Penulis
KOMPAS.com – Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia mengapresiasi penyelenggaraan Festival Sarung dan Peci Santri yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) dalam rangka memperingati Hari Santri 2026.
Festival tersebut dinilai tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, tetapi juga berpotensi menjadi ruang pelestarian budaya Nusantara, penguatan citra pesantren, serta pengembangan ekonomi lokal dan industri kreatif.
Ketua Umum PK-Tren Indonesia, KH M Ilyas Marwal mengatakan pengawasan DPR terhadap kegiatan pemerintah merupakan bagian penting dari tata kelola pemerintahan. Namun, menurut dia, tujuan kebudayaan dan potensi manfaat kegiatan bagi masyarakat juga perlu menjadi pertimbangan.
“Kita sangat mengapresiasi pengawasan dari DPR yang memiliki fungsi pengawasan. Pada saat yang sama, kita juga perlu melihat tujuan kegiatan ini, yaitu merawat kebudayaan Nusantara, memperkenalkan kekayaan tradisi santri, dan membuka ruang bagi produk lokal untuk semakin dikenal masyarakat,” ujar Ilyas dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Baca juga: Sarung dan Peci, dari Identitas Pesantren hingga Simbol Kebangsaan
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kritik Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid terhadap penyelenggaraan Festival Sarung dan Peci Santri.
Abdul Wachid menyoroti penggunaan anggaran kegiatan di tengah kebijakan efisiensi dan meminta Menteri Agama Nasaruddin Umar mengevaluasi Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said.
Ilyas menilai sarung dan peci memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Keduanya tidak hanya menjadi bagian dari busana santri dan umat Islam, tetapi juga mencerminkan tradisi yang berkembang di berbagai daerah.
Menurut dia, setiap daerah memiliki kekhasan motif, bahan, corak, dan gaya dalam menghasilkan sarung maupun peci. Keragaman tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda.
“Indonesia merupakan negara yang berbhinneka tunggal ika serta multikultural. Sarung dan peci menjadi bagian dari kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Setiap daerah memiliki corak, motif, bahan, dan gaya yang berbeda. Keragaman inilah yang perlu dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda,” kata Ilyas.
Pengasuh Pondok Pesantren Sains dan Tahfidz Nurani, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu menambahkan, festival dapat menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa tradisi pesantren tumbuh bersama kebudayaan masyarakat Indonesia.
Pesantren, lanjut dia, tidak hanya berperan dalam pendidikan agama, tetapi juga ikut merawat identitas kebangsaan melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Ilyas juga mengapresiasi komitmen Dirjen Pesantren Basnang Said untuk merangkul berbagai kalangan dalam upaya memperkuat citra pesantren.
Menurut dia, berbagai persoalan yang terjadi di sebagian pesantren perlu diakui dan ditangani secara serius. Namun, persoalan tersebut tidak seharusnya menutupi kontribusi pesantren dalam pendidikan, pembentukan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Pesantren harus terus berbenah dan menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu melihat kontribusi pesantren secara lebih utuh. Ada kerja panjang para kiai, pengasuh, guru, dan santri dalam mendidik generasi serta membangun kehidupan sosial,” ujarnya.
Ia berpandangan, penguatan citra pesantren perlu melibatkan kiai, pengasuh, santri, tokoh masyarakat, generasi muda, kreator konten, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Islam.
Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat diperkenalkan melalui beragam cara yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai kontribusinya bagi bangsa.
Selain aspek kebudayaan, PK-Tren menilai Festival Sarung dan Peci Santri berpotensi membuka peluang ekonomi bagi perajin dan pelaku usaha lokal.
Ilyas mengatakan, sarung dan peci dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi desain, motif, bahan, kemasan, dan strategi pemasaran. Pengembangan tersebut dapat membuka peluang bagi perajin, penjahit, produsen, distributor, pedagang, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ketika sarung dan peci semakin dikenal dan digunakan masyarakat, ada peluang ekonomi yang dapat tumbuh di belakangnya. Bukan hanya perajin dan pedagang, melainkan juga pelaku ekonomi kreatif yang mengembangkan desain, motif, merek, kemasan, hingga pemasaran digital produk lokal,” kata Ilyas.
