Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Soroti Polemik Jilbab di Azerbaijan, Pengamat Ungkap Potensi Ekonomi Busana Muslim

Kompas.com, 17 Oktober 2026, 11:52 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Industri jilbab dan busana Muslim atau modest fashion dinilai memiliki potensi untuk memperkuat ekonomi sekaligus menjadi sarana diplomasi Indonesia di tingkat global.

Pengamat Ekonomi Syariah Universitas Paramadina sekaligus Peneliti Junior CSED INDEF, Imas Damayanti, mengatakan bahwa jilbab memiliki dimensi ekonomi yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan industri.

“Jilbab itu bukan ancaman, apalagi kalau kita lihat dari perspektif ekonomi, jilbab justru bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi yang menjadi soft power bagi sebuah negara. Indonesia sudah membuktikan hal itu lewat industry modest fashion kita yang sangat baik,” kata Imas dalam rilisnya, Sabtu (17/20/2026).

Baca juga: 15 Inspirasi Warna Jilbab untuk Gamis Hitam agar Tidak Monoton

Pandangan tersebut disampaikan Imas menanggapi polemik pembatasan jilbab di sekolah-sekolah Azerbaijan.

Aturan seragam sekolah di negara itu tidak secara eksplisit menyebut jilbab.

Namun, penerapannya memicu protes setelah muncul laporan bahwa sejumlah siswa dan guru berjilbab ditolak masuk sekolah.

Menurut Imas, polemik tersebut menunjukkan bahwa jilbab masih ditempatkan dalam perdebatan ideologi. Padahal, busana Muslim juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari industri yang membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Baca juga: Tren Baju Lebaran 2027, Mengenal Gamis “Buka Pintu” yang Viral

Potensi pasar busana Muslim

Imas menilai, pengalaman Indonesia mengembangkan industri busana Muslim dapat menjadi rujukan bagi negara lain.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025, belanja konsumen Muslim dunia untuk pakaian dan alas kaki mencapai 327 miliar dollar AS pada 2023. Nilainya diproyeksikan meningkat menjadi 433 miliar dollar AS pada 2028.

Besarnya pasar tersebut menunjukkan peluang bagi pelaku industri untuk mengembangkan produk, memperluas pemasaran, dan menjangkau konsumen lintas negara.

“Meski masih banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia untuk membenahi kinerja industri modest fashion-nya, tapi Indonesia bisa dijadikan contoh negara dengan kultur dan agama yang beragam, tapi mampu menjadikan jilbab sebagai sebuah bagian dari perputaran ekonomi yang inklusif,” ujar Imas.

Desain yang diterima lintas budaya

Di sisi lain, Imas mengingatkan bahwa kebijakan berpakaian dan dinamika sosial-politik di negara tujuan perlu menjadi pertimbangan pelaku usaha dalam membaca pasar.

Pembatasan terhadap busana keagamaan, menurut dia, berpotensi mempersempit ruang pemasaran produk busana Muslim di wilayah tertentu.

“Tekanan sosial-politik yang terjadi di Azerbaijan ini perlu kita cermati bersama, terutama bagi para pelaku industri modest fashion agar jeli dalam membaca pasar,” katanya.

Imas menilai, situasi tersebut juga menjadi tantangan bagi desainer Indonesia untuk mengembangkan busana yang dapat diterima lintas budaya dengan tetap mempertahankan prinsip berpakaian sesuai syariah.

Upaya itu, menurut dia, perlu diimbangi dengan diplomasi antarnegara agar pengembangan industri busana Muslim dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Aktual
Sambut Hari Santri 2026, RMINU dan Kemenag Siapkan Nikah Massal 500 Santri
Sambut Hari Santri 2026, RMINU dan Kemenag Siapkan Nikah Massal 500 Santri
Aktual
MUI Minta Pelaku Karhutla Ditindak, Ingatkan Fatwa Haram Pembakaran yang Merusak
MUI Minta Pelaku Karhutla Ditindak, Ingatkan Fatwa Haram Pembakaran yang Merusak
Aktual
Soroti Polemik Jilbab di Azerbaijan, Pengamat Ungkap Potensi Ekonomi Busana Muslim
Soroti Polemik Jilbab di Azerbaijan, Pengamat Ungkap Potensi Ekonomi Busana Muslim
Aktual
Arab Saudi Waspada Banjir Bandang, Hujan Lebat Diprediksi hingga Rabu
Arab Saudi Waspada Banjir Bandang, Hujan Lebat Diprediksi hingga Rabu
Aktual
Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp 50 Juta dan Mushalla Rp 35 Juta, Ini Syarat dan Jadwalnya
Kemenag Buka Bantuan Masjid Rp 50 Juta dan Mushalla Rp 35 Juta, Ini Syarat dan Jadwalnya
Aktual
15 Warna Jilbab untuk Gamis Putih agar Makin Anggun
15 Warna Jilbab untuk Gamis Putih agar Makin Anggun
Aktual
Jawa Barat Raih Peringkat Pertama Wisata Ramah Muslim dalam IMTI 2026
Jawa Barat Raih Peringkat Pertama Wisata Ramah Muslim dalam IMTI 2026
Aktual
Pemerintah Perpanjang Tenggat Sertifikasi Halal hingga 2028
Pemerintah Perpanjang Tenggat Sertifikasi Halal hingga 2028
Aktual
Niat Puasa Ganti Ramadhan: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Puasa Ganti Ramadhan: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Kapan Puasa Ramadan 2027? Ini Tanggalnya Menurut KHGT Muhammadiyah
Kapan Puasa Ramadan 2027? Ini Tanggalnya Menurut KHGT Muhammadiyah
Aktual
Gandeng DPN, Pagar Nusa NU Siapkan Beasiswa PKPA untuk 2.000 Kader
Gandeng DPN, Pagar Nusa NU Siapkan Beasiswa PKPA untuk 2.000 Kader
Aktual
Kemenag Gerakkan Masjid dan Pesantren untuk Perkuat Ekosistem Halal
Kemenag Gerakkan Masjid dan Pesantren untuk Perkuat Ekosistem Halal
Aktual
15 Inspirasi Warna Jilbab untuk Gamis Hitam agar Tidak Monoton
15 Inspirasi Warna Jilbab untuk Gamis Hitam agar Tidak Monoton
Aktual
Perbedaan Tilawah dan Tadarus Al-Quran, Mana yang Lebih Baik Dilakukan Rutin?
Perbedaan Tilawah dan Tadarus Al-Quran, Mana yang Lebih Baik Dilakukan Rutin?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar