Editor
SURABAYA, KOMPAS.com — Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mengingatkan umat Islam agar tidak mengabaikan wirid di tengah kesibukan sehari-hari.
Menurutnya, kesempatan menjalankan amal kebaikan perlu dijaga selama manusia masih hidup.
Pesan tersebut disampaikan dalam pengajian Syarah Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Tambaksari, Surabaya, seusai salat Jumat (9/10/2026).
“Orang-orang yang melupakan atau merendahkan wirid hanyalah orang yang sangat bodoh, karena dia tidak akan bisa wirid lagi nanti di alam lain, seperti membaca tasbih, tahlil, tahmid, dan mengaji. Ini bisa ditemukan hanya saat kita hidup,” tuturnya, sebagaimana dikutip NU Online dari kanal YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar.
Baca juga: Ijazah Kubro Dalailul Khairat: Menjaga Tradisi Tirakat dan Wirid di Kalangan Nahdliyin
Kiai Miftach menjelaskan, wirid dalam pembahasannya mencakup amal kebaikan yang dilakukan secara istiqamah. Karena itu, wirid tidak semestinya ditempatkan sebagai kegiatan yang selalu ditunda ketika seseorang merasa sibuk.
Menurutnya, mengabaikan kesempatan tersebut dapat mendatangkan penyesalan karena manusia tidak selamanya memiliki waktu untuk beramal di dunia.
Kiai Miftach mengatakan, wirid tidak terbatas pada membaca tasbih, tahlil, atau tahmid. Mengaji dan kegiatan intelektual lainnya juga termasuk di dalamnya.
Selain mengembangkan pengetahuan dan penalaran, kegiatan belajar menjadi ikhtiar merawat keimanan serta mendekatkan diri kepada Allah.
Ia mengingatkan agar semangat belajar dan beribadah terus dipelihara sepanjang kehidupan.
“Karena itu, iman dan ngaji kita itu tidak boleh berhenti sehingga maut menjemput kita,” ujarnya.
Baca juga: Bacaan Wirid Harian Setelah Sholat Fardhu: Arab, Latin dan Artinya
Dalam pengajian tersebut, Kiai Miftach juga menjelaskan makna warid. Menurutnya, warid merupakan dorongan kasih sayang dari Allah yang membangkitkan energi rohani dan menggerakkan seseorang untuk melakukan kebaikan.
Ia mencontohkan orang yang tetap menyempatkan diri mengikuti pengajian di tengah kesibukan. Kemauan tersebut, menurutnya, berkaitan dengan adanya dorongan rohani, bukan hanya ketersediaan waktu.
“Orang yang menyempatkan mengaji sekalipun di waktu yang sama orang beralasan sibuk dan lain-lain, itu karena orang tersebut punya motivasi atau warid, energi rohani yang mendorong panjenengan untuk mau ngaji,” jelasnya.
Dengan demikian, dalam penjelasan Kiai Miftach, wirid berkaitan dengan amal yang dijalankan secara konsisten, sedangkan warid merupakan dorongan rohani yang menggerakkan seseorang untuk berbuat baik.
Kiai Miftach sebelumnya juga membahas keramat yang diberikan kepada para wali.
Menurutnya, keramat merupakan sarana untuk membantu menyebarkan ajaran Islam, bukan tujuan akhir bagi orang yang menempuh jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam pembahasan tersebut, ia menekankan pentingnya istiqamah, yakni konsistensi menjalankan amal kebaikan meskipun kecil.
Pesan itu juga menjadi pengingat untuk menjaga wirid yakni terus menyediakan waktu bagi ibadah dan belajar di tengah kegiatan sehari-hari.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.