Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam

Kompas.com, 17 Oktober 2026, 16:31 WIB
Reni Susanti

Editor

KOMPAS.com — Mendampingi keluarga atau sahabat yang sedang mengalami tekanan mental membutuhkan kesabaran dan empati.

Dukungan dapat diberikan dengan mendengarkan tanpa menghakimi, membantu kebutuhan sehari-hari, serta menemani mencari pertolongan profesional.

Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, perumus LBM Nurul Cholil, dan pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan, mengingatkan bahwa proses setiap orang dalam menghadapi kesulitan tidak selalu sama.

“Kesabaran dalam mendampingi bukan berarti membiarkan seseorang terus menderita tanpa pertolongan. Kesabaran justru mengajarkan kita untuk tetap hadir, memberikan ruang, dan tidak menuntut orang yang sedang kesulitan agar segera pulih sesuai harapan kita,” tutur Syifaul dikutip dari NU Online, Sabtu (17/10/2026).

Baca juga: Hidayat Nur Wahid Soroti Kerapuhan Mental Generasi Muda, Pesantren Dinilai Punya Jawaban

Menurutnya, tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, konflik keluarga, kehilangan orang tercinta, hingga perasaan tidak memiliki tempat bercerita dapat menjadi sumber tekanan emosional.

Seseorang mungkin menjadi lebih banyak melamun, mudah tersinggung, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, atau menarik diri.

Namun, perubahan tersebut tidak boleh langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan kondisi kesehatan mentalnya.

Syifaul menjelaskan enam cara yang dapat dilakukan untuk mendampingi orang yang sedang menghadapi beban mental.

Baca juga: Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental

1. Mendampingi dengan penuh kesabaran

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa proses pemulihan tidak selalu berlangsung cepat. Sebagian orang membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali menemukan ketenangan dan semangat menjalani aktivitas.

Karena itu, pendamping perlu memberikan ruang tanpa memaksa seseorang bercerita atau segera merasa lebih baik.

Ketika ia mengungkapkan kesedihan yang sama berulang kali, hindari menyebutnya berlebihan. Ketika ia kesulitan melakukan aktivitas yang biasanya mudah, cobalah memahami bahwa ada beban yang mungkin tidak terlihat.

Dalam Islam, kesabaran merupakan salah satu jalan untuk memohon pertolongan Allah SWT. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ

Artinya, “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).

Imam Al-Baghawi menjelaskan pentingnya memohon pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai ujian:

وَاسْتَعِينُوا عَلَى مَا يَسْتَقْبِلُكُمْ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَاءِ

Artinya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah atas berbagai macam ujian yang akan kalian hadapi.” (Abu Muhammad Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, Riyadh: Dar Thaibah, 1997, jilid I, hlm. 89).

Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan kesabaran dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. (Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Mesir: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah, 1964, jilid I, hlm. 371).

Syifaul mengaitkan nilai kesabaran tersebut dengan pendampingan kepada keluarga atau sahabat yang mengalami tekanan mental. Kesabaran membantu seseorang menjalankan kepedulian secara lebih bijaksana.

Ia juga mengutip penjelasan Imam Al-Mawardi:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ .... وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: بِمِفْتَاحِ عَزِيمَةِ الصَّبْرِ تُعَالَجُ مَغَالِيقُ الْأُمُورِ

Artinya, “Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran. Sebagian ahli hikmah berkata, ‘Dengan kunci keteguhan dalam bersabar, berbagai persoalan yang terkunci dapat diatasi.’” (Imam Al-Mawardi, Adab Al-Dunya wa Al-Din, Daru Maktabah Al-Hayat, t.t., hlm. 290).

Mendampingi dengan sabar tidak berarti harus selalu memiliki jawaban. Kehadiran yang tulus dan bantuan sesuai kemampuan dapat menjadi bentuk dukungan bagi orang yang sedang kesulitan.

2. Mendengarkan tanpa menghakimi

Syifaul menyarankan pendamping menyediakan ruang yang aman untuk bercerita. Biarkan seseorang menyampaikan perasaannya tanpa terburu-buru memotong, menyalahkan, atau membandingkan persoalannya dengan pengalaman orang lain.

Kalimat seperti “Kamu harus kuat”, “Jangan terlalu dipikirkan”, atau “Masalah orang lain lebih berat” dapat membuat seseorang merasa kesedihannya tidak dipahami.

Sebaliknya, pendamping dapat menyampaikan kesediaan mendengarkan dan menegaskan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Syifaul kembali merujuk pesan Surat Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ

Artinya, “Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).

Dalam konteks pendampingan, kesabaran berarti bersedia menemani tanpa memaksakan seseorang segera merasa baik-baik saja.

3. Menumbuhkan harapan tanpa meremehkan penderitaan

Orang yang sedang terpuruk terkadang merasa persoalannya tidak memiliki jalan keluar.

Pendamping dapat membantu menumbuhkan harapan secara perlahan dengan tetap mengakui beratnya masalah tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Insyirah ayat 5–6:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya, “Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah [94]: 5–6).

Menurut Syifaul, pesan tentang kemudahan tidak berarti meminta seseorang segera berhenti bersedih.

Pendamping dapat membantu memikirkan persoalan satu per satu dan menawarkan bantuan mencari pertolongan. Dengan demikian, penguatan spiritual disertai langkah nyata yang sesuai kebutuhan.

4. Mengajak berdoa dengan penuh kelembutan

Doa dapat menjadi sumber pengharapan dan ketenangan bagi seorang Muslim. Pendamping dapat mengajak orang yang sedang mengalami tekanan mental untuk berdoa dan beribadah sesuai kemampuannya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 156:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

Artinya, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS Al-A’raf [7]: 156).

