Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi

Kompas.com, 29 Oktober 2026, 08:11 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Umair bin Wahb Al-Jumahi merupakan salah satu tokoh Quraisy yang kemudian memeluk Islam setelah sebelumnya menjadi penentang Nabi Muhammad SAW.

Perubahan sikapnya berlangsung setelah Perang Badar, ketika kekalahan kaum Quraisy memperbesar permusuhan terhadap kaum Muslimin.

Kisah keislaman Umair dikenal melalui literatur sirah Nabi, termasuk riwayat yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Ishaq dan dicatat Ibn Hisyam.

Sementara itu, Ibn Sa'd dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā dan Ibn Hajar al-'Asqalani dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah menjadi rujukan penting untuk menelusuri identitas dan kedudukannya dalam sejarah para sahabat.

Mengenal Umair bin Wahb

Umair bin Wahb berasal dari Bani Jumah, salah satu kelompok dalam suku Quraisy di Makkah.

Ibn Sa'd mencatat namanya dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā pada pembahasan tokoh-tokoh Bani Jumah. Ayahnya bernama Wahb bin Khalaf, sedangkan kunyah Umair adalah Abu Umayyah.

Baca juga: 5 Amalan Ringan Berpahala Besar yang Bisa Dibiasakan Setiap Hari

Sebelum memeluk Islam, Umair berada di pihak Quraisy yang memerangi kaum Muslimin.

Namanya berkaitan dengan Perang Badar, pertempuran yang berakhir dengan kekalahan Quraisy dan penawanan sejumlah tokohnya.

Peristiwa itu menjadi latar penting bagi kisah perubahan sikap Umair terhadap Nabi Muhammad.

Permusuhan Setelah Perang Badar

Kekalahan Quraisy dalam Perang Badar menimbulkan kemarahan dan duka di kalangan tokoh Makkah.

Dalam kisah yang dicatat Ibn Hisyam dari tradisi sirah Ibn Ishaq, Umair digambarkan sebagai orang yang memiliki alasan pribadi untuk memusuhi kaum Muslimin karena putranya, Wahb bin Umair, menjadi tawanan setelah pertempuran tersebut.

Riwayat sirah itu juga menghubungkan Umair dengan Safwan bin Umayyah, tokoh Quraisy yang kehilangan kerabat dalam Perang Badar.

Keduanya disebut membicarakan kekalahan Quraisy dan kemungkinan membalas kematian orang-orang mereka.

Baca juga: Bolehkah Menangisi Orang yang Sudah Meninggal? Ini Penjelasan Islam

Kisah percakapan tersebut berasal dari literatur sirah, bukan hadis dalam kitab Sahih al-Bukhari atau Sahih Muslim.

Karena itu, rincian percakapannya perlu dipahami sebagai bagian dari riwayat sejarah, bukan diperlakukan sebagai sabda Nabi atau peristiwa yang otomatis memiliki derajat hadis sahih.

Perjalanan Umair ke Madinah

Dalam riwayat sirah tersebut, Umair kemudian berangkat ke Madinah dengan membawa pedang. Safwan disebut menanggung utang Umair dan menjamin keluarganya sebagai bagian dari kesepakatan yang berkaitan dengan rencana membunuh Nabi Muhammad.

Setibanya di Madinah, kedatangan Umair menimbulkan kewaspadaan di kalangan kaum Muslimin.

Umar bin Khattab mengenalinya sebagai salah seorang tokoh Quraisy yang memusuhi Islam. Umair kemudian dibawa menghadap Nabi Muhammad.

Baca juga: Memaknai Sumpah Pemuda, Kuasai Teknologi Tanpa Meninggalkan Adab

Bagian ini menjadi titik penting dalam kisah keislamannya. Riwayat sirah menggambarkan bahwa Nabi mengetahui pembicaraan yang sebelumnya dilakukan Umair bersama Safwan.

Umair kemudian menyadari bahwa rencana yang ia rahasiakan telah diketahui Nabi dan akhirnya menyatakan keislamannya.

Beralih Menjadi Pembela Islam

Setelah memeluk Islam, Umair tidak lagi berada di pihak yang memusuhi kaum Muslimin. Kisah sirah menyebutkan bahwa ia kembali ke Makkah dan mengajak orang-orang menerima Islam.

Namun, rincian mengenai jumlah orang yang masuk Islam melalui ajakannya tidak bisa dipastikan tepat jumlahnya. 

Perubahan Umair memperlihatkan pergeseran sikap dari permusuhan menuju penerimaan terhadap ajaran Nabi Muhammad. 

Baca juga: GP Ansor Apresiasi Polri Ungkap 10,5 Ton Narkoba, Desak Sindikat Asing Dibongkar

Pelajaran dari Kisah Umair bin Wahb

Umair bin Wahb dikenang sebagai tokoh Quraisy yang kemudian menjadi sahabat Nabi setelah sebelumnya berada di pihak penentang Islam.

Kisahnya menunjukkan bahwa sikap seseorang dapat berubah seiring pengalaman dan perjumpaan dengan pandangan yang sebelumnya ia tolak.

Dalam penulisan sejarah sahabat, kisah perubahan Umair juga mengingatkan pentingnya memeriksa asal riwayat.

Karya Ibn Sa'd dan Ibn Hajar membantu menelusuri identitasnya, sedangkan literatur sirah memberikan konteks tentang perjalanan menuju keislamannya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
Aktual
Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Aktual
Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Aktual
Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Aktual
Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Aktual
Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi
Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi
Aktual
Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Aktual
3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
Aktual
Cegah Kecurangan, Kemenag Hubungkan Data Nikah dan Cerai pada 2027
Cegah Kecurangan, Kemenag Hubungkan Data Nikah dan Cerai pada 2027
Aktual
7 Kebiasaan Sederhana yang Dicintai Allah, Jangan Disepelekan
7 Kebiasaan Sederhana yang Dicintai Allah, Jangan Disepelekan
Aktual
Apakah Shalat Ostomate Tetap Sah jika Kantong Kolostomi Terisi Kotoran? Ini Penjelasannya
Apakah Shalat Ostomate Tetap Sah jika Kantong Kolostomi Terisi Kotoran? Ini Penjelasannya
Aktual
Hukum Jilbab Punuk Unta dalam Islam yang Dikaitkan dengan Penghuni Neraka, Bagaimana Penjelasannya?
Hukum Jilbab Punuk Unta dalam Islam yang Dikaitkan dengan Penghuni Neraka, Bagaimana Penjelasannya?
Aktual
Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
4 Perbuatan yang Mendatangkan Laknat Allah Menurut Hadis, Muslim Wajib Menghindari
4 Perbuatan yang Mendatangkan Laknat Allah Menurut Hadis, Muslim Wajib Menghindari
Aktual
Manajemen Marah dalam Hadis Nabi, Ini 4 Cara Mengendalikan Emosi
Manajemen Marah dalam Hadis Nabi, Ini 4 Cara Mengendalikan Emosi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar