Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang pemuda dan kepemimpinan, yang disusun Subdit Kepustakaan Islam dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat 30 Oktober 2026: Mengatasi Kesenjangan Ekonomi dengan Budaya Berbagi
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِينَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ يُحْسِنُونَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوا شَيْئًا فَرِيًّا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah menganugerahkan nikmat iman dan Islam kepada kita. Oleh karena itu, marilah kita meningkatkan ketakwaan dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang beruntung di dunia dan akhirat.
Hadirin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada hari yang penuh berkah ini, perkenankan khatib menyampaikan khotbah tentang Pemuda sebagai Pemimpin Masa Kini dan Masa Depan. Menjadi pemimpin merupakan peran yang menuntut kesadaran dan tanggung jawab besar. Generasi muda memiliki peran penting dalam membangun peradaban dan menentukan arah masa depan umat.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi [18] ayat 13:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى.
Artinya: "Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka."
Ayat mulia ini mengisahkan Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang teguh dalam keimanan dan keberanian. Mereka tidak gentar menghadapi tekanan penguasa zalim pada zamannya. Allah memuji mereka dengan menyebut fityah, yang berarti para pemuda. Kisah ini menunjukkan bahwa pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi pilar perubahan dan harapan umat.
Sejarah Islam juga mencatat peran penting generasi muda dalam membawa perubahan. Ketika Rasulullah saw. menerima wahyu pertama, beliau berusia 40 tahun. Sementara itu, sejumlah sahabat yang pertama kali beriman kepada beliau masih berusia muda. Ali bin Abi Thalib masuk Islam pada usia 10 tahun, Zubair bin Awwam pada usia 16 tahun, Thalhah bin Ubaidillah pada usia 18 tahun, sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq berusia sekitar 38 tahun ketika memeluk Islam.
Hadirin, jemaah yang berbahagia,
Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ ... وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ.
Artinya: "Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya ... dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah."
Hadis ini mengajarkan betapa mulianya kedudukan pemuda yang mendedikasikan masa mudanya untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Pemuda yang menggunakan energi, waktu, dan potensinya di jalan yang benar akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya.
Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam al-Ghazali disebut menegaskan:
الشَّبَابُ هُوَ رَأْسُ مَالِ الْإِنْسَانِ، فَمَنْ أَضَاعَهُ فَقَدْ أَضَاعَ أَعْظَمَ الْفُرَصِ.
Artinya: "Masa muda adalah modal utama manusia. Barang siapa menyia-nyiakannya, berarti ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang paling besar."
Jemaah rahimakumullah,
Pemuda adalah pemimpin masa kini, bukan hanya masa depan. Kepemimpinan tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan atau kedudukan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab, integritas, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Oleh karena itu, marilah kita merenungkan empat karakteristik pemuda pemimpin yang sejalan dengan ajaran Islam.
Karakteristik pertama adalah pemuda yang senantiasa mencari ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Allah Swt. berfirman dalam surah Thaha [20] ayat 114:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
Artinya: "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'"
Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
Artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim."
Pemuda pemimpin adalah mereka yang tidak pernah berhenti belajar. Ilmu agama menjadi pedoman hidup, sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sarana untuk membangun peradaban.
Dalam era digital, pemuda harus menjadi master of technology, bukan slave of technology. Artinya, teknologi harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk kebaikan, bukan justru membuat penggunanya kehilangan kendali atau terjerumus dalam kemudaratan.
Karakteristik kedua adalah pemuda yang memiliki akhlak mulia dan mampu menjadi teladan bagi lingkungannya. Nabi Muhammad saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ.
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Pemuda pemimpin adalah pemuda yang berakhlak karimah, jujur, amanah, bertanggung jawab, dan mampu menjadi teladan. Mereka bukan pribadi yang arogan, sombong, atau gemar merusak. Akhlak merupakan mahkota kepemimpinan yang sesungguhnya.
Dalam kitab Ta'limul Muta'allim, Imam az-Zarnuji disebut menyampaikan:
الْعِلْمُ بِلَا أَدَبٍ كَالنَّارِ بِلَا حَطَبٍ، وَالْأَدَبُ بِلَا عِلْمٍ كَالرُّوحِ بِلَا جَسَدٍ.
Artinya: "Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad."
Karakteristik ketiga adalah pemuda yang produktif dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Mulk [67] ayat 2:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا.
Artinya: "Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."
Pemuda pemimpin adalah pemuda yang produktif, bukan konsumtif. Mereka menjadi pemecah masalah, bukan pembuat masalah; menjadi pembangun, bukan perusak. Masa muda digunakan untuk berkarya, berinovasi, dan memberikan manfaat kepada sesama.
Umar bin Khattab r.a. juga dikenal dengan nasihat untuk melakukan introspeksi diri sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا.
Artinya: "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab (di akhirat)."
Oleh karena itu, pemuda hendaknya senantiasa mengevaluasi diri dengan bertanya: Apa kontribusi nyata yang telah saya berikan hari ini? Apa jejak kebaikan yang telah saya tinggalkan?
Karakteristik keempat adalah pemuda yang memiliki visi dan berani memperjuangkan cita-cita. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ.
Artinya: "Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah."
Pemuda pemimpin adalah mereka yang memiliki visi jelas, cita-cita luhur, dan keberanian untuk mewujudkan impian. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan, tetapi menjadikannya sebagai dorongan untuk terus berkembang.
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. disebut menyampaikan dalam Nahjul Balaghah:
هِمَّةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ مِنَ الْجِبَالِ.
Artinya: "Semangat orang beriman lebih besar daripada gunung."
Tantangan yang dihadapi pemuda saat ini tidaklah ringan. Mereka berhadapan dengan arus globalisasi, hedonisme, materialisme, radikalisme, dan berbagai paham yang dapat merusak kehidupan. Karena itu, tugas kita bersama adalah membimbing, mendampingi, dan memberikan ruang kepada pemuda untuk berkembang secara positif.
Jangan meremehkan pemuda dan jangan menganggap mereka belum mampu. Sejarah mencatat Muhammad al-Fatih memimpin penaklukan Konstantinopel pada usia muda. Usamah bin Zaid diangkat menjadi panglima pasukan pada usia sekitar 18 tahun, sedangkan Salahuddin al-Ayyubi dikenal karena perjuangannya dalam membebaskan Baitul Maqdis.
Jemaah rahimakumullah,
Marilah kita mendukung pemuda agar mampu menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Berikan mereka kesempatan, kepercayaan, dan bimbingan. Jadikan masjid sebagai pusat pembinaan pemuda, keluarga sebagai madrasah pertama pembentukan karakter, dan lingkungan sebagai tempat belajar kepemimpinan melalui pengalaman nyata.
Pemuda adalah aset penting bagi bangsa dan umat. Jika generasi muda kehilangan arah, masa depan akan menghadapi tantangan besar. Sebaliknya, jika pemuda tumbuh dengan keimanan, ilmu, akhlak, dan semangat berkarya, masa depan bangsa akan semakin cerah.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama membangun generasi muda yang saleh, cerdas, produktif, dan siap memimpin. Dengan bekal tersebut, pemuda tidak hanya menjadi harapan masa depan, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat pada masa kini.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالِاحْتِرَامِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُونَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا إِنْدُونِيسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.