 Hijriah sebagai salah satu pendapat yang lebih kuat.
Baca juga: Apa Itu Dakwah Ekonomi dalam Islam? Ini Konsep dan Contohnya
Kisah Salman Al-Farisi menunjukkan bahwa perjalanan mencari kebenaran dapat berlangsung panjang dan menghadirkan berbagai ujian. Ia meninggalkan lingkungan yang dikenalnya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengalami perbudakan, hingga akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW dan memeluk Islam.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.