Editor
KOMPAS.com - Raja Inggris Charles III mengutip hadis Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab saat menjamu Sultan Oman Haitham bin Tariq di Kastil Windsor pada Selasa (20/10/2026).
Momen tersebut menjadi sorotan karena Raja Charles menggunakan perkataan Rasulullah SAW untuk memuji karakter penduduk Oman di hadapan tamu kenegaraan.
Baca juga: Cara Mengecek Hadis Viral di Media Sosial
Kutipan itu disampaikan dalam jamuan makan malam kenegaraan yang menjadi bagian dari kunjungan Sultan Haitham ke Inggris selama tiga hari.
Selain menyoroti hubungan diplomatik kedua negara, Raja Charles juga mengapresiasi peran Oman dalam membangun perdamaian di tengah konflik.
Baca juga: Mengapa Orang Baik Tetap Diuji? Simak Penjelasan Hadis Nabi
Mengutip Anadolu Ajansı, Raja Charles III dan Ratu Camilla menyambut Sultan Haitham bin Tariq pada Selasa dalam kunjungan kenegaraan pertama Sultan Oman ke Inggris dalam 44 tahun.
Pada malam harinya, keduanya menggelar jamuan makan malam kenegaraan untuk menghormati sang sultan di Kastil Windsor.
Dalam pidatonya, Raja Charles mengutip hadis Nabi Muhammad SAW ketika memuji rakyat Oman, yang kemudian menjadi perhatian publik setelah rekamannya tersebar luas di media sosial.
"Jika engkau datang kepada penduduk Oman, mereka tidak akan mencelamu maupun memukulmu."
Kutipan tersebut merujuk pada hadis yang menggambarkan sikap penduduk Oman terhadap seseorang yang datang kepada mereka. Raja Charles menggunakan hadis itu untuk menyoroti karakter masyarakat Oman sekaligus memberikan penghormatan kepada tamu kenegaraannya.
Momen ini menjadi perhatian karena raja Inggris tersebut mengutip perkataan Nabi Muhammad SAW dalam acara resmi kenegaraan, di tengah upaya mempererat hubungan antara Inggris dan Oman.
Selain mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, Raja Charles juga menyoroti hubungan kemitraan yang telah lama terjalin antara Inggris dan Oman.
Ia juga menekankan pentingnya peran Oman dalam menjembatani pihak-pihak yang berbeda di tengah konflik.
Dalam pidatonya, Raja Charles menyampaikan bahwa hubungan bilateral yang bertahan lintas generasi merupakan salah satu simbol keberhasilan kemitraan kedua negara.
"Tak banyak simbol keberhasilan yang lebih membahagiakan daripada hubungan yang terus terjalin dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," tambahnya.
Kunjungan kenegaraan Sultan Haitham berlangsung selama tiga hari dan menjadi kunjungan pertama dalam 44 tahun.
Jamuan di Kastil Windsor menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian kunjungan tersebut, sekaligus memperlihatkan penghormatan Inggris terhadap hubungan historis dengan Oman.
Hadis yang dikutip Raja Charles III adalah tukilan dari sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Barzah dan tercantum dalam Shahih Muslim nomor 2544.
Riwayat ini menceritakan pengalaman seseorang yang diutus Rasulullah SAW kepada suatu kelompok masyarakat Arab, tetapi justru mendapat perlakuan kasar. Namun hal itu tidak berlaku untuk orang-orang Oman.
Berikut teks hadis tersebut dalam bahasa Arab:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ أَبِي الْوَازِعِ، جَابِرِ بْنِ عَمْرٍو الرَّاسِبِيِّ سَمِعْتُ أَبَا بَرْزَةَ، يَقُولُ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ SAW رَجُلاً إِلَى حَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَسَبُّوهُ وَضَرَبُوهُ فَجَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ SAW فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ SAW " لَوْ أَنَّ أَهْلَ عُمَانَ أَتَيْتَ مَا سَبُّوكَ وَلاَ ضَرَبُوكَ " .
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Barza bahwa Rasulullah SAW mengutus seseorang ke suatu suku di antara suku-suku Arab. Mereka mencelanya dan memukulinya. Dia datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan kepadanya (kisah kekejaman yang dilakukan terhadapnya oleh orang-orang suku itu). Kemudian beliau (Nabi yang Mulia) berkata: Jika kamu datang kepada orang-orang Oman, mereka tidak akan mencelamu dan tidak akan memukulimu.
Hadis tersebut menggambarkan pujian Rasulullah SAW terhadap penduduk Oman yang dinilai tidak akan mencela atau memukul orang yang datang kepada mereka.
Sikap ini menjadi gambaran tentang pentingnya memperlakukan orang lain dengan baik, termasuk mereka yang datang sebagai utusan atau tamu.
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan penduduk Oman dalam konteks akhlak dan perlakuan terhadap orang lain.
Rasulullah SAW menggambarkan mereka sebagai masyarakat yang tidak akan mencela atau memukul orang yang datang kepada mereka, berbeda dengan kelompok yang sebelumnya memperlakukan utusan itu secara kasar.
Pesan utama hadis ini berkaitan dengan pentingnya menjaga kehormatan orang lain, menghindari kekerasan, dan memperlakukan tamu dengan baik.
Di masa kini, nilai-nilai tersebut juga relevan dalam membangun hubungan antarmasyarakat maupun antarnegara.
Pengutipan hadits oleh Raja Charles dalam jamuan kenegaraan ini menjadi perbincangan karena memperlihatkan bagaimana hadist Nabi digunakan untuk menyampaikan penghormatan kepada masyarakat Oman sekaligus sebagai bagian dari pesan diplomatik.
Momen tersebut tidak hanya menyoroti hubungan Inggris dan Oman, tetapi juga menarik perhatian terhadap pesan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.