Editor
KOMPAS.com - Shalat merupakan ibadah utama dalam Islam yang wajib dilaksanakan umat Muslim lima kali sehari, yakni Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.
Dalam pelaksanaannya, umat Islam dianjurkan menjaga kekhusyukan dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, termasuk terkait arah pandangan mata saat shalat.
Salah satu yang kerap jadi pertanyaan adalah hukum memejamkan mata ketika shalat, dimana sering dilakukan untuk menjaga fokus dan kekhusyukan ketika beribadah.
Baca juga: Bolehkah Membaca Al-Quran dari HP Saat Shalat? Ini Penjelasannya
Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah pernah membahas persoalan memejamkan mata saat shalat dan berdoa dalam tulisan “Memejamkan Mata Saat Shalat Dan Berdo’a”, yang dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 24 Tahun 2018.
Pembahasan ini dimulai dengan syarat wajib, syarat sah, dan rukun shalat yang harus dipenuhi.
Baca juga: Bolehkah Berdoa dengan Kata-Kata Sendiri Saat Shalat? Ini Penjelasannya dari Berbagai Mazhab
Oleh karena itu, tata cara pelaksanaannya perlu mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
عَنْ أَبِي قِلَابَةَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ قَالَ :أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : … وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Dari Abu Qilabah, Malik bin al-Huwairits berkata: Kami mendatangi Nabi Saw, lalu beliau bersabda … dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” [HR. al-Bukhari no. 6705].
Hadis tersebut menegaskan bahwa umat Islam diperintahkan melaksanakan shalat sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkannya.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah arah pandangan mata yang diarahkan ke tempat sujud untuk membantu menjaga konsentrasi selama beribadah.
Meski demikian, muncul pertanyaan mengenai hukum memejamkan mata saat shalat, terutama bagi orang yang merasa lebih mudah berkonsentrasi ketika tidak melihat berbagai hal di sekitarnya.
Rasulullah SAW melarang umatnya mengangkat pandangan ke langit ketika sedang shalat. Larangan tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut:
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعُ إِلَيْهِمْ
Artinya: “Dari Jabir bin Samurah, Rasulullah Saw bersabda: Hendaklah suatu kaum menghentikan kebiasaan mengangkat pandangan ke langit dalam shalat, atau (jika tidak), pandangan itu tidak akan kembali kepada mereka (buta).” [HR. Muslim no. 649].
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya menjaga arah pandangan selama shalat. Pandangan yang terarah ke tempat sujud dapat membantu seseorang memusatkan perhatian pada ibadah dan mengurangi gangguan dari lingkungan sekitar.
Al-Qur'an juga menegaskan bahwa kekhusyukan merupakan salah satu ciri orang beriman yang beruntung. Hal ini tercantum dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–2:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ, الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minun [23]: 1–2).
Menjaga kekhusyukan dalam shalat bukan perkara mudah bagi setiap orang. Suara bising, orang yang berlalu-lalang, ornamen masjid, hingga tulisan pada pakaian jamaah dapat mengalihkan perhatian ketika seseorang sedang beribadah.
Karena itu, sebagian orang memilih memejamkan mata agar lebih mudah berkonsentrasi.
Namun, kebiasaan tersebut perlu dipahami berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW dan penjelasan hukum yang disampaikan dalam pembahasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Dalam riwayat yang disebutkan, tidak ada keterangan bahwa Rasulullah SAW membiasakan memejamkan mata ketika shalat. Sebaliknya, terdapat hadis yang menunjukkan bahwa orang yang sedang shalat tetap perlu memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ اْلأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ الْعَقْرَبِ وَالْحَيَّةِ
Artinya: “Bahwasanya Rasulullah Saw memerintahkan membunuh dua binatang hitam ketika shalat, yaitu kalajengking dan ular.” (HR. Ibnu Khuzaimah).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang sedang shalat dapat menghadapi keadaan yang mengharuskannya memperhatikan lingkungan sekitar. Keberadaan hewan berbahaya, seperti kalajengking dan ular, menjadi salah satu contoh pentingnya kewaspadaan ketika beribadah.
Memejamkan mata saat shalat tidak dianjurkan sebagai kebiasaan tanpa alasan yang jelas. Hal ini karena tuntunan Rasulullah SAW tidak menunjukkan kebiasaan memejamkan mata ketika melaksanakan shalat.
Meski demikian, terdapat kelonggaran apabila seseorang menghadapi gangguan nyata yang menyulitkannya menjaga kekhusyukan. Misalnya, terdapat gambar, tulisan mencolok, atau keadaan di sekitarnya yang terus mengalihkan perhatian selama shalat.
Dalam kondisi seperti itu, memejamkan mata dapat dilakukan sebagai cara sementara untuk membantu mengurangi gangguan. Dengan demikian, hukum memejamkan mata saat shalat bersifat kondisional, bergantung pada keadaan dan alasan yang melatarbelakanginya.
Umat Islam tetap dianjurkan mengarahkan pandangan ke tempat sujud dan berusaha menghadirkan hati ketika menjalankan ibadah. Kekhusyukan perlu dijaga tanpa mengabaikan tuntunan Rasulullah SAW maupun kewaspadaan terhadap keadaan yang membahayakan.
Hukum memejamkan mata saat shalat pada dasarnya tidak dianjurkan jika dilakukan tanpa alasan yang jelas, karena tidak dicontohkan sebagai kebiasaan Rasulullah SAW.
Namun, tindakan tersebut dapat dibolehkan dalam kondisi tertentu ketika terdapat gangguan yang nyata dan memejamkan mata membantu menjaga konsentrasi.
Hal terpenting ialah melaksanakan shalat sesuai tuntunan Rasulullah SAW serta berupaya menghadirkan kekhusyukan dalam setiap gerakan dan bacaan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.