Ayat tersebut mengingatkan keluasan rahmat Allah sehingga seseorang tetap memiliki alasan untuk berharap dan berusaha mencari jalan keluar.

Namun, nasihat agama perlu disampaikan secara lembut.

“Jangan sampai seseorang merasa bahwa kesulitan mental yang dialaminya merupakan bukti bahwa imannya lemah atau dirinya kurang bersyukur,” tulis Syifaul.

Berbaik sangka kepada Allah tidak mengharuskan seseorang menyembunyikan kesedihan. Ia tetap boleh menangis, mengakui kesulitan, dan meminta pertolongan. Doa serta ikhtiar mendapatkan bantuan dapat berjalan beriringan.

5. Membantu mengakses pertolongan profesional

Selain dukungan emosional dan spiritual, pendamping perlu memahami kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional.

Apabila tekanan berlangsung terus-menerus, mengganggu tidur, pekerjaan, kegiatan belajar, atau hubungan dengan keluarga, tawarkan bantuan untuk berkonsultasi dengan psikolog.

Ajakan tersebut perlu disampaikan dengan empati, tanpa memberi kesan bahwa orang tersebut lemah atau tidak mampu mengatasi kehidupannya.

Pendamping dapat membantu mencari layanan, membuat janji, atau menemani konsultasi sesuai persetujuannya. Dalam kondisi tertentu, penilaian dan penanganan oleh psikiater juga dapat diperlukan.

WHO turut menganjurkan keluarga dan sahabat memberikan dukungan tanpa menghakimi serta membantu orang yang membutuhkan untuk mengakses tenaga profesional.

Apabila seseorang menyampaikan keinginan menyakiti diri atau berada dalam bahaya langsung, tanggapi secara serius. Jangan tinggalkan ia sendirian dan segera cari pertolongan tenaga kesehatan atau layanan kegawatdaruratan.

6. Memberikan bantuan nyata dan menjaga diri

Dukungan tidak hanya berupa kata-kata penyemangat. Seseorang yang sedang kesulitan juga mungkin membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Pendamping dapat menawarkan bantuan menyiapkan makanan, menemani berjalan santai, atau membantu mengurus keperluan yang terasa berat.

Kebiasaan seperti tidur cukup, makan teratur, dan beraktivitas fisik dapat didorong secara bertahap sesuai kondisi, tanpa menjadikannya tuntutan tambahan.

Syifaul mengingatkan bahwa pendamping juga perlu menjaga kesehatan dirinya sendiri.

“Pada saat yang sama, pendamping juga perlu menjaga kesehatannya sendiri. Kita boleh membantu sesuai kemampuan tanpa harus memikul seluruh persoalan orang lain seorang diri,” tulisnya.

Menurutnya, kepedulian dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni bertanya dengan tulus, mendengarkan dengan sabar, dan menemani tanpa menghakimi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam
6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam
Aktual
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Aktual
Sambut Hari Santri 2026, RMINU dan Kemenag Siapkan Nikah Massal 500 Santri
Sambut Hari Santri 2026, RMINU dan Kemenag Siapkan Nikah Massal 500 Santri
Aktual
MUI Minta Pelaku Karhutla Ditindak, Ingatkan Fatwa Haram Pembakaran yang Merusak
MUI Minta Pelaku Karhutla Ditindak, Ingatkan Fatwa Haram Pembakaran yang Merusak
Aktual
Soroti Polemik Jilbab di Azerbaijan, Pengamat Ungkap Potensi Ekonomi Busana Muslim
Soroti Polemik Jilbab di Azerbaijan, Pengamat Ungkap Potensi Ekonomi Busana Muslim
Aktual
Arab Saudi Waspada Banjir Bandang, Hujan Lebat Diprediksi hingga Rabu
Arab Saudi Waspada Banjir Bandang, Hujan Lebat Diprediksi hingga Rabu
Aktual
Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp 50 Juta dan Mushalla Rp 35 Juta, Ini Syarat dan Jadwalnya
Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp 50 Juta dan Mushalla Rp 35 Juta, Ini Syarat dan Jadwalnya
Aktual
15 Warna Jilbab untuk Gamis Putih agar Makin Anggun
15 Warna Jilbab untuk Gamis Putih agar Makin Anggun
Aktual
Jawa Barat Raih Peringkat Pertama Wisata Ramah Muslim dalam IMTI 2026
Jawa Barat Raih Peringkat Pertama Wisata Ramah Muslim dalam IMTI 2026
Aktual
Pemerintah Perpanjang Tenggat Sertifikasi Halal hingga 2028
Pemerintah Perpanjang Tenggat Sertifikasi Halal hingga 2028
Aktual
Niat Puasa Ganti Ramadhan: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Puasa Ganti Ramadhan: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Kapan Puasa Ramadan 2027? Ini Tanggalnya Menurut KHGT Muhammadiyah
Kapan Puasa Ramadan 2027? Ini Tanggalnya Menurut KHGT Muhammadiyah
Aktual
Gandeng DPN, Pagar Nusa NU Siapkan Beasiswa PKPA untuk 2.000 Kader
Gandeng DPN, Pagar Nusa NU Siapkan Beasiswa PKPA untuk 2.000 Kader
Aktual
Kemenag Gerakkan Masjid dan Pesantren untuk Perkuat Ekosistem Halal
Kemenag Gerakkan Masjid dan Pesantren untuk Perkuat Ekosistem Halal
Aktual
15 Inspirasi Warna Jilbab untuk Gamis Hitam agar Tidak Monoton
15 Inspirasi Warna Jilbab untuk Gamis Hitam agar Tidak Monoton
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar