Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji

Kompas.com, 29 Oktober 2026, 09:21 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Di balik pelayanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, ada peran warga keturunan Indonesia yang lahir dan besar di negara tersebut.

Di kalangan petugas haji, sebagian dari mereka dikenal dengan sebutan “generasi Aiwa”.

Kasubdit Pengkajian Kitab Kuning, Direktorat Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Non Formal, Nasrullah Jasam menjelaskan, sebutan itu berasal dari kata aiwa, bahasa Arab percakapan yang berarti “iya”.

Menurut Nasrullah, kata tersebut kerap diucapkan ketika mereka menjawab panggilan. Kebiasaan itu kemudian menjadi sebutan yang populer di kalangan petugas haji Indonesia.

“Lantas, kenapa dipanggil Aiwa? Karena ketika dipanggil mereka menjawab ‘aiwa’,” kata Nasrullah dikutip dari laman Kemenag, Kamis (29/10/2026).

Baca juga: Cerita Travel Haji dan Umrah Hadapi Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik

Menjadi penghubung bahasa dan budaya

Nasrullah mengatakan, sebagian warga keturunan Indonesia tersebut direkrut sebagai tenaga musiman operasional haji maupun tenaga pendukung layanan akomodasi, transportasi, dan konsumsi.

Mereka membantu petugas Indonesia berkomunikasi dengan instansi terkait di Arab Saudi. Meski memiliki leluhur dari Indonesia, sebagian tidak lancar berbahasa Indonesia.

Mereka lahir dan tumbuh dalam lingkungan berbahasa Arab, bahkan ada yang belum pernah mengunjungi Indonesia.

Menurut Nasrullah, penguasaan bahasa dan pemahaman budaya setempat menjadi bekal penting dalam mendukung pekerjaan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

“Keberadaan mereka di PPIH Arab Saudi betul-betul dibutuhkan,” ujarnya.

Ia menilai, kedekatan budaya membantu komunikasi dan koordinasi dengan pihak setempat, terutama ketika petugas menghadapi persoalan pelayanan jemaah.

Baca juga: Daftar Jemaah Berhak Lunas Haji 2027 Diumumkan, Ini Cara Mengeceknya

Perbedaan kebiasaan dalam komunikasi

Pertemuan dua budaya tersebut juga menghadirkan tantangan.

Nasrullah menceritakan, sebagian tenaga musiman yang baru bergabung pernah mengalami kesalahpahaman dengan petugas Indonesia karena perbedaan cara berbicara.

Intonasi yang dianggap biasa oleh seseorang, misalnya, dapat dipahami sebagai sikap kurang sopan oleh lawan bicaranya.

Karena itu, menurut Nasrullah, perbedaan kebiasaan perlu dipahami dalam komunikasi sehari-hari.

Seiring keterlibatan mereka dalam pelayanan haji, sebagian mulai terbiasa menggunakan sapaan seperti bapak, ibu, mas, dan mbak. Mereka juga semakin memahami kebiasaan petugas maupun jemaah Indonesia.

Proses penyesuaian bahasa itu terkadang menghadirkan pengalaman ringan. Nasrullah mengingat seorang tenaga pendukung yang mengatakan “menurut pendapatan saya”, padahal yang dimaksud adalah “menurut pendapat saya”.

Membantu pemulangan jemaah korban Mina

Nasrullah juga menceritakan peran seorang warga keturunan Palembang bernama Ni’mat Nur Matasief dalam membantu pemulangan jemaah Indonesia korban peristiwa Mina pada 2015.

Menurut penuturannya, jemaah tersebut telah dirawat sekitar tujuh bulan di rumah sakit Arab Saudi. Keluarga menginginkan pemulangan, tetapi kondisi pasien belum memungkinkan untuk menjalani perjalanan biasa.

Ni’mat, yang saat itu disebut bekerja sebagai manajer promosi pelayanan kesehatan di rumah sakit Garda Nasional Arab Saudi, kemudian berkirim surat kepada pengambil kebijakan setempat.

Dalam surat itu, ia menjelaskan kemungkinan pemulangan pasien menggunakan evakuasi medis melalui udara atau medevac, dengan pesawat yang dilengkapi fasilitas medis.

Nasrullah menyebut permohonan tersebut akhirnya disetujui. Jemaah dipulangkan dengan fasilitas medevac tanpa biaya, yang menurutnya bernilai lebih dari Rp 2 miliar.

Jejak hubungan panjang dengan Nusantara

Keberadaan warga keturunan Indonesia di Arab Saudi, menurut Nasrullah, berkaitan dengan sejarah panjang perjalanan masyarakat Nusantara ke Tanah Suci.

Selain menunaikan haji, sebagian datang untuk menuntut ilmu dan kemudian memilih menetap. Hubungan keilmuan itu antara lain tercermin melalui perjalanan ulama seperti Syekh Abdul Rauf as-Singkili, Syekh Yusuf al-Makassari, dan Syekh Nawawi al-Bantani.

Nasrullah menilai, kontribusi warga keturunan Indonesia dalam pelayanan haji menunjukkan ikatan yang tetap terpelihara dengan tanah leluhur.

“Mereka tunjukkan rasa kecintaan mereka kepada tanah air dengan membantu para jemaah haji asal Indonesia,” katanya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Aktual
6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
Aktual
Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Aktual
Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Aktual
Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Aktual
Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Aktual
Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi
Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi
Aktual
Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Aktual
3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
Aktual
Cegah Kecurangan, Kemenag Hubungkan Data Nikah dan Cerai pada 2027
Cegah Kecurangan, Kemenag Hubungkan Data Nikah dan Cerai pada 2027
Aktual
7 Kebiasaan Sederhana yang Dicintai Allah, Jangan Disepelekan
7 Kebiasaan Sederhana yang Dicintai Allah, Jangan Disepelekan
Aktual
Apakah Shalat Ostomate Tetap Sah jika Kantong Kolostomi Terisi Kotoran? Ini Penjelasannya
Apakah Shalat Ostomate Tetap Sah jika Kantong Kolostomi Terisi Kotoran? Ini Penjelasannya
Aktual
Hukum Jilbab Punuk Unta dalam Islam yang Dikaitkan dengan Penghuni Neraka, Bagaimana Penjelasannya?
Hukum Jilbab Punuk Unta dalam Islam yang Dikaitkan dengan Penghuni Neraka, Bagaimana Penjelasannya?
Aktual
Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
4 Perbuatan yang Mendatangkan Laknat Allah Menurut Hadis, Muslim Wajib Menghindari
4 Perbuatan yang Mendatangkan Laknat Allah Menurut Hadis, Muslim Wajib Menghindari
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar