Editor
KOMPAS.com — Terlalu asyik bermain telepon genggam atau HP terkadang membuat seseorang mengabaikan adzan.
Namun, menggunakan HP saat adzan berkumandang tidak serta-merta dihukumi haram hanya karena seseorang tidak menjawabnya.
Syifaul Qulub Amin, alumnus Pondok Pesantren (PP) Nurul Cholil, perumus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Nurul Cholil, sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan, menjelaskan bahwa hukum menjawab azan adalah sunnah menurut mayoritas ulama.
Baca juga: Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Artinya, seorang Muslim dianjurkan mengikuti kalimat-kalimat yang diucapkan muazin sesuai tuntunan. Tidak menjawab adzan tidak otomatis membuat seseorang berdosa.
Meski demikian, menurut Syifaul, seorang Muslim dianjurkan menghentikan sementara aktivitasnya untuk menjawab adzan, termasuk ketika sedang menggunakan HP.
Syifaul menjelaskan, anjuran menjawab adzan didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim.
“Ketika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkannya.” (HR Muslim).
Ia merujuk penjelasan Syekh Zainuddin Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir bahwa anjuran tersebut berlaku ketika seseorang mendengar dan dapat memahami lafaz-lafaz azan.
Adapun orang yang mengetahui adanya adzan, tetapi tidak dapat mendengar lafaznya karena jarak yang jauh atau gangguan pendengaran, tidak disyariatkan menjawabnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut.
Karena hukum menjawab adzan adalah sunnah, Syifaul menerangkan bahwa bermain HP saat adzan tidak dapat langsung dinyatakan haram semata-mata karena seseorang melewatkan amalan tersebut.
Namun, kebiasaan terlalu asyik dengan gawai hingga terus mengabaikan adzan dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menjalankan sunnah.
Baca juga: Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh
Menurut Syifaul, literatur fikih menganjurkan seseorang menghentikan sementara aktivitas tertentu agar dapat menjawab adzan. Anjuran ini bahkan berlaku ketika seseorang sedang membaca Al-Quran, berzikir, atau mengajar.
Ia mengutip penjelasan Syekh Sa'id Ba'asyan dalam kitab Busyral Karim bi Syarhi Masa'il at-Ta'lim bahwa aktivitas tersebut dapat dilanjutkan kembali setelah adzan selesai. Sementara itu, kesempatan menjawab adzan akan berlalu.
Penjelasan tersebut menjadi dasar untuk memberikan perhatian pada adzan di tengah kesibukan sehari-hari.
Aktivitas menggunakan HP, seperti menggulir media sosial, menonton video, atau bermain gim, dapat dihentikan sejenak untuk menjawab adzan, kemudian dilanjutkan kembali setelahnya.
Syifaul juga menyoroti pentingnya memahami secara proporsional peringatan dalam literatur keislaman mengenai sikap mengabaikan azan.
Dalam kitab Tanwirul Qulub fi Mu'amalati Allamil Ghuyub, Syekh Muhammad Amin mengutip pernyataan Imam As-Suyuthi mengenai kekhawatiran su’ul khatimah bagi orang yang berbicara saat azan dengan sikap tidak peduli terhadap anjuran menjawabnya.
Menurut Syifaul, peringatan itu tidak dapat dimaknai bahwa setiap orang yang berbicara atau menggunakan HP saat azan pasti akan meninggal dalam keadaan buruk.
Hal yang ditekankan adalah pentingnya menghindari sikap meremehkan adzan sebagai panggilan ibadah.
Peringatan tersebut menjadi pengingat untuk memperbaiki adab, bukan dasar untuk memastikan keadaan akhir hidup seseorang.
Dikutip dari NU Online, Syifaul menegaskan, menjawab adzan dan melaksanakan shalat merupakan dua hal yang berbeda. Menjawab azan adalah amalan sunnah, sedangkan shalat lima waktu merupakan kewajiban.
Karena itu, penggunaan HP perlu diperhatikan agar tidak membuat seseorang lalai terhadap waktu shalat.
Menghentikan penggunaan gawai sejenak saat adzan menjadi salah satu cara untuk menjaga perhatian terhadap panggilan ibadah, sekaligus mempersiapkan diri menunaikan shalat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.