Ia menilai kolaborasi antara perajin tradisional, desainer muda, komunitas kreatif, pesantren, dan pelaku UMKM dapat memperluas manfaat festival.
Melalui kolaborasi tersebut, tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk yang kompetitif tanpa kehilangan identitas lokal.
Ilyas menambahkan, jangkauan aparatur sipil negara (ASN) Kemenag dan ekosistem pesantren yang tersebar di berbagai daerah berpotensi menjadi pengungkit promosi produk lokal.
Meski demikian, peningkatan permintaan tidak terjadi secara otomatis. Menurut dia, peluang tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas produk, inovasi, perluasan akses pemasaran, dan kemitraan yang berkelanjutan.
Baca juga: Hari Santri 2026, Menag Ajak ASN Kemenag Pakai Sarung dan Peci Seminggu Sekali
“Ini kesempatan untuk menghubungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan ekonomi. Sarung dan peci bisa menjadi produk unggulan yang mengangkat identitas daerah, menghidupkan kreativitas anak muda, dan memperkuat UMKM. Tentu, hal itu perlu diikuti dengan peningkatan kualitas, inovasi, akses pemasaran, dan kemitraan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Karena itu, Ilyas berharap Festival Sarung dan Peci Santri tidak berhenti pada kegiatan tahunan, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Ilyas turut mengapresiasi gagasan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Dirjen Pesantren Basnang Said mengenai penggunaan sarung dan peci bagi ASN Kemenag pada satu hari tertentu setiap pekan.
Menurut dia, gagasan tersebut dapat menjadi langkah untuk menghadirkan tradisi santri dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika peringatan Hari Santri atau kegiatan seremonial.
“Penggunaan sarung dan peci oleh ASN Kementerian Agama pada hari tertentu setiap pekan merupakan gagasan positif. Tradisi santri dapat hadir dalam keseharian, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara dan membuka peluang bagi produk lokal untuk semakin digunakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai, jangkauan program tersebut berpotensi luas karena ASN Kemenag tersebar dari tingkat pusat hingga daerah, dengan tugas di berbagai bidang pelayanan keagamaan dan pendidikan.
Kelompok yang dapat terhubung dengan gerakan tersebut juga mencakup penghulu, penyuluh agama, tenaga administrasi, guru madrasah, guru pendidikan agama, serta pendidik di lingkungan pendidikan keagamaan.
“Bayangkan jika gerakan ini mendapat dukungan luas dari ASN Kementerian Agama di seluruh Indonesia, dari kantor pusat hingga satuan kerja di daerah. Dengan jangkauan yang begitu besar, penggunaan sarung dan peci tidak hanya menjadi kebiasaan berpakaian, tetapi juga dapat menjadi gerakan untuk merawat budaya sekaligus mendukung produk lokal,” kata Ilyas.
Ia menambahkan, dukungan terhadap produk sarung dan peci buatan dalam negeri dapat membuka peluang bagi perajin, penjahit, produsen, distributor, pedagang, dan pelaku UMKM.
Namun, manfaat ekonomi tersebut perlu didukung dengan kualitas produk yang baik, desain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, promosi digital, dan kemitraan antara pesantren, pemerintah, serta pelaku usaha lokal.
Ilyas berharap Festival Sarung dan Peci Santri dapat menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang berkelanjutan. Menurut dia, keberhasilan kegiatan semacam ini tidak cukup diukur dari kemeriahan acara, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat semakin mengenal, menghargai, dan menggunakan produk budaya Nusantara.
“Merawat tradisi bukan berarti berhenti pada masa lalu. Tradisi perlu terus dihidupkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sarung dan peci adalah bagian dari kekayaan kita yang dapat menjadi jembatan antara identitas santri, kebudayaan Nusantara, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tutur Ilyas.
Baca juga: Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung
Ia berharap sinergi Kemenag, pesantren, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, dan masyarakat dapat membuat festival tersebut memberi manfaat lebih luas.
Dengan demikian, Festival Sarung dan Peci Santri diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi, tetapi juga memperkuat peran pesantren dalam kehidupan bangsa sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya usaha berbasis budaya lokal.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.