Penulis
KOMPAS.com - Raja Inggris Charles III mengutip perkataan Nabi Muhammad SAW tentang masyarakat Oman saat menjamu Sultan Oman Haitham bin Tarik dalam jamuan kenegaraan di Kastil Windsor, Inggris, Selasa (20/10/2026) malam waktu setempat.
Kutipan tersebut disampaikan Charles dalam pidato di hadapan Sultan Haitham, Ratu Camilla, Pangeran William, Catherine, Putri Wales, serta sejumlah tamu undangan.
Dalam pidatonya, Raja Charles menyampaikan kutipan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW mengenai karakter masyarakat Oman.
لَوْ أَنَّ أَهْلَ عُمَانَ أَتَيْتَ، مَا سَبُّوكَ وَلَا ضَرَبُوكَ
“Seandainya engkau mendatangi orang-orang Oman, mereka tidak akan mencelamu ataupun memukulmu,” demikian terjemahan kutipan yang disampaikan Charles dilansir dari YouTube Royal Family Channel.
Pernyataan tersebut merupakan kutipan dari Hadits Riwayat Muslim nomor 2544 dalam Bab Keutamaan Penduduk Oman (Fadhail Ahli 'Uman).
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abu Barza al-Aslami Ra, yang menceritakan latar belakang ucapan Rasulullah SAW tersebut. Berikut lengkapnya:
بَعَثَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ رَجُلًا إلى حَيٍّ مِن أَحْيَاءِ العَرَبِ، فَسَبُّوهُ وَضَرَبُوهُ، فَجَاءَ إلى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فأخْبَرَهُ، فَقالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: لو أنَّ أَهْلَ عُمَانَ أَتَيْتَ ما سَبُّوكَ وَلَا ضَرَبُوكَ.
Artinya:
"Rasulullah SAW mengutus seorang lelaki ke salah satu perkampungan Arab, namun mereka justru mencaci maki dan memukulinya. Utusan itu kemudian kembali kepada Rasulullah SAW dan melaporkan kejadian tersebut. Maka Rasulullah SAW bersabda: 'Seandainya engkau mendatangi penduduk Oman, niscaya mereka tidak akan mencelamu dan tidak pula memukulmu.'"
Baca juga: Sejarah Baru New York: Zohran Mamdani Dilantik dengan Al-Qur’an Berusia Ratusan Tahun
Pernyataan ini menjadi bagian dari pidato Raja Charles yang menyoroti hubungan panjang Inggris dan Oman, termasuk nilai persahabatan, sikap saling menghormati, serta peran Oman dalam menjaga perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (22/10/2026), Charles menyampaikan kutipan tersebut dalam bahasa Arab ketika menjamu Sultan Haitham di Kastil Windsor. Potongan pidatonya kemudian ramai dibicarakan di media sosial.
Jamuan kenegaraan tersebut merupakan bagian dari kunjungan kenegaraan Sultan Haitham bin Tarik ke Inggris pada 20–22 Oktober 2026.
Menurut situs resmi Keluarga Kerajaan Inggris, kunjungan ini menjadi kunjungan kenegaraan pertama seorang sultan Oman ke Inggris sejak 1982. Saat itu, Ratu Elizabeth II menyambut Sultan Qaboos bin Said.
Raja Charles III dan Ratu Camilla menyambut Sultan Haitham melalui upacara resmi yang dilanjutkan dengan prosesi kereta kuda melintasi Windsor. Pangeran William dan Catherine, Putri Wales, turut hadir dalam penyambutan tersebut.
Malam harinya, Raja Charles dan Ratu Camilla menggelar jamuan kenegaraan di St George's Hall, Kastil Windsor, untuk menghormati pemimpin Oman tersebut.
Kunjungan ini sekaligus menegaskan hubungan diplomatik kedua negara yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Dalam pidatonya, Raja Charles menyebut Oman sebagai salah satu sekutu tertua Inggris. Ia mengingatkan bahwa pelaut Oman telah melakukan perdagangan melintasi Samudra Hindia jauh sebelum terbentuknya Inggris sebagai sebuah negara bersatu.
Menurut Charles, hubungan kedua negara berkembang dari kemitraan maritim pada abad ke-17, hubungan perjanjian pada abad ke-18, kemitraan strategis pada abad ke-19, hingga kerja sama militer pada abad ke-20.
Pada abad ke-21, hubungan Inggris dan Oman semakin erat melalui diplomasi, pertahanan, perdagangan, dan kepercayaan.
Charles juga mengenang Sultan Qaboos bin Said, pendahulu Sultan Haitham, yang dinilainya berhasil memodernisasi Oman sembari mempertahankan kebudayaan dan tradisi negara tersebut.
Ia kemudian menyoroti upaya Sultan Haitham dalam memperkuat institusi negara serta mendorong diversifikasi ekonomi dan pengurangan emisi karbon melalui program Oman Vision 2040.
Raja Inggris itu turut mengapresiasi perhatian pemerintah Oman terhadap pendidikan, keterampilan, dan pengembangan generasi muda sebagai penggerak masa depan negara.
Selain membahas sejarah dan kerja sama bilateral, Raja Charles menyoroti peran Oman sebagai penghubung diplomatik di tengah konflik yang kembali meningkat di kawasan Timur Tengah.
Ia mengapresiasi upaya Oman dalam menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka, termasuk jalur strategis yang penting bagi perdagangan global.
Menurut Charles, sikap netral konstruktif Oman memiliki arti penting bagi stabilitas kawasan Teluk dan jauh melampaui kepentingan regional semata.
Charles juga menyinggung berbagai tantangan yang akan dihadapi generasi mendatang, mulai dari perubahan iklim dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hingga persaingan sumber daya.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antarnegara untuk mempertahankan perdamaian, menegakkan hukum internasional, dan memastikan inovasi berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pada akhir pidatonya, Charles mengajak para tamu mengangkat gelas untuk memberikan penghormatan kepada Sultan Haitham dan persahabatan Inggris-Oman.
Dikutip dari situs Kementerian Luar Negeri Oman, dalam pidato balasannya, Sultan Haitham menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat dan keramahan yang diberikan keluarga kerajaan Inggris kepada dirinya dan delegasi Oman.
Ia mengingatkan bahwa hubungan kedua negara secara formal diperkuat melalui perjanjian yang ditandatangani pada 1800.
Perjanjian tersebut memuat harapan agar persahabatan kedua negara tetap teguh hingga akhir zaman. Menurut Sultan Haitham, lebih dari dua abad kemudian, hubungan itu masih bertahan.
Sultan Haitham juga menyoroti kerja sama militer, pendidikan, perdagangan, dan investasi sebagai pilar penting hubungan bilateral.
Ia mengatakan, Oman memilih jalan dialog, saling pengertian, dan perdamaian di tengah kawasan yang telah lama menghadapi konflik.
Baca juga: Mengapa Zohran Mamdani Memilih 3 Mushaf Alquran saat Pelantikan Wali Kota New York?
Dalam pidatonya, Sultan Haitham turut mengapresiasi perhatian Raja Charles terhadap generasi muda, perlindungan lingkungan, dan dialog antaragama.
Ia menutup sambutannya dengan doa agar Raja Charles senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang, serta persahabatan kedua negara terus terpelihara.
Kunjungan kenegaraan ini menjadi penegasan bahwa hubungan Inggris dan Oman tidak hanya bertumpu pada kepentingan politik dan ekonomi, tetapi juga pada sejarah, kebudayaan, pendidikan, serta komitmen bersama terhadap perdamaian.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.