KOMPAS.com - Surah Abasa menyimpan kisah tentang Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat tunanetra yang datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk meminta bimbingan agama.
Saat itu, Rasulullah sedang berdakwah kepada sejumlah pemuka Quraisy dan sempat berpaling darinya. Peristiwa tersebut kemudian menjadi latar turunnya ayat-ayat awal surah ini.
Kisah tersebut mengandung pesan penting tentang cara memperlakukan orang lain, terutama mereka yang kerap terabaikan karena kondisi fisik atau kedudukan sosial.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Dhuha Lengkap dengan Arti, Niat, dan Tata Caranya
Melalui Surah Abasa, Allah mengingatkan bahwa kesungguhan seseorang dalam mencari petunjuk tidak boleh dinilai berdasarkan penampilan maupun statusnya.
Abdullah bin Ummi Maktum merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang mengalami kebutaan.
Namanya disebut dalam penjelasan Surah Abasa ayat 2 pada terjemahan Al-Qur’an Kementerian Agama RI.
Ia datang kepada Rasulullah untuk memperoleh pengajaran dan bimbingan mengenai ajaran Islam.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Siapkan 5 Program untuk Pesantren
Menurut riwayat yang dicatat dalam Jami’ at-Tirmidzi, Abdullah mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau memberinya petunjuk.
Ketika itu, Nabi sedang berbicara dengan seorang tokoh terkemuka dari kalangan kaum musyrik.
Rasulullah kemudian memusatkan perhatian kepada tokoh tersebut, sementara Abdullah tidak memperoleh perhatian yang diharapkannya.
Surah Abasa ayat 1–4 menggambarkan peristiwa tersebut. Allah berfirman:
Arab: عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ ١ أَن جَآءَهُ الْأَعْمَىٰ ٢ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ ٣ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ ٤
‘Abasa wa tawallā. An jā’ahul-a‘mā. Wa mā yudrīka la‘allahū yazzakkā. Au yażżakkaru fa tanfa‘ahuž-żikrā.
Artinya: “Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang tunanetra telah datang kepadanya. Dan tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya.” (QS Abasa: 1–4).
Baca juga: 99 Motor Banser Disiapkan Kawal Kirab Resolusi Jihad dari Jombang ke Surabaya
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa orang yang datang dengan kesungguhan untuk belajar patut mendapat perhatian.
Sementara itu, upaya mengajak orang berpengaruh kepada kebenaran tidak semestinya membuat pencari ilmu yang tulus terabaikan.
Kisah tersebut juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Aisyah RA. Riwayat ini tercantum dalam Jami’ at-Tirmidzi nomor 3331.
أُنْزِلَ عَبَسَ وَتَوَلَّى فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَجَعَلَ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرْشِدْنِي
Unzila ‘abasa wa tawallā fī Ibni Ummi Maktūmil-a‘mā, atā Rasūlallāhi fa ja‘ala yaqūlu: yā Rasūlallāh, arsyidnī.
Artinya: “Surah ‘Abasa wa tawalla diturunkan berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang tunanetra. Ia datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, berilah aku petunjuk.’” (HR Tirmidzi, nomor 3331).
Baca juga: Hari Santri 2026, Gus Kikin Ajak Hidupkan Resolusi Jihad untuk Lawan Kemiskinan
Riwayat tersebut memperjelas konteks turunnya ayat-ayat awal Surah Abasa.
Dalam penjelasan hadis yang sama, Rasulullah ketika itu sedang berbicara dengan seorang tokoh terkemuka dari kalangan musyrik.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pesan Al-Qur’an juga mengarahkan perhatian pada orang yang benar-benar membutuhkan bimbingan.
Ayat-ayat awal Surah Abasa tidak menjadikan kebutaan Abdullah sebagai kekurangan yang mengurangi haknya untuk memperoleh pengajaran.
Sebaliknya, kisah ini memperlihatkan bahwa kesungguhan mencari ilmu harus diperhatikan tanpa menjadikan kondisi fisik sebagai alasan untuk mengabaikan seseorang.
Baca juga: Santri di Era AI, Nasruddin Ingatkan Teknologi Alat Bantu, Bukan Pembimbing Spiritual
Mengutip dari NU Online dalam pembahasannya tentang pandangan Islam terhadap penyandang disabilitas mengaitkan kisah ini dengan larangan bersikap diskriminatif.
Nilai seseorang tidak semestinya ditentukan oleh kemampuan fisik, kekayaan, atau kedudukan sosialnya.
Prinsip ini relevan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika memberi akses pendidikan, pelayanan, dan kesempatan berpartisipasi kepada penyandang disabilitas.
Surah Abasa juga mengajarkan pentingnya menempatkan prioritas secara tepat.
Ayat-ayat berikutnya membedakan orang yang merasa cukup dari orang yang datang dengan sungguh-sungguh dan memiliki rasa takut kepada Allah.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan dakwah bukan semata-mata diukur dari status orang yang mendengarkan, melainkan juga dari perhatian terhadap mereka yang ingin menerima petunjuk.
Baca juga: Pengawasan Syariah Tak Cukup Sebatas Administrasi
Dalam konteks sekarang, pelajaran ini dapat diterapkan dengan menyediakan ruang belajar yang ramah bagi semua orang, mendengarkan kebutuhan mereka, dan tidak menganggap orang yang memiliki keterbatasan sebagai beban.
Kesetaraan bukan hanya memberikan perlakuan yang sama, tetapi juga memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang layak.
Kisah Abdullah bin Ummi Maktum mengingatkan umat Islam agar tidak menilai seseorang hanya dari penampilan atau kedudukan.
Orang yang tampak sederhana bisa memiliki kesungguhan besar untuk belajar, sedangkan orang yang berpengaruh belum tentu menerima nasihat.
Surah Abasa mengajak pembacanya mengevaluasi cara memperlakukan orang lain.
Dalam keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun ruang publik, perhatian dan kesempatan perlu diberikan tanpa diskriminasi.
Dengan begitu, pesan surah ini tidak berhenti sebagai kisah masa lalu, tetapi menjadi pedoman untuk membangun hubungan sosial yang lebih adil dan menghormati martabat setiap manusia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.