Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menjajaki kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan untuk merintis Museum Haji Indonesia.
Museum tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi tentang sejarah perjalanan haji sekaligus kontribusi ulama, santri, dan tokoh-tokoh haji dalam membangun kesadaran kebangsaan serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
“Sejarah haji Indonesia bukan semata-mata tentang perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan, pertukaran ilmu, dan kontribusi ulama serta santri dalam membangun kesadaran kebangsaan,” ujar Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak dalam rilisnya, Jumat (23/10/2026).
Baca juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran: Pembenahan Haji dan PR yang Belum Tuntas
Menurut Wamenhaj, sejarah haji merupakan bagian dari perjalanan intelektual, sosial, dan perjuangan bangsa yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang.
“Melalui kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, kami ingin menjajaki upaya merawat warisan sejarah ini agar dapat dipelajari oleh masyarakat luas,” ujarnya.
Wamenhaj berharap, Museum Haji Indonesia dapat membantu generasi muda mengenal perjalanan haji dan memahami kontribusinya dalam sejarah bangsa.
“Museum Haji Indonesia diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal perjalanan haji dan memahami kontribusinya dalam sejarah bangsa. Dengan demikian, nilai-nilai perjuangan dan pengabdian para pendahulu dapat terus diwariskan,” katanya.
Museum ini diharapkan menghimpun dan memperkenalkan arsip, foto, dokumen perjalanan, serta artefak yang merekam perkembangan penyelenggaraan haji dan kehidupan umat Islam Indonesia dari masa ke masa.
Penjajakan tersebut juga membuka peluang penelusuran sumber sejarah perhajian yang tersimpan di berbagai lembaga, termasuk museum dan arsip di Belanda.
Baca juga: Kemenhaj Tetapkan Jadwal Haji 2027, Jemaah Mulai Masuk Asrama 10 April
Sejumlah tokoh, seperti Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Haji Ahmad Dahlan, Haji Hasyim Asy’ari, Haji Agus Salim, dan Haji Samanhudi, menjadi bagian penting dalam sejarah pergerakan kebangsaan, pendidikan, serta pembaruan sosial keagamaan di Indonesia.
Melalui gagasan museum ini, sejarah perhajian diharapkan dapat diperkenalkan dalam kaitannya dengan perjalanan bangsa.
Museum Haji Indonesia juga diharapkan berkembang menjadi pusat edukasi, penelitian, dan literasi sejarah yang terbuka bagi masyarakat.
Penjajakan kerja sama kedua kementerian tersebut menjadi langkah awal untuk melestarikan warisan sejarah perhajian sekaligus memperluas akses publik untuk mempelajarinya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.