Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Hanya Madrasah, 2.380 Siswa Sekolah Umum Ikuti OMI Sains 2026

Kompas.com, 8 Oktober 2026, 08:01 WIB
Reni Susanti

Editor


JAKARTA, KOMPAS.com — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Bidang Sains Tingkat Provinsi 2026 tidak hanya diikuti siswa madrasah. Sebanyak 2.380 siswa sekolah umum turut berkompetisi dalam ajang yang berlangsung pada 5–6 Oktober 2026 tersebut.

Jumlah siswa sekolah umum mencapai 15,26 persen dari total 15.599 peserta. Mereka berasal dari sekolah negeri maupun swasta dalam pembinaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“OMI kita desain bukan sebagai ruang yang eksklusif untuk madrasah. Anak-anak dari sekolah umum juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya,” kata Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Nyayu Khodijah dalam rilisnya, Kamis (8/10/2026).

Baca juga: Di Madrasah Fakfak, Buku dan Listrik Terbatas, Ada Kelas Tanpa Papan Tulis

Adapun peserta dari madrasah berjumlah 13.219 orang atau 84,74 persen. Seluruh peserta memperebutkan 484 tiket untuk melaju ke OMI tingkat nasional.

Ruang kompetisi bersama

Menurut Nyayu, keterlibatan peserta dari berbagai satuan pendidikan memperkaya kompetisi sekaligus membuka kesempatan bagi madrasah dan sekolah umum untuk saling belajar.

Keberagaman peserta juga membantu pemerintah memperoleh gambaran lebih luas mengenai potensi talenta sains di berbagai daerah.

“Yang kita cari bukan sekadar jumlah peserta, tetapi kualitas talenta. Dari kompetisi ini kita ingin melihat potensi anak-anak dari berbagai jenjang dan wilayah untuk kemudian dikembangkan,” ujarnya.

Baca juga: 3,97 Juta Anak Terindikasi Tak Sekolah, Kemenag Integrasikan Data Madrasah

Berdasarkan jenjang pendidikan, peserta terbanyak berasal dari MA/SMA/SMK, yakni 8.361 orang atau sekitar 53,6 persen.

Berikutnya, sebanyak 4.345 peserta atau 27,9 persen berasal dari MTs/SMP. Sementara itu, peserta MI/SD berjumlah 2.893 orang atau 18,5 persen.

Tidak berhenti pada pencarian juara

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, mengatakan OMI perlu menjadi ruang untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan peserta didik.

“OMI bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menemukan talenta-talenta terbaik, memetakan potensinya, kemudian memastikan mereka mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan,” kata Amien. 

Menurutnya, kompetisi sains juga berperan dalam membangun budaya akademik sejak pendidikan dasar dan menengah.

Kemampuan berpikir kritis, ketekunan, kreativitas, dan integritas perlu dikembangkan bersama pencapaian akademik.

“Anak-anak kita jangan hanya disiapkan untuk memenangkan kompetisi. Mereka harus disiapkan menjadi generasi yang mampu menjawab persoalan bangsa melalui ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ujian berlangsung di 497 lokasi

OMI Sains tingkat provinsi dilaksanakan menggunakan sistem ujian berbasis komputer atau Computer-Based Test (CBT) di 497 titik lokasi.

Pelaksanaan ujian didukung 744 ruang fisik yang digunakan dalam 1.888 sesi selama dua hari.

Pada hari pertama, peserta jenjang MI/SD dan MTs/SMP mengikuti ujian. Sebanyak 7.190 dari 7.238 peserta terdaftar menyelesaikannya, dengan tingkat partisipasi 99,34 persen.

Hari kedua diperuntukkan bagi jenjang MA/SMA/SMK. Sebanyak 8.295 dari 8.361 peserta menyelesaikan ujian, atau 99,21 persen.

Secara keseluruhan, sebanyak 15.485 peserta atau 99,27 persen menyelesaikan ujian. Adapun 114 peserta atau 0,73 persen tercatat tidak mengikuti ujian.

Talenta membutuhkan pembinaan lanjutan

Kasubdit Kesiswaan sekaligus Ketua Panitia OMI Nasional, Solla Taufiq, mengatakan hasil kompetisi tingkat provinsi digunakan untuk menentukan peserta yang lolos ke tingkat nasional.

Ia menekankan bahwa pengembangan kemampuan peserta tidak boleh berhenti setelah kompetisi berakhir.

“Kompetisi adalah pintu masuk. Setelah kita menemukan talenta, pekerjaan berikutnya adalah membina mereka. Jangan sampai anak yang sudah teridentifikasi potensinya berhenti setelah menerima medali atau sertifikat,” kata Solla.

Menurutnya, pengembangan OMI diarahkan untuk mendukung Manajemen Talenta Nasional (MTN). Peserta potensial perlu memperoleh pembinaan yang lebih terstruktur dari tingkat provinsi hingga nasional.

OMI sebelumnya dikenal sebagai Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Sejak 2025, ajang tersebut dikembangkan menjadi Olimpiade Madrasah Indonesia yang mencakup bidang sains dan riset.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
MUI Dorong Pendataan Manuskrip Kuno Pesantren untuk Selamatkan Warisan Intelektual Islam Nusantara
MUI Dorong Pendataan Manuskrip Kuno Pesantren untuk Selamatkan Warisan Intelektual Islam Nusantara
Aktual
BPKH Siapkan Rp8,83 Triliun Nilai Manfaat untuk Haji 2027
BPKH Siapkan Rp8,83 Triliun Nilai Manfaat untuk Haji 2027
Aktual
Lulusan Pesantren Bisa Berkarier di Len, Ini Kompetensi yang Dibutuhkan
Lulusan Pesantren Bisa Berkarier di Len, Ini Kompetensi yang Dibutuhkan
Aktual
Doa Meminta Hujan dari Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Meminta Hujan dari Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Angelina Jolie Soroti Kehancuran Gaza, Serukan Bantuan Hunian Sebelum Musim Dingin
Angelina Jolie Soroti Kehancuran Gaza, Serukan Bantuan Hunian Sebelum Musim Dingin
Aktual
Biaya Haji 2027 Turun Rp 3,18 Juta, DPR: Kabar Baik bagi Jemaah di Tengah Ketidakpastian Global
Biaya Haji 2027 Turun Rp 3,18 Juta, DPR: Kabar Baik bagi Jemaah di Tengah Ketidakpastian Global
Aktual
Tak Hanya Madrasah, 2.380 Siswa Sekolah Umum Ikuti OMI Sains 2026
Tak Hanya Madrasah, 2.380 Siswa Sekolah Umum Ikuti OMI Sains 2026
Aktual
Cara Cek Porsi Haji, Estimasi Keberangkatan, dan Amalan Selama Masa Tunggu
Cara Cek Porsi Haji, Estimasi Keberangkatan, dan Amalan Selama Masa Tunggu
Aktual
Berapa Biaya Haji 2027 Reguler Per Orang? Ini Rinciannya
Berapa Biaya Haji 2027 Reguler Per Orang? Ini Rinciannya
Aktual
Biaya Haji 2027 Terbaru: BPIH Rp 98,4 Juta, Pelunasan Jemaah Rp 23 Juta
Biaya Haji 2027 Terbaru: BPIH Rp 98,4 Juta, Pelunasan Jemaah Rp 23 Juta
Aktual
Zina dan Keberkahan Rezeki, Jangan Terkecoh Harta Melimpah
Zina dan Keberkahan Rezeki, Jangan Terkecoh Harta Melimpah
Aktual
DPR Minta Efisiensi Biaya Haji 2027 Tak Kurangi Kualitas Pelayanan Jemaah
DPR Minta Efisiensi Biaya Haji 2027 Tak Kurangi Kualitas Pelayanan Jemaah
Aktual
DPR Apresiasi Subsidi Rp 3,18 Juta per Jemaah, Pelunasan Haji 2027 Jadi Lebih Ringan
DPR Apresiasi Subsidi Rp 3,18 Juta per Jemaah, Pelunasan Haji 2027 Jadi Lebih Ringan
Aktual
Surah Maryam Lengkap 98 Ayat: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir
Surah Maryam Lengkap 98 Ayat: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir
Doa dan Niat
Ada Bantuan Pemerintah Rp 3,2 Juta per Jemaah, Pelunasan Haji 2027 Jadi Rp 23 Juta
Ada Bantuan Pemerintah Rp 3,2 Juta per Jemaah, Pelunasan Haji 2027 Jadi Rp 23 Juta
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar