KOMPAS.com - Perasaan bersalah setelah terjerumus dalam zina, pornografi, atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam dapat menjadi pengingat untuk memperbaiki diri.
Namun, rasa bersalah sebaiknya tidak membuat seseorang merasa dirinya tidak lagi layak mendapatkan ampunan Allah SWT.
Islam mengajarkan umatnya untuk memohon ampun, bertobat, dan berusaha menjauhi perbuatan maksiat.
Selain memperbanyak istighfar, seorang Muslim dapat memanjatkan doa, membaca ayat Al-Quran, serta membangun kebiasaan yang membantu menjaga diri dari godaan.
Salah satu amalan yang dapat dilakukan ketika menyadari kesalahan adalah memperbanyak istighfar. Berikut bacaan istighfar yang tercantum dalam sejumlah kumpulan doa:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullāhal-‘aẓīmalladzī lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūmu wa atūbu ilaih.
Baca juga: Teks Doa dan Susunan Upacara Sumpah Pemuda 2026, Lengkap Link Download PDF
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Bacaan tersebut dapat digunakan untuk memohon ampun dan menyatakan keinginan untuk bertobat.
Anjuran memperbanyak istighfar ditegaskan dalam hadis sahih. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Wallāhi innī la-astaghfirullāha wa atūbu ilaihi fil-yaumi aktsara min sab‘īna marratan.
Artinya: “Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR Bukhari Nomor 6307).
Baca juga: Teks Doa Upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 Kemenpora Lengkap dengan Link PDF
Hadis ini menunjukkan bahwa istighfar dan taubat merupakan amalan yang terus dilakukan Rasulullah SAW.
Karena itu, seseorang tidak seharusnya menunda pertobatan hanya karena merasa telah melakukan banyak kesalahan.
Seseorang juga dapat berdoa dengan bahasa sendiri untuk meminta ampunan, kebersihan hati, dan kekuatan menjaga kehormatan diri.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَطَهِّرْ قَلْبِي، وَحَصِّنْ فَرْجِي
Allāhummaghfir lī, wa ṭahhir qalbī, wa ḥaṣṣin farjī.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, sucikanlah hatiku, dan jagalah kehormatanku.”
Bacaan ini dapat dipahami sebagai doa permohonan kepada Allah. Memahami maknanya dan menyertai doa dengan usaha nyata untuk meninggalkan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Baca juga: Teks Doa Upacara Sumpah Pemuda 2026 Resmi Kemenpora Lengkap dengan Link Download PDF
Allah SWT menjelaskan pentingnya menjaga kehormatan diri dalam Surah Al-Mu’minun ayat 5–7:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Walladzīna hum lifurūjihim ḥāfiẓūn. Illā ‘alā azwājihim aw mā malakat aimānuhum fa innahum ghairu malūmīn. Fa manibtaghā warā’a dzālika fa ulā’ika humul-‘ādūn.
Artinya: “Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Mu’minun: 5–7).
Baca juga: Abu Qatadah Al-Anshari, Kesatria yang Dijuluki Penunggang Kuda Rasulullah
Ayat tersebut menegaskan pentingnya menjaga kehormatan diri sesuai tuntunan Allah.
Upaya itu dapat dimulai dengan mengenali pemicu perilaku yang ingin ditinggalkan, membatasi akses terhadap konten pornografi, serta menghindari situasi yang mendorong seseorang kembali melakukan maksiat.
Selain membaca Al-Qur’an, seorang Muslim dapat memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan dirinya dan godaan yang menjerumuskannya.
Doa dapat disampaikan menggunakan bahasa sendiri, misalnya dengan meminta keteguhan hati dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Adapun salah satu doa perlindungan yang memiliki dasar hadis adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Syakal bin Humaid.
Dalam riwayat yang dicantumkan dalam Riyadhus Shalihin nomor 1483, Rasulullah mengajarkan permohonan perlindungan dari keburukan pendengaran, penglihatan, lisan, hati, dan dorongan seksual.
Baca juga: Saat 680 Pengasuh Ponpes Berdoa untuk Indonesia lewat Dalailul Khairat...
Dari Syakal bin Humaid RA, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebuah doa.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Ucapkanlah:’”
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min syarri sam‘ī, wa min syarri basharī, wa min syarri lisānī, wa min syarri qalbī, wa min syarri maniyyī.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan dorongan seksualku.”
Baca juga: Ayat 11-18 Surah Al-Balad: Pesan tentang Kepedulian kepada Sesama
Rasulullah SAW juga menganjurkan puasa bagi orang yang belum mampu menikah sebagai salah satu cara mengendalikan dorongan seksual. Anjuran ini tercantum dalam hadis berikut:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Yā ma‘syaras-syabāb, manistaṭā‘a al-bā’ata falyatazawwaj, fa innahū aghaḍḍu lil-baṣari wa aḥṣanu lil-farji, wa man lam yastaṭi‘ fa ‘alaihi biṣ-ṣaum, fa innahū lahū wijā’.
Artinya: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah menikah karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu, hendaklah berpuasa karena puasa menjadi pelindung baginya.” (HR Bukhari Nomor 5066).
Baca juga: Gaji Terlambat Dibayar, Ini Hak Pekerja Menurut Islam
Selain puasa, seseorang dapat memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, menjaga pandangan, dan mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Puasa bukan satu-satunya langkah, melainkan bagian dari ikhtiar mengendalikan diri.
Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, melainkan juga meninggalkan perbuatan dosa, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya.
Apabila seseorang kembali tergelincir, ia perlu kembali memperbaiki diri dan tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Perasaan bersalah sebaiknya diarahkan menjadi dorongan untuk berubah, bukan alasan untuk membenci diri sendiri atau berputus asa dari rahmat Allah.
Doa, istighfar, puasa, dan upaya menjauhi pemicu maksiat dapat dijalankan bersama-sama.
Baca juga: Sudah Memulai Puasa Sunnah, Bolehkah Membatalkannya di Tengah Hari?
Dengan demikian, seseorang tidak hanya memohon ampun melalui lisan, tetapi juga menunjukkan kesungguhan melalui perubahan perilaku.
Proses memperbaiki diri mungkin membutuhkan waktu, tetapi pintu taubat tetap menjadi tempat kembali bagi orang yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki dirinya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.