Editor
KOMPAS.com — Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah menyiapkan pernikahan massal bertajuk “Pak Yai Bu Nyai Mantu 500 Santri”.
Kegiatan untuk memperingati Hari Santri Nasional 2026 tersebut dijadwalkan berlangsung di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Rabu (21/10/2026).
Selain memfasilitasi pernikahan keluarga besar pesantren, program ini ditujukan untuk memberikan edukasi mengenai pernikahan dan kesiapan berumah tangga.
“Bimas Islam Mantu ini bukan sekadar ritual pernikahan biasa yang bisa kita saksikan setiap tahunnya. Namun, harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua, mulai dari proses akad hingga ajaran-ajaran yang menyertainya harus benar,” ujar Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jawa Tengah Hidayat Maskur dikutip dari NU Online, Sabtu (17/10/2026).
Baca juga: Hari Santri 2026, Kemenag Lampung Siapkan 10.000 Al-Quran hingga Panggung Kreativitas
Menurut Hidayat, kegiatan ini perlu membantu masyarakat memahami proses pernikahan, termasuk pelaksanaan akad serta penerapan adat yang sesuai dengan syariat Islam.
Ia menekankan bahwa membangun rumah tangga juga memerlukan kesiapan untuk menjalankan tanggung jawab dalam kehidupan berkeluarga.
“Kami berharap masyarakat bisa mengetahui bagaimana proses pernikahan yang benar. Terutama terkait adat dan syariah yang diterapkan. Harus ada edukasi kepada masyarakat tentang pernikahan yang benar dan utuh, sehingga banyak ilmu yang bisa diberikan,” katanya.
Baca juga: Tema dan Logo Hari Santri 2026 Versi Kemenag serta PBNU
Ketua RMINU Jawa Tengah KH Ahmad Fadlullah Turmudzi menjelaskan, gagasan pernikahan massal tersebut merupakan pengembangan dari program Sambang Pesantren yang rutin dilaksanakan setiap bulan di berbagai kabupaten dan kota.
Pada awalnya, kegiatan direncanakan untuk memfasilitasi sekitar 50 hingga 100 pasangan dari lingkungan pesantren.
Setelah dibahas bersama Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, cakupannya diperluas dengan target 500 santri.
“Awalnya kami hanya membuka kuota 50 dan 100. Pak Dirjen Bimas Islam menyampaikan bahwa jumlah tersebut terlalu sedikit,” ujar Ahmad Fadlullah.
Ia menjelaskan, sasaran awal program adalah para guru dan keluarga besar pesantren yang telah memiliki kesiapan untuk menikah.
Melalui program tersebut, penyelenggara berupaya memberikan kemudahan sekaligus pendampingan bagi calon pengantin dalam mempersiapkan kehidupan rumah tangga.
Pernikahan massal dijadwalkan berlangsung sehari sebelum peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober.
Persiapannya melibatkan Bimas Islam Kementerian Agama, RMINU Jawa Tengah, Kanwil Kemenag Jawa Tengah, pengelola MAJT, serta jajaran Kementerian Agama dan Kantor Urusan Agama (KUA) di Semarang Raya.
Kerja sama tersebut diharapkan mendukung kelancaran persiapan dan pelaksanaan akad, sekaligus memastikan calon pengantin memperoleh pemahaman mengenai tanggung jawab membangun keluarga.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.