Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat bertema Hari Santri yang disusun Subdit Kepustakaan Islam dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat 23 Oktober 2026: Santri Menguatkan Negeri menuju Indonesia Emas
الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik dalam kehidupan di dunia sekaligus bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di Indonesia, ada satu hari yang mengingatkan kita pada perjuangan para ulama dan santri, yaitu Hari Santri. Hari Santri bukan sekadar peringatan, melainkan momentum untuk mengenang peran besar santri dalam menjaga agama, memelihara persatuan umat, dan mempertahankan keutuhan bangsa.
Santri tidak hanya belajar kitab dan beribadah, tetapi juga mempelajari akhlak, adab, persatuan, serta cinta tanah air. Para ulama dan santri terdahulu turut berjuang mempertahankan negeri ini. Salah satu ulama besar yang menyerukan perjuangan mempertahankan tanah air adalah KH Hasyim Asy'ari, yang mencetuskan Resolusi Jihad. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga negara dan persatuan merupakan bagian dari tanggung jawab umat beragama.
Sebagai bagian dari generasi emas umat Islam, para santri memiliki tanggung jawab besar. Mereka dapat meneladani Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia muda, serta Salahuddin Al-Ayyubi, panglima Muslim yang disegani kawan maupun lawan.
Ada ungkapan terkenal yang menyatakan bahwa setiap 100 tahun akan muncul seorang penggerak dan pembaru di dunia Islam. Berangkat dari ungkapan tersebut, para santri perlu menumbuhkan tekad dalam diri bahwa merekalah yang akan membawa perubahan. Karena itu, santri harus terus memacu semangat untuk menuntut ilmu dan mewujudkan kemajuan Islam serta masyarakat.
Konsep pendidikan ma'iyyah atau kebersamaan yang diterapkan di pondok pesantren mengikuti konsep pendidikan yang pernah dipraktikkan Rasulullah saw. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah saw., terdapat sahabat-sahabat yang sangat dekat dengan beliau. Mereka bergaul dan menetap di sekitar Rasulullah karena tidak ingin berjauhan dari beliau. Saking cintanya kepada Rasulullah, sebagian sahabat menetap di serambi masjid sehingga kemudian dikenal dengan sebutan ashhabus suffah.
Sebuah artikel dalam Jurnal Qalam, Vol. 06, No. 01, tahun 2025, menuturkan bahwa sejumlah pesantren mulai menunjukkan kecenderungan menerima teknologi dan gagasan modern sebagai bagian dari pembaruan. Salah satu indikator perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah santri yang mempelajari dan menguasai bahasa asing, seperti bahasa Inggris.
Sebagai penyeimbang, pengajaran bahasa Arab juga mengalami pergeseran. Pembelajarannya kini tidak hanya berfokus pada tata bahasa, tetapi juga mengembangkan kemampuan berbicara dan menulis secara lancar. Kecenderungan ini tumbuh seiring kebutuhan untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat manusia.
Karena itu, jihad pada masa kini tidak hanya dimaknai sebagai perang atau perlawanan fisik, tetapi juga sebagai perjuangan dan kreativitas santri dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Perjuangan melalui ilmu menjadi salah satu bentuk pengabdian penting bagi umat dan bangsa.
Ungkapan senada disampaikan Syekh Zainuddin Al-Malybari dalam kitab Fathul Mu'in. Jihad tidak hanya berarti mengangkat senjata, tetapi memiliki makna yang lebih luas, termasuk upaya memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jemaah Jumat rahimakumullah,
Komunitas dan kehidupan yang dikembangkan di pesantren sesungguhnya merupakan gambaran kehidupan umat Islam. Para santri dari berbagai latar belakang budaya dan etnis hidup bersama di pesantren sebagai madinatul ilmi. Mereka saling berbagi pengetahuan, saling mengingatkan dalam kebajikan, dan berlomba-lomba melakukan kebaikan.
Jika dahulu Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar, para kiai saat ini meneladani semangat tersebut dengan menyatukan dan mempersaudarakan para santri. Mereka hidup bersama untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu menuntut ilmu.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren dan terjun ke tengah masyarakat, para santri juga harus berupaya menjaga harmoni dan persatuan umat. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati."
Allah Swt. juga berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
"Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk."
Ayat tersebut menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan perpecahan, melainkan persatuan. Islam tidak mengajarkan permusuhan, tetapi mengajarkan persaudaraan. Karena itu, santri harus menjadi penguat persaudaraan, bukan penyebab perpecahan. Santri juga harus menjadi penyejuk di tengah masyarakat, bukan pihak yang mudah menyalahkan atau memecah belah.
Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."
Hadis tersebut mengajarkan bahwa sesama Muslim harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan; saling membantu, bukan saling merugikan; serta saling menopang, bukan saling menentang.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada akhirnya, santri menjadi simbol persatuan yang merupakan nikmat besar dari Allah Swt. Banyak negara mengalami kehancuran akibat konflik dan perpecahan. Karena itu, menjaga persatuan merupakan bagian dari ibadah sekaligus wujud syukur kepada Allah Swt.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِيْنَ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيعِ الْمَأْمُورَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.