Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Sarung dan peci memiliki makna yang melampaui fungsi sebagai pakaian.
Keduanya melekat dalam kehidupan pesantren, menjadi bagian dari ekspresi kebudayaan, sekaligus berkembang sebagai penanda identitas kebangsaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat terus mengenakan sarung dan peci agar tradisi tersebut tetap hidup.
Menurutnya, keberagaman corak busana juga dapat menjadi pintu untuk mengenali kekayaan budaya masyarakat.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Ajak ASN Kemenag Pakai Sarung dan Peci Seminggu Sekali
Dalam sambutannya pada kegiatan festival sarung dan peci, Menag berkelakar bahwa sarung lebih merdeka daripada celana. Kelakar tersebut menggambarkan keluwesan sarung yang digunakan dalam berbagai kegiatan, dari beribadah hingga beristirahat.
Di masyarakat, sarung hadir dalam banyak suasana. Kain ini dikenakan untuk salat, mengaji, berjaga malam, hingga bersantai di rumah.
Hubungan sarung dan peci dengan pesantren dibahas Firdausi dan A. Azis dalam penelitian berjudul Kopiah dan Sarung Identitas Pesantren (Studi Historis tentang Perlawanan Pesantren terhadap Kebudayaan Eropa).
Penelitian yang diterbitkan dalam Al-Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, volume 8 nomor 1 tahun 2024, halaman 198–219, tersebut menempatkan kopiah dan sarung sebagai bagian dari identitas pesantren.
Kajian itu juga menelusuri pemakaian keduanya dalam konteks perlawanan pesantren terhadap kebudayaan Eropa.
Dengan demikian, busana menjadi bagian dari cara masyarakat pesantren mempertahankan identitasnya.
Di lingkungan pesantren, sarung dan peci terus digunakan dalam keseharian. Keduanya menyertai kegiatan belajar, ibadah, maupun interaksi antarsantri.
Baca juga: Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung
Perjalanan peci tidak berhenti sebagai penutup kepala yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan Islam.
Dalam perkembangannya, peci hitam juga memperoleh makna sebagai simbol nasionalisme.
R Purwanti dalam skripsi berjudul Sejarah Peci Hitam sebagai Simbol Nasionalisme di Indonesia pada Tahun 1921–1949, membahas perubahan makna peci dari penutup kepala dalam konteks keagamaan menjadi simbol identitas bangsa. Termasuk peran Soekarno dalam proses tersebut.
Dalam penelusuran Purwanti, penggunaan peci oleh Soekarno pada rapat Jong Java tahun 1921 menjadi bagian dari pembahasan mengenai simbol perlawanan terhadap kolonialisme.
Menag turut menyinggung kedekatan Bung Karno dengan peci.
Menurutnya, pilihan tersebut menunjukkan kegemaran Soekarno mengenakan penutup kepala yang kemudian lekat dengan penampilannya.
Pemakaiannya pun melintasi kelompok agama. Dalam acara kenegaraan, peci dikenakan oleh pejabat dari beragam latar belakang keagamaan, sebagaimana turut disinggung Menag.
Menag juga menyoroti keterampilan mengenakan sarung yang perlu diwariskan kepada generasi muda.
Menurutnya, orang yang terbiasa hidup di pesantren dapat memakai sarung sepanjang hari tanpa tali pengikat dan tanpa mudah merosot. Sebaliknya, anak muda yang jarang mengenakannya belum tentu memahami cara melipat serta melilitkan sarung dengan tepat.
Ia turut mencontohkan penempatan jahitan sarung di bagian depan sebagai salah satu kebiasaan dalam mengenakannya.
Perhatian terhadap keterampilan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian busana berkaitan pula dengan praktik sehari-hari.
Tradisi membutuhkan kesempatan untuk terus digunakan dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Menag berharap festival sarung dan peci dapat mendorong lahirnya kreasi yang dekat dengan selera anak muda.
Pengembangan model diharapkan memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenakan keduanya sekaligus melanjutkan tradisi.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.