KOMPAS.com - Surah Maryam ayat 4–6 mengabadikan doa Nabi Zakaria AS ketika usianya telah lanjut dan istrinya belum dapat memiliki keturunan.
Dalam kondisi tersebut, ia tetap memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi seorang anak yang diridai-Nya.
Doa ini mengajarkan bahwa penantian tidak harus berakhir dengan keputusasaan.
Nabi Zakaria mengakui kelemahannya, menyampaikan kekhawatirannya, sekaligus mempertahankan harapan kepada Allah.
Kisah tersebut relevan bagi siapa pun yang sedang menunggu jawaban atas doa atau menghadapi keadaan yang terasa sulit.
Allah berfirman dalam Surah Maryam ayat 4–6:
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤
وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا ٥
يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ٦
Qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta‘alar-ra’su syaiban wa lam akun bidu‘ā’ika rabbi syaqiyyā. Wa innī khiftul-mawāliya min warā’ī wa kānat imra’atī ‘āqiran fa hab lī min ladunka waliyyā. Yariṡunī wa yariṡu min āli Ya‘qūba waj‘alhu rabbi raḍiyyā.
Baca juga: Bolehkah Menangisi Orang yang Sudah Meninggal? Ini Penjelasan Islam
Artinya: “Dia (Zakaria) berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.’” (QS Maryam: 4–6).
Pada ayat keempat, Nabi Zakaria menggambarkan tulangnya yang melemah dan rambutnya yang memutih.
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa gambaran tersebut menunjukkan usianya yang telah lanjut.
Namun, ia tetap mengingat pengalaman berdoa kepada Allah tanpa kehilangan harapan.
Baca juga: Terjebak Mendung Tanpa Tempat Berteduh, Bolehkah Berdoa agar Hujan Ditunda?
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa mengakui keterbatasan bukan berarti menyerah.
Seseorang dapat menyadari sulitnya keadaan sekaligus tetap berdoa dan mencari jalan keluar.
Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran mengakui kesulitan dapat berjalan bersama keyakinan dan ikhtiar.
Ayat kelima menjelaskan kekhawatiran Nabi Zakaria terhadap keluarganya setelah ia meninggal dunia.
Ia juga menyebut keadaan istrinya yang mandul sebelum memohon seorang anak dari sisi Allah.
Permohonan tersebut tidak sekadar menunjukkan keinginan memiliki keturunan. Nabi Zakaria juga memikirkan keberlanjutan tanggung jawab yang ditinggalkannya.
Tafsir As-Sa’di atas Surah Maryam ayat 4–6 menjelaskan bahwa pewarisan yang dimaksud berkaitan dengan urusan agama, kenabian, ilmu, dan amal.
Baca juga: Memaknai Sumpah Pemuda, Kuasai Teknologi Tanpa Meninggalkan Adab
Pada ayat keenam, Nabi Zakaria memohon agar anak yang dianugerahkan kepadanya menjadi pribadi yang diridai Allah.
Dengan demikian, doanya tidak berhenti pada kehadiran seorang anak, tetapi juga mencakup kualitas diri dan kebaikan yang diharapkan darinya.
Penjelasan tersebut mengingatkan bahwa permohonan kepada Allah dapat diarahkan pada sesuatu yang membawa manfaat lebih luas.
Dalam memohon keturunan, misalnya, seseorang dapat meminta agar anaknya tumbuh dengan akhlak baik, taat kepada Allah, dan bermanfaat bagi sesama.
Kisah Nabi Zakaria memperlihatkan bahwa penantian dapat berjalan bersama doa dan keyakinan.
Ia tidak menutupi kenyataan bahwa usianya telah lanjut dan istrinya mandul, tetapi keadaan tersebut tidak menghentikannya untuk memohon kepada Allah.
Baca juga: Lupa Menambah Rakaat Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?
Kesabaran bukan berarti seseorang harus memendam kesedihan atau berhenti mencari jalan keluar.
Kesabaran dapat diwujudkan dengan tetap menjalankan ikhtiar yang memungkinkan, menjaga harapan, dan menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan arah.
Doa dalam Surah Maryam ayat 4–6 dapat menjadi pengingat bagi orang yang sedang menantikan keturunan, pekerjaan, kesembuhan, atau jalan keluar dari persoalan hidup.
Namun, kisah ini tidak menjanjikan bahwa setiap permohonan akan terwujud dalam bentuk dan waktu yang sama.
Seseorang dapat membaca ayat tersebut sambil memahami maknanya, menyampaikan kebutuhan kepada Allah, dan tetap melakukan ikhtiar yang sesuai.
Pada akhirnya, kesabaran bukan sekadar menunggu hasil, melainkan menjaga keteguhan hati selama menjalani proses.
Doa Nabi Zakaria mengajarkan umat Islam untuk memohon dengan rendah hati, berharap pada rahmat Allah, dan tetap berusaha tanpa memastikan sendiri kapan jawaban akan datang.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.