CIANJUR, KOMPAS.com — Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren dan sekolah keagamaan mengikuti karnaval dalam rangka peringatan Hari Santri di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Peserta mengusung beragam tema, mulai dari poster dan kutipan lucu khas santri hingga kritik terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pawai menempuh jarak sekitar 2 kilometer, dari Lapang Prawatasari Joglo Cianjur menuju Alun-Alun Cianjur.
Baca juga: Khutbah Jumat Hari Santri: Menguatkan Negeri dengan Ilmu, Akhlak, dan Keadilan
Di panggung kehormatan di depan gerbang Pendopo Bupati Cianjur, Bupati Cianjur Wahyu Ferdian bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menyambut penampilan dan atraksi para peserta.
Salah seorang peserta, Maura (18), mengaku senang bisa terlibat dalam peringatan Hari Santri. Pelajar madrasah aliyah itu mengatakan, menjadi santri merupakan cita-citanya sejak kecil.
“Selalu ikut karnaval Hari Santri. Seru, dan bisa bersilaturahmi dengan santri-santri yang lain,” ujar Maura kepada Kompas.com di depan Pendopo Bupati Cianjur, Kamis.
Santri asal Kecamatan Karangtengah, Cianjur, itu berharap dapat melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir, tahun depan.
“Ingin melanjutkan sekolah, kuliah di Kairo. Semoga ada umur dan rezekinya, amin,” ucapnya.
Baca juga: Prabowo Ucapkan Selamat Hari Santri 2026: Santri Kompak dan Hebat, Indonesia Semakin Kuat
Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Cianjur Muhammad Toha mengatakan, Hari Santri menjadi momentum untuk mendalami dan memahami nilai-nilai keislaman serta ketauhidan.
Menurut Toha, santri tidak hanya berfokus mempelajari agama di pesantren atau lembaga pendidikan Islam, tetapi juga berperan dalam pembangunan bangsa, termasuk sejak masa perjuangan kemerdekaan.
“Bahkan, lebih jauh dari masa itu. Pejuang Islam pasti pejuang nasional, dan pahlawan Islam pasti pahlawan nasional. Itu fakta sejarah,” ucap Toha melalui sambungan telepon, Kamis petang.
Toha mengatakan, santri akan bangkit melawan ketika terjadi penjajahan, penindasan, dan kezaliman. Sebab, nilai-nilai keislaman mengajarkan bahwa kezaliman dan kemungkaran tidak boleh dibiarkan tumbuh.
“Dengan demikian, santri tidak bisa dipisahkan dari perjalanan bangsa ini,” ucapnya.
Ia menambahkan, kiprah santri pada masa kini diwujudkan melalui perjuangan melawan ketertindasan, kebodohan, dan kemiskinan demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
“Santri harus mampu menjawab tantangan-tantangan kehidupan zaman sekarang,” ujar Toha.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.