Editor
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الّذِيْ جَعَلَ الْأَمْوَالَ وَالْبَنِيْنَ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا،وَأَمَرَنَا بِتَرْبِيَتِهِمْ عَلٰى مَنْهَجِ الْإِسْلَامِ وَالتَّقْوَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الْعُظْمَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى،وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَاوَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الْخُلُقِ الْأَسْمَى، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَعْلَامِ الْهُدَى.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ،اِتَّقُوا اللّٰهَحَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مَسْؤُولُونَ عَنْ رَعَايَاكُمْ يَوْمَ اللِّقَاءِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فَيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ)، وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ).
صَدَقَ اللّٰهُ الْعَطِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Semoga ketakwaan tersebut menjadi jalan bagi kita untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Semoga tercurah pula kepada keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Anak adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT titipkan kepada kita. Namun, di balik kebahagiaan memiliki anak, terdapat amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua.
Baca juga: Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Jangan Meremehkan Dosa Kecil, Ini Bahayanya
Anak tidak cukup hanya diberi makan, pakaian, pendidikan formal, dan fasilitas. Mereka juga membutuhkan bimbingan agar tumbuh di atas iman, akhlak, dan jalan kehidupan yang benar.
Sebab, apa yang ditanamkan kepada anak sejak kecil akan sangat memengaruhi perjalanan hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian dan kehidupan seorang anak.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah kehidupan modern, kita terkadang masih menemukan pandangan bahwa urusan mengasuh anak, menemani mereka bermain, mendampingi belajar, dan membentuk karakter adalah tanggung jawab utama seorang ibu.
Sementara ayah lebih sering ditempatkan hanya sebagai pencari nafkah.
Padahal, Islam tidak mengajarkan pembagian peran yang membuat seorang ayah jauh dari kehidupan anaknya.
Dalam Alquran, kita justru menemukan banyak gambaran tentang dialog antara ayah dan anak. Dr Tariq al-Suwaidan, dalam riset statistik dan numerik Alquran yang diterbitkan dalam buku Al-I'jaz al-'Adadi fil Qur'anil Karim, menyebut terdapat 17 dialog antara orang tua dan anak. Dari jumlah tersebut, 14 melibatkan ayah, dua melibatkan ibu, dan satu melibatkan kedua orang tua.
Gambaran tersebut menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan seorang ayah dalam pendidikan anak, terutama dalam perkara tauhid, ketaatan kepada Allah, akhlak, moral, adab bermasyarakat, serta membangun pandangan anak terhadap masa depan.
Karena itu, kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik. Anak membutuhkan ayah yang hadir dengan perhatian, teladan, nasihat, dan kasih sayang.
Allah SWT berfirman dalam Surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Ayat tersebut mengingatkan setiap orang beriman untuk menjaga dirinya sekaligus keluarganya.
Seorang ayah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan keluarganya mendapatkan bimbingan agama dan pendidikan yang baik.
Rasulullah SAW juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ... وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Maka menjadi ayah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan ekonomi. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu memastikan anak-anak tumbuh dengan iman, akhlak, dan karakter yang baik.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud memberikan peringatan keras mengenai kelalaian orang tua, khususnya ayah, dalam mendidik anak.
Beliau menjelaskan bahwa kerusakan pada diri anak banyak berawal dari kelalaian ayah yang tidak memberikan pendidikan agama dan tidak mengenalkan kewajiban serta sunnah sejak dini.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membesarkan anak bukan pekerjaan yang bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, guru, pesantren, atau lingkungan.
Orang tua tetap menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak.
Baca juga: Khutbah Jumat 9 Oktober 2026: Tabayun di Era Media Sosial, Jangan Asal Sebar Berita
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Alquran memberikan banyak teladan tentang bagaimana orang tua mendidik anak. Salah satunya adalah kisah Luqman Al-Hakim.
Allah SWT berfirman dalam Surat Luqman ayat 13:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”
Perhatikan bagaimana Luqman memulai pendidikan anaknya.
Ia menggunakan panggilan penuh kasih, “Ya bunayya”, yang bermakna “wahai anakku”.
Luqman mengajarkan tauhid melalui kedekatan. Ia tidak hanya memberikan perintah, tetapi membangun hubungan hati dengan anak.
Inilah pelajaran penting bagi para ayah. Pendidikan anak tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras. Nasihat akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh orang yang dekat, menyayangi, dan menjadi teladan.
Kisah lain dapat kita lihat dari Nabi Ibrahim AS ketika mendidik Nabi Ismail AS.
Ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ibrahim tidak menyampaikannya dengan cara memaksa. Ia justru mengajak Ismail berdialog.
Allah SWT mengabadikan dialog tersebut dalam Surat Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Ketika anak itu sampai pada usia sanggup bekerja bersamanya, dia berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.’ Dia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”
Dari dialog tersebut kita belajar bahwa kedekatan antara ayah dan anak dapat melahirkan kepercayaan, keterbukaan, dan keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lantas, bagaimana kita menerapkan keteladanan tersebut dalam kehidupan sekarang, ketika anak-anak tumbuh di tengah derasnya teknologi dan dunia digital?
Setidaknya ada tiga peran penting yang perlu dijalankan seorang ayah.
Pertama, ayah sebagai teladan iman dan akhlak.
Ayah harus menjadi contoh nyata bagi anak dalam menjalankan ibadah dan menjaga akhlak.
Jangan sampai seorang ayah meminta anak rajin ke masjid, sementara dirinya sendiri jarang berjamaah. Jangan meminta anak jujur, tetapi anak justru melihat ayahnya berbohong. Jangan meminta anak meletakkan gawai ketika azan berkumandang, sementara ayahnya sendiri tetap sibuk dengan telepon genggam.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat.
Kedua, ayah sebagai tempat anak mendapatkan kasih sayang dan rasa aman.
Sesibuk apa pun pekerjaan kita, luangkan waktu untuk hadir sepenuhnya bagi anak.
Tidak harus berjam-jam. Waktu yang singkat tetapi berkualitas dapat menjadi sangat berarti.
Dengarkan cerita mereka. Tanyakan bagaimana harinya. Temani mereka bermain. Peluk mereka. Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita tanpa merasa takut dihakimi.
Terkadang, yang dibutuhkan anak bukan jawaban yang panjang, melainkan seorang ayah yang mau mendengarkan.
Ketiga, ayah sebagai pembimbing disiplin dan batasan.
Kasih sayang bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja.
Ayah juga perlu mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, sportivitas, serta konsekuensi dari setiap pilihan.
Anak perlu dipersiapkan agar mampu menghadapi kehidupan di luar rumah dengan bekal karakter yang kuat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Menjadi ayah bukan sekadar status setelah seorang laki-laki memiliki anak.
Menjadi ayah adalah amanah.
Mencari nafkah tentu merupakan kewajiban dan bentuk tanggung jawab yang sangat mulia. Namun, jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat seorang ayah kehilangan kesempatan untuk hadir dalam kehidupan anak.
Jangan sampai kita begitu sibuk menyiapkan rumah yang nyaman, sekolah yang bagus, dan masa depan finansial yang mapan, tetapi lupa menyiapkan hati anak dengan iman, akhlak, dan keteguhan jiwa.
Sebab, anak tidak hanya membutuhkan apa yang bisa kita berikan dengan uang. Mereka juga membutuhkan waktu, perhatian, keteladanan, doa, dan kasih sayang.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita, khususnya para ayah, untuk menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai anak yang saleh dan salehah, penyejuk hati kedua orang tua, serta generasi yang membawa kebaikan bagi agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketahuilah bahwa keluarga adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, marilah kita memperbaiki cara kita mendidik anak. Jangan hanya memastikan mereka tumbuh secara fisik, tetapi juga pastikan hati mereka tumbuh dengan iman.
Mari para ayah lebih sering hadir dalam kehidupan anak. Mari lebih banyak berdialog, mendengarkan, memberi teladan, dan mendoakan mereka.
Semoga Allah SWT menjaga keluarga kita dari segala keburukan, memberikan keturunan yang saleh dan salehah, serta menjadikan rumah kita sebagai tempat tumbuhnya generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Allah, perbaikilah pasangan dan keturunan kami. Jadikanlah mereka penyejuk hati bagi kami dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.
Ya Allah, bimbinglah kami dalam menjalankan amanah sebagai orang tua. Berikan kepada kami kesabaran dalam mendidik anak-anak kami, keteguhan dalam memberikan teladan, dan keikhlasan dalam menjaga mereka di jalan-Mu.
Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.
Baca juga: Khutbah Jumat 9 Oktober: Cara Merayakan Prestasi dengan Syukur
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yun, waj'alna lil muttaqina imama.
Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban nar.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
*)Penulis: Oleh: KH Sobrun Jamili, S.Pd.I, Sekretaris 5 MUI kota Tangerang
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.