Editor
KOMPAS.com - Marah merupakan emosi alami yang dapat dialami setiap orang ketika menghadapi kekecewaan, ketidakadilan, atau situasi yang tidak sesuai harapan.
Namun, dalam ajaran Islam, seorang Muslim dianjurkan untuk mengendalikan amarah agar tidak menimbulkan perkataan dan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Baca juga: Mengapa Bunuh Diri Dilarang dalam Islam? Ini Dalil Larangannya dalam Al-Quran dan Hadis
Rasulullah SAW memberikan teladan dalam mengelola emosi melalui sikap dan sejumlah hadis tentang larangan marah. Pengendalian amarah juga berkaitan dengan ketakwaan, kesabaran, dan kemampuan memaafkan sesama.
Hal tersebut pernah disampaikan Andi Suseno, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DI Yogyakarta, dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islam Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Baca juga: Mengapa Orang Baik Tetap Diuji? Simak Penjelasan Hadis Nabi
Dikutip dari laman Muhammadiyah, Andi Suseno menjelaskan bahwa marah merupakan kondisi emosional yang wajar dan hampir setiap orang pernah mengalaminya.
Ia membuka ceramah dengan mengingatkan jemaah bahwa kemarahan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan sehari-hari.
“Hampir tidak ada di ruangan ini yang tidak pernah marah,” ujarnya, disambut tawa jemaah.
Menurut Andi, kemarahan dapat dipicu faktor eksternal, seperti kekecewaan, ketidakadilan, dan ancaman. Emosi tersebut juga dapat muncul akibat faktor internal, termasuk perubahan kondisi biologis dan faktor genetik.
Meski demikian, seorang Muslim tidak seharusnya membiarkan amarah menguasai dirinya. Islam mengajarkan agar emosi tersebut dikelola dengan bijak, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Andi menjelaskan, Rasulullah SAW juga pernah marah. Namun, kemarahan beliau tetap terkendali dan berkaitan dengan kehormatan Allah serta pelanggaran terhadap ajaran agama, bukan karena kepentingan pribadi.
Salah satu contoh yang disampaikan Andi adalah ketika Rasulullah menegur Mu’adz bin Jabal yang membaca surah terlalu panjang saat menjadi imam salat. Bacaan tersebut dinilai memberatkan jemaah yang mengikuti salat.
“Nabi bertanya, ‘Wahai Mu’adz, apakah kamu ingin menjadikan agama ini sebagai fitnah?’” ujar Andi.
Ia menekankan bahwa peristiwa tersebut mengajarkan pentingnya mempertimbangkan kondisi jemaah dalam beribadah. Pemimpin salat perlu memperhatikan kemampuan orang-orang yang berada di belakangnya agar ibadah tidak menjadi beban.
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa dirinya merupakan manusia biasa yang dapat mengalami kemarahan. Hal ini sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ
Artinya: “Saya manusia biasa, saya marah sebagaimana manusia lainnya marah,” (H.R. Ahmad).
Menurut Andi, teladan tersebut menunjukkan bahwa kemarahan merupakan bagian dari sifat manusia. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mengelola dan menyalurkan emosinya agar tetap berada dalam batas yang dibenarkan.
Salah satu nasihat Rasulullah SAW mengenai pengendalian emosi adalah larangan untuk marah. Dalam sebuah hadis, Nabi menyampaikan pesan singkat kepada seorang sahabat yang meminta nasihat.
لَا تَغْضَبْ
Artinya: “Janganlah kamu marah.”
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW mengulangi nasihat itu hingga tiga kali. Pesan serupa juga terdapat dalam hadis berikut:
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ
Artinya: “Janganlah kamu marah, maka bagimu surga,” (H.R. Ahmad).
Andi menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan amarah tidak hanya berkaitan dengan kehidupan akhirat, tetapi juga membawa manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sikap tersebut dapat membantu menjaga keharmonisan rumah tangga, mempererat hubungan sosial, dan mencegah pertengkaran yang tidak perlu.
Dengan demikian, larangan marah dalam hadis tidak sekadar mengajak seseorang menekan emosi, tetapi juga mengarahkannya agar mampu bersikap lebih bijaksana ketika menghadapi persoalan.
Dalam kajian tersebut, Andi menyampaikan empat langkah praktis untuk mengendalikan amarah berdasarkan hadis Nabi. Cara-cara ini dapat diterapkan ketika seseorang mulai merasa emosinya meningkat.
Langkah pertama adalah menahan diri untuk tidak langsung berbicara ketika sedang marah. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُتْ
Artinya: “Jika kamu marah, diamlah.”
Diam memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menenangkan diri sebelum merespons situasi yang memicu emosi. Dengan tidak terburu-buru berbicara, seseorang dapat menghindari perkataan kasar atau ucapan yang berpotensi memperburuk konflik.
Cara kedua adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan membaca:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Andi menjelaskan bahwa langkah ini berkaitan dengan hadis yang menyebutkan:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ
Artinya: “Sesungguhnya marah berasal dari setan.”
Membaca taawudz menjadi salah satu upaya untuk mengingat Allah dan menahan diri dari dorongan emosi yang dapat membawa seseorang pada tindakan buruk.
Langkah ketiga adalah berwudu ketika kemarahan mulai muncul. Rasulullah SAW bersabda:
فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah berwudu.”
Andi mengibaratkan amarah seperti api yang perlu dipadamkan. Berwudu menjadi salah satu cara untuk membantu seseorang mengambil jeda, menenangkan diri, dan mengalihkan perhatian dari situasi yang memicu kemarahan.
Cara keempat adalah mengubah posisi tubuh ketika marah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ لَمْ يَذْهَبْ فَلْيَضْطَجِعْ
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian marah saat berdiri, hendaklah ia duduk. Jika amarahnya belum hilang, hendaklah ia berbaring.”
Mengubah posisi tubuh dapat menjadi kesempatan untuk menghentikan reaksi spontan ketika emosi meningkat. Dengan duduk atau berbaring, seseorang dapat mengambil jeda sebelum memutuskan tindakan atau menyampaikan respons terhadap persoalan yang dihadapi.
Andi menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan marah berkaitan erat dengan ketakwaan. Ia mengutip Surah Ali Imran ayat 133-134 yang menjelaskan karakter orang bertakwa, termasuk kemampuan menahan amarah dan memaafkan orang lain.
Dua bagian ayat yang menjadi penekanan ialah كَاظِمِينَ الْغَيْظَ, yang berarti menahan amarah, dan وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ, yang berarti memaafkan orang lain.
Menurut Andi, pengendalian emosi tidak cukup dilakukan hanya ketika seseorang sedang menghadapi konflik. Kemampuan tersebut perlu dibangun melalui kebiasaan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ia menyampaikan tiga cara untuk mencapai derajat takwa, yakni memperbanyak ibadah dengan penuh tafakur, membaca Al-Qur’an disertai pemahaman terhadap maknanya, serta menjalankan puasa untuk melatih pengendalian diri.
“Salat yang khusyuk harus membawa masalah kita kepada Allah, bukan sekadar ritual,” tegasnya.
Melalui ibadah yang dilakukan dengan kesadaran dan pemahaman, seseorang diharapkan mampu membangun kesabaran serta mengendalikan respons ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.
Andi juga mengingatkan jemaah agar tidak menyimpan amarah terlalu lama, bahkan hingga lebih dari tiga hari. Pesan tersebut disampaikan dengan canda untuk menegaskan pentingnya menyelesaikan persoalan dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Menurutnya, mengendalikan marah bukan sekadar menahan luapan emosi sesaat. Sikap tersebut juga mencakup kemampuan memaafkan, memperbaiki hubungan, dan menciptakan suasana damai dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial.
Andi menutup ceramahnya dengan menekankan bahwa kesabaran dalam mengelola emosi dapat menjadi dasar terciptanya kehidupan yang harmonis.
“Rumah yang penuh amarah bagaikan neraka, tetapi rumah yang dikelola dengan kesabaran adalah surga dunia,” pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.