Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya Namun Berdoa Minta Jadi Miskin

Kompas.com, 18 Oktober 2026, 21:14 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal memiliki kekayaan melimpah.

Namun, kekayaan tersebut justru membuatnya khawatir terhadap nasibnya di akhirat, sehingga ia berusaha memperbanyak sedekah untuk meringankan langkahnya menuju surga.

Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M. Ishom el-Saha, menceritakan kisah Abdurrahman bin Auf melalui laman Kementerian Agama (Kemenag) yang beliau kutip dari kitab Rijal Haula Al Rasul karya Kholid Muhammad Kholid.

Baca juga: Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga

Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya

Di antara sekian banyak sahabat Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok yang sangat kaya. Ia dikisahkan pernah memborong dagangan dari Syam dan membawanya pulang ke Madinah dalam jumlah yang sangat besar.

Siti Aisyah menceritakan bahwa Abdurrahman bin Auf sering membawa pulang 700 kontainer dagangan. Rombongan barang tersebut digambarkan seperti barisan pawai yang tidak ada putusnya.

Baca juga: Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Memilih Ilmu daripada Kemewahan

Kekayaan Abdurrahman bin Auf juga dikisahkan berkaitan dengan sabda Rasulullah SAW tentang perjalanannya menuju surga. Nabi menyebut bahwa Abdurrahman akan memasuki surga dengan merangkak karena kekayaannya.

Para sahabat pun penasaran dengan perkataan tersebut. Mereka bertanya, "Kenapa dia masuk dengan merangkak tidak seperti sahabat lainnya yang berjalan super kilat pada waktu masuk surga?"

Rasulullah SAW menjawab: "Sebab dia terlalu kaya."

Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, Abdurrahman bin Auf sering menangis dan berdoa agar dirinya menjadi miskin. Ia ingin memiliki keadaan seperti Musab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain ketika meninggal dunia.

Dalam doanya, Abdurrahman bin Auf berkata: "Jadikan aku ini miskin! Aku ingin seperti Masab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain pada saat meninggal dunia. Masab bin Umair ketika jasadnya dibungkus kafan, kakinya tertutup tapi kepalanya terbuka. Ketika ditarik ke atas, kepalanya tertutup tapi kakinya terbuka. Ya Allah!!"

Meski demikian, Abdurrahman bin Auf tetap menjalani kehidupannya sebagai orang kaya. Ia kemudian berkonsultasi kepada Rasulullah SAW tentang cara agar dapat memasuki surga dengan berjalan kaki, bukan merangkak.

Rasulullah SAW menjawab: "Perbanyak bersedekah niscaya kakimu menjadi ringan untuk masuk surga!"

Dalam catatan sejarah, Abdurrahman bin Auf mewasiatkan pembagian hartanya menjadi tiga bagian menjelang akhir hayatnya.

Sepertiga harta digunakan sebagai modal usaha bagi sahabatnya, sepertiga untuk melunasi utang-utangnya, dan sepertiga lainnya dibagikan kepada fakir miskin.

Pembagian tersebut menunjukkan upayanya memanfaatkan kekayaan untuk membantu orang lain.

Ia tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga berusaha meringankan beban sesama melalui hartanya.

Kisah Abdurrahman bin Auf mengingatkan bahwa kekayaan dapat menjadi sarana untuk melakukan kebaikan apabila dikelola dengan tepat.

Sedekah dan kepedulian kepada sesama menjadi pelajaran penting dari perjalanan hidup sahabat Nabi tersebut.

Melalui hartanya, Abdurrahman bin Auf berusaha mempersiapkan bekal akhirat sekaligus membantu orang-orang yang membutuhkan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya Namun Berdoa Minta Jadi Miskin
Kisah Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Kaya Raya Namun Berdoa Minta Jadi Miskin
Aktual
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW, Apa Bedanya dari Umat Terdahulu?
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW, Apa Bedanya dari Umat Terdahulu?
Aktual
Mengapa Surah At-Taubah Tidak Diawali dengan Basmalah? Ini Penjelasannya
Mengapa Surah At-Taubah Tidak Diawali dengan Basmalah? Ini Penjelasannya
Aktual
KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Teguh yang Melahirkan 250 Pesantren
KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Teguh yang Melahirkan 250 Pesantren
Aktual
Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga
Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga
Aktual
Menhaj Sampaikan Imbauan Terkait Istitaah Haji 2027 dan Penerbangan Umrah
Menhaj Sampaikan Imbauan Terkait Istitaah Haji 2027 dan Penerbangan Umrah
Aktual
MUI Sesalkan Wajib Halal Ditunda hingga 2028, Minta Umat Islam Hindari Produk Tanpa Label Halal
MUI Sesalkan Wajib Halal Ditunda hingga 2028, Minta Umat Islam Hindari Produk Tanpa Label Halal
Aktual
Pemerintah Tunda Wajib Halal 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Terdampak
Pemerintah Tunda Wajib Halal 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Terdampak
Aktual
50 Ajengan PUI Berkumpul di Jakarta: Bahas Haji, Pinjol hingga Nazhir Wakaf
50 Ajengan PUI Berkumpul di Jakarta: Bahas Haji, Pinjol hingga Nazhir Wakaf
Aktual
UAS Ingatkan Polisi soal Gaji dari APBN: Jaga Iman dan Integritas
UAS Ingatkan Polisi soal Gaji dari APBN: Jaga Iman dan Integritas
Aktual
Hukum Membakar Hutan dalam Islam, QS Al-Baqarah Ayat 205 Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Bumi
Hukum Membakar Hutan dalam Islam, QS Al-Baqarah Ayat 205 Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Bumi
Aktual
MUI Ingatkan Penundaan Wajib Halal 2026 Berisiko Picu Ketidakpercayaan Publik
MUI Ingatkan Penundaan Wajib Halal 2026 Berisiko Picu Ketidakpercayaan Publik
Aktual
Kisah Abdullah bin Salam dan Asap Tetangga, Pelajaran tentang Menjaga Sesama
Kisah Abdullah bin Salam dan Asap Tetangga, Pelajaran tentang Menjaga Sesama
Aktual
6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam
6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam
Aktual
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar