KOMPAS.com - Ka'b bin Malik merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang kisah pertobatannya diabadikan dalam Al-Qur'an. Ia termasuk satu dari tiga sahabat yang tidak mengikuti Perang Tabuk tanpa alasan yang dapat dibenarkan, lalu menghadapi masa pengucilan sebelum Allah menerima tobat mereka.
Kisah Ka'b diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari melalui penuturannya sendiri. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran tentang kejujuran, tanggung jawab atas kesalahan, dan kesungguhan untuk bertobat meskipun harus menghadapi konsekuensi yang berat.
Dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Ibnu Sa'd mencatat Ka'b bin Malik sebagai sahabat dari kalangan Ansar, tepatnya Bani Salimah dari suku Khazraj di Madinah. Ia juga dikenal sebagai penyair yang menggunakan kemampuannya untuk membela Islam.
Baca juga: Kalender Pendidikan Madrasah 2026/2027: Cek Jadwal Masuk, Ujian, Pembagian Rapor, dan Libur Sekolah
Ka'b termasuk sahabat yang mengikuti Baiat Aqabah Kedua, ketika sejumlah penduduk Yatsrib berjanji mendukung Rasulullah sebelum hijrah ke Madinah. Dalam riwayatnya di Sahih al-Bukhari, Ka'b menyebut peristiwa tersebut sebagai pengalaman penting dalam hidupnya.
Dalam Sahih al-Bukhari 4418, Ka'b menceritakan bahwa ia tidak mengikuti Perang Tabuk, meskipun saat itu berada dalam keadaan mampu. Ia mengaku memiliki kendaraan dan tidak menghadapi halangan yang membuatnya harus tinggal di Madinah.
كَانَ مِنْ خَبَرِي أَنِّي لَمْ أَكُنْ قَطُّ أَقْوَى وَلَا أَيْسَرَ حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْهُ فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ، وَاللَّهِ مَا اجْتَمَعَتْ عِنْدِي قَبْلَهُ رَاحِلَتَانِ قَطُّ حَتَّى جَمَعْتُهُمَا فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ.
Kāna min khabarī annī lam akun qaṭṭu aqwā wa lā aysara ḥīna takhallaftu ‘anhu fī tilka al-ghazwah, wallāhi mā ijtama‘at ‘indī qablahu rāḥilatāni qaṭṭu ḥattā jama‘tuhumā fī tilka al-ghazwah.
Baca juga: Dipandu Ustaz Salim A Fillah, jejak imani Gelar Umrah Akbar Lapis-Lapis Keberkahan 2026
Artinya: “Di antara kisahku, aku belum pernah berada dalam keadaan lebih kuat dan lebih lapang daripada ketika aku tertinggal dari beliau dalam peperangan itu. Demi Allah, sebelumnya aku tidak pernah memiliki dua kendaraan sekaligus, hingga aku memilikinya pada perang tersebut.”
Ka'b terus menunda persiapan karena merasa masih memiliki waktu. Ketika pasukan Rasulullah berangkat, ia belum juga menyiapkan perbekalan dan akhirnya tertinggal. Setelah menyadari kesalahannya, Ka'b tidak mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya.
Baca juga: Cara Memilih Pasangan dalam Islam, Ikhtiar Mencari Jodoh Dunia Akhirat
Ketika Rasulullah kembali dari Tabuk, banyak orang menyampaikan alasan ketidakhadiran mereka. Ka'b memilih berkata jujur bahwa dirinya tidak memiliki alasan yang dapat dibenarkan. Sikap ini menjadi titik penting dalam kisah pertobatannya.
Ka'b mengakui kesalahannya di hadapan Rasulullah. Nabi kemudian menangguhkan keputusan mengenai dirinya sampai Allah memberikan ketetapan. Dua sahabat lain, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi', juga mengalami keadaan serupa.
Ketiganya menjalani pengucilan sosial atas perintah Rasulullah. Ka'b meriwayatkan bahwa masa tersebut berlangsung selama 50 malam. Ia merasakan kesedihan dan tekanan karena hubungan dengan masyarakat berubah, tetapi tetap bertahan tanpa menarik kembali pengakuan jujurnya.
Baca juga: Kemenag Perketat Izin Pendirian Pesantren, Ada PBG dan SLF, Apa Itu?
Riwayat Ka'b dalam Sahih al-Bukhari merekam keteguhan sikapnya selama masa itu. Ia tidak menyamakan kejujuran dengan terbebas dari konsekuensi. Sebaliknya, ia menerima bahwa kesalahan yang diakuinya tetap harus dipertanggungjawabkan.
Setelah masa pengucilan berakhir, Allah menurunkan kabar penerimaan tobat ketiga sahabat tersebut. Peristiwa ini dikaitkan dengan Surah At-Taubah ayat 118.
Allah berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 118:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Wa ‘alaṡ-ṡalāṡatil-lażīna khullifū, ḥattā iżā ḍāqat ‘alaihimul-arḍu bimā raḥubat wa ḍāqat ‘alaihim anfusuhum wa ẓannū allā malja’a minallāhi illā ilaih, ṡumma tāba ‘alaihim liyatūbū, innallāha huwat-tawwābur-raḥīm.
Baca juga: Dudung Sampaikan Pesan Prabowo ke Santri: Setialah kepada Merah Putih
Artinya: “Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118).
Ayat tersebut menggambarkan beratnya keadaan yang dialami ketiga sahabat sebelum tobat mereka diterima. Ka'b kemudian dikenang melalui kisah ini sebagai contoh pentingnya mengakui kesalahan dan tidak meninggalkan kejujuran ketika menghadapi kesulitan.
Kisah Ka'b bin Malik tidak mengajarkan bahwa kesalahan dapat diabaikan selama seseorang mengakuinya. Pengakuan tersebut justru menjadi awal untuk bertanggung jawab dan memperbaiki diri.
Baca juga: Abdullah bin Amr bin Haram, Ayah Jabir yang Gugur dalam Perang Uhud
Riwayatnya juga memperlihatkan bahwa proses pertobatan dapat disertai masa sulit. Ka'b tidak segera terbebas dari konsekuensi setelah berkata jujur, tetapi ia tetap berpegang pada kebenaran sampai datang kabar penerimaan tobatnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kejujuran dan pertobatan perlu berjalan bersama. Seseorang tidak hanya dituntut mengakui kesalahan, tetapi juga bersedia menghadapi akibatnya dan kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.