Editor
KOMPAS.com — Kesibukan bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga seharusnya tidak menjadi alasan untuk menunda ibadah.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan bahwa mendekatkan diri kepada Allah perlu dilakukan di tengah aktivitas sehari-hari.
“Jangan menunggu. Kita harus benar-benar belajar mendekat kepada Allah di tengah kesibukan hidup kita,” kata Aly dikutip dari laman Muhammadiyah, Selasa (13/10/2026).
Menurut Aly, sebagian orang menunda kebaikan hingga merasa memiliki waktu atau kemampuan yang cukup.
Baca juga: Cholil Nafis: Menikmati Ibadah Perlu Latihan dan Pembiasaan
Misalnya, menunggu pekerjaan stabil untuk rajin mengaji, menunggu pensiun untuk aktif di masjid, atau menunggu banyak uang untuk memperbanyak sedekah.
Padahal, tidak ada yang dapat memastikan seseorang akan mencapai usia tua dan sempat menjalankan seluruh rencana tersebut. Usia pun tidak menentukan urutan seseorang menghadapi kematian.
Karena itu, ia mengajak jemaah mengevaluasi kesungguhan mereka dalam mengejar kehidupan dunia dan mempersiapkan kehidupan akhirat.
“Kita sudah berapa jauh berlari untuk mengejar dunia? Tapi pertanyaannya juga, sudah berapa dekat kita mempersiapkan diri untuk kita pulang di hadapan Allah Subhanahu wa taala,” ujarnya.
Baca juga: Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Aly menjelaskan, mempersiapkan kehidupan akhirat tidak mengharuskan seseorang meninggalkan pekerjaan, usaha, maupun tanggung jawab keluarga.
Mencari nafkah, membahagiakan keluarga, dan mengejar prestasi dapat bernilai ibadah apabila dilandasi keikhlasan, pengetahuan yang benar, serta dilakukan secara istiqamah.
Ia mengutip Surah Al-An’am ayat 162 yang menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati seorang Muslim ditujukan kepada Allah, Tuhan seluruh alam.
Menurutnya, prinsip tersebut menjadi landasan untuk mengarahkan aktivitas sehari-hari sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
“Jangan buru-buru meninggalkan kesibukan. Periksa dulu arahnya benar atau tidak,” kata Aly.
Aly mengingatkan bahwa setiap fase kehidupan memiliki kesibukan tersendiri. Anak-anak mengejar prestasi, kaum muda mencari pekerjaan, sementara orang tua memenuhi kebutuhan keluarga.
Persoalan muncul ketika kesibukan membuat seseorang kehilangan arah dan melupakan tujuan hidupnya.
Ia mencontohkan seseorang yang mampu menyediakan rumah lebih besar, kendaraan lebih baik, dan pendidikan yang bagus bagi anak-anak, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga.
Berangkat sebelum anak bangun dan pulang ketika mereka sudah tidur dapat membuat hubungan keluarga semakin berjarak.
Karena itu, menurut Aly, keberhasilan perlu diukur pula melalui manfaat bagi keluarga dan orang lain, serta kualitas hubungan dengan Allah.
Evaluasi kehidupan juga perlu mencakup ibadah dan perilaku sehari-hari. Seseorang dapat bertanya apakah dirinya semakin jujur, apakah keluarga merasakan manfaat kehadirannya, dan apakah ada orang lain yang terbantu oleh keberadaannya.
Aly menegaskan, Islam tidak mengajarkan umatnya meninggalkan kehidupan dunia. Dunia menjadi tempat menanam amal untuk bekal akhirat.
Bekerja dengan jujur, mencari rezeki halal, mendidik anak, membantu tetangga, berbagi, dan menjaga lingkungan merupakan perbuatan yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah.
Ia juga mengingatkan hadis tentang tiga amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Dengan demikian, menurut Aly, amal saleh perlu dipahami secara luas, mencakup berbagai kebaikan yang dilakukan dengan niat ikhlas dan cara yang benar.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.