KOMPAS.com - Kematian merupakan kepastian yang tidak diketahui waktu kedatangannya.
Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan kesempatan hidup untuk memperbanyak amal saleh, memohon ampun kepada Allah SWT, dan memperbaiki kesalahan sebelum terlambat.
Salah satu amalan yang dapat dibiasakan ialah istighfar, yakni memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kekhilafan. Namun, istighfar bukan sekadar mengulang ucapan astagfirullah.
Amalan ini juga perlu disertai kesadaran atas kesalahan, pertobatan, dan upaya memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Qul yā ‘ibādiyallażīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunūba jamī‘ā, innahū huwal-gafūrur-raḥīm.
Baca juga: Tokoh Agama Sasak TGH Lalu Nurudin Marzuki Wafat Saat Pimpin Doa
Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS Az-Zumar: 53).
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya berputus asa dari rahmat Allah karena dosa yang pernah dilakukan.
Kesempatan untuk bertobat perlu dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, bukan dijadikan alasan untuk terus mengulangi kesalahan tanpa perubahan.
Baca juga: Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Anjuran memperbanyak istighfar juga tercermin dalam kebiasaan Rasulullah SAW. Dalam Sahih Muslim nomor 2702b, beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Yā ayyuhan-nāsu tūbū ilallāh, fa innī atūbu ilaihi fil-yaumi mi’ata marratin.
Artinya: “Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim 2702b).
Hadis ini menunjukkan bahwa pertobatan dan permohonan ampun merupakan amalan yang perlu terus dijaga.
Rasulullah SAW mencontohkan kebiasaan tersebut, sehingga umat Islam dapat menjadikan istighfar sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya ketika menghadapi kesulitan atau merasa takut akan kematian.
Baca juga: Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Kematian tidak selalu datang ketika seseorang telah berusia lanjut. Oleh sebab itu, membiasakan istighfar sejak sekarang menjadi langkah untuk menjaga kesadaran bahwa kesempatan memperbaiki diri tidak berlangsung selamanya.
Syarat tobat memperingatkan pentingnya menyegerakan pertobatan sebelum ajal menjemput.
Penyesalan atas dosa perlu diikuti dengan kesungguhan untuk kembali kepada Allah dan memperbaiki tindakan.
Artinya, istighfar sebaiknya tidak hanya muncul ketika seseorang sedang sakit atau menghadapi keadaan yang mengingatkannya pada kematian.
Dalam kondisi sehat dan sibuk sekalipun, seorang Muslim tetap dapat mengevaluasi perilakunya serta memohon ampun atas kesalahan yang disadari.
Baca juga: Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Mengucapkan istighfar merupakan bentuk permohonan ampun, tetapi pertobatan juga menuntut kesungguhan untuk meninggalkan dosa.
Seseorang yang menyesali kesalahannya perlu berusaha tidak mengulanginya dan membangun kebiasaan yang lebih baik.
Jika kesalahan melibatkan hak orang lain, perbaikan juga perlu diarahkan pada pemulihan hak tersebut.
Misalnya, mengembalikan barang yang diambil tanpa izin, melunasi kewajiban yang belum ditunaikan, atau meminta maaf atas tindakan yang menyakiti orang lain jika memungkinkan.
Dengan demikian, istighfar tidak berhenti pada ucapan lisan. Kebiasaan ini seharusnya mendorong seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak, menjaga hubungan dengan sesama, serta memperbaiki kualitas ibadahnya.
Istighfar dapat dibiasakan setelah salat wajib, ketika memiliki waktu luang, atau sebelum beristirahat pada malam hari.
Seseorang juga dapat menyediakan waktu untuk mengevaluasi perbuatannya sepanjang hari, mengenali kesalahan, lalu memohon ampun dengan sungguh-sungguh.
Baca juga: Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Tidak perlu menunggu memiliki banyak waktu untuk memulainya. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menjaga kesadaran spiritual.
Namun, jumlah bacaan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan; pemahaman makna dan kesungguhan memperbaiki diri juga penting.
Membiasakan istighfar merupakan salah satu ikhtiar mempersiapkan kehidupan akhirat.
Amalan ini bukan jaminan bahwa seseorang pasti memperoleh akhir kehidupan tertentu, tetapi menjadi jalan untuk terus kembali kepada Allah.
Karena ajal tidak diketahui waktunya, kesempatan untuk memohon ampun, memperbaiki kesalahan, dan berbuat baik sebaiknya dimanfaatkan mulai sekarang.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.