Editor
KOMPAS.com — Kekayaan yang terlihat pada seseorang tidak serta-merta menunjukkan keberkahan atau menjadi tanda bahwa perbuatannya diridhai Allah SWT.
Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, Ustadz Bushiri, menjelaskan bahwa kenikmatan dunia yang disertai kemaksiatan dapat menjadi istidraj, yakni keadaan ketika seseorang terlena oleh nikmat hingga semakin jauh dari ketaatan.
Menurut Bushiri, ukuran rezeki tidak cukup dilihat dari jumlah harta. Keberkahan, ketenangan batin, serta cara memperoleh dan menggunakan harta juga perlu diperhatikan.
Baca juga: Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami atau Istri?
Penjelasan tersebut berkaitan dengan pertanyaan mengapa sebagian orang yang melakukan maksiat, termasuk zina, tetap terlihat hidup berkecukupan.
Bushiri menerangkan, kondisi itu tidak dapat dijadikan pembenaran bahwa perbuatan yang dilarang agama mendatangkan keberuntungan.
Bushiri menjelaskan bahwa Islam menjaga kehormatan dan martabat manusia, termasuk melalui larangan zina.
Larangan tersebut tercantum dalam Surah Al-Isra ayat 32. Allah SWT tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga melarang mendekatinya.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Artinya, “Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.” (QS Al-Isra: 32).
Dalam penjelasannya, Bushiri merujuk uraian Imam Abdurrauf al-Munawi dalam kitab At-Taysir bi Syarhil Jami’ish Shaghir mengenai hubungan kemaksiatan dengan hilangnya keberkahan.
Al-Munawi menjelaskan bahwa kekayaan merupakan karunia Allah yang diperoleh melalui jalan yang halal. Uraian tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak mengorbankan ketaatan demi kesenangan yang dilarang agama.
Baca juga: Jenis-jenis Zina dalam Islam yang Harus Diketahui Setiap Muslim
Untuk menjelaskan istidraj, Bushiri merujuk hadis riwayat Ahmad berikut:
إِذَا رَأَيْتَ اللّٰهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
Artinya, “Jika kamu melihat Allah memberikan kemewahan dunia kepada hamba-Nya yang suka bermaksiat, maka itulah yang disebut istidraj.”
Bushiri juga mengutip penjelasan Mulla Ali al-Qari dalam kitab Mirqatul Mafatih. Dalam uraian tersebut, istidraj digambarkan sebagai keadaan ketika nikmat terus berdatangan, tetapi penerimanya justru semakin tenggelam dalam kemaksiatan.
Seseorang dapat menyangka bahwa kenikmatan itu merupakan tanda kedekatan dengan Allah. Padahal, kesenangan tersebut membuatnya semakin sombong, merasa aman dengan perbuatannya, dan menjauh dari tobat.
Karena itu, pembahasan mengenai istidraj menjadi pengingat untuk memeriksa pengaruh nikmat terhadap diri sendiri: apakah mendorong rasa syukur dan ketaatan atau justru menambah kelalaian.
Dikutip dari NU Online, Bushiri mengingatkan agar kemewahan yang diperoleh melalui cara yang bertentangan dengan ajaran agama tidak menjadi alasan untuk merasa iri atau mengabaikan batas halal dan haram.
Menurutnya, rezeki yang bernilai tidak berhenti pada nominal uang atau fasilitas yang dimiliki, tetapi juga mencakup ketenangan hidup dan keberkahan.
Ia mengajak umat Islam memilih jalan yang halal serta menjaga ketaatan, berapa pun penghasilan yang diperoleh.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.