Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang mendidik anak dengan memberi teladan, yang disusun Subdit Kepustakaan Islam dikutip dari laman Simbi Kemenag.
Baca juga: Khutbah Jumat 30 Oktober 2026: Menjadi Pemuda Produktif Berkarya, Bukan Kaum Rebahan
الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Membahas tentang keluarga seharusnya tidak berhenti pada slogan keluarga harmonis, tetapi menjadi cermin bagi rumah kita masing-masing. Sebab, rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar tentang Tuhan, akhlak, kasih sayang, marah, maaf, jujur, dan tanggung jawab.
Sebelum anak mengenal sekolah, ia lebih dulu membaca wajah ayah dan ibunya. Sebelum anak mendengar nasihat guru, ia lebih dulu mendengar suara orang tuanya. Karena itu, Rasulullah saw. mengingatkan:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (H.R. Tirmidzi).
Hadis ini menempatkan rumah sebagai ujian pertama akhlak kita. Sebab, di luar rumah orang bisa tampil ramah, tetapi di rumah watak asli sering terlihat. Bagaimana ia berbicara kepada pasangan, bagaimana ia menegur anak, bagaimana ia mengendalikan marah, dan bagaimana ia menjadi teladan.
Di sinilah kita perlu jujur: keluarga seperti apa yang sedang kita bangun? Apakah rumah kita menjadi tempat anak merasa aman atau tempat anak selalu takut salah? Apakah suara orang tua menjadi keteduhan atau menjadi teriakan yang membuat hati anak menjauh? Apakah agama hadir di rumah sebagai kasih sayang atau hanya muncul sebagai kemarahan dan ancaman?
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ.
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Q.S. At-Tahrim [66]: 6).
Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari neraka berarti mendidik mereka, mengajarkan kebaikan, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan. Maka, pendidikan keluarga bukan hanya soal membiayai sekolah dan menyediakan makanan. Tentu itu penting, tetapi belum cukup. Orang tua juga harus menyediakan iman, teladan, rasa aman, dan kasih sayang yang membuat anak mengenal agama sebagai rahmat.
Jemaah yang dirahmati Allah,
Hari ini ada istilah yang sering disebut toxic parenting, yaitu pola pengasuhan yang niatnya ingin mendidik, tetapi caranya justru melukai. Anak ditegur, tetapi dengan hinaan. Anak diarahkan, tetapi dengan bentakan. Anak dibandingkan, dipermalukan, dan ditakut-takuti, lalu orang tua merasa semua itu wajar karena menganggap sedang mendidik. Padahal, tidak semua yang disebut “demi kebaikan anak” benar-benar baik bagi jiwa anak.
Kajian psikologi modern juga mengingatkan hal yang sama. Ming-Te Wang dan Sarah Kenny dalam riset yang diterbitkan di Child Development tahun 2014 menemukan bahwa disiplin verbal yang keras dari orang tua, seperti bentakan, hinaan, dan kata-kata merendahkan, berkaitan dengan meningkatnya masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja. Ini mengingatkan kita bahwa kata-kata kasar tidak selalu selesai ketika suara berhenti. Bisa jadi orang tua sudah lupa pernah membentak, tetapi anak menyimpannya bertahun-tahun sebagai luka.
Jemaah sekalian,
Islam tidak mengajarkan pendidikan yang kering dari kelembutan. Rasulullah saw. adalah manusia paling mulia, pemimpin umat, dan pembawa wahyu, tetapi cara beliau mendidik tidak penuh bentakan. Anas bin Malik r.a. menerangkan tentang kelembutan Rasulullah saw.:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا، وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا.
“Aku melayani Rasulullah saw. selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata ‘ah’ kepadaku, dan tidak pernah berkata terhadap sesuatu, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ atau ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini?’” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini adalah contoh luar biasa. Rasulullah saw. mendidik bukan dengan merendahkan, mempermalukan, atau membuat orang kehilangan harga diri. Jika Nabi yang memikul amanah sebesar itu mampu menjaga lisannya kepada Anas selama 10 tahun, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: mengapa rumah kita sering merasa harus mendidik dengan suara tinggi? Mengapa nasihat yang baik sering kita bungkus dengan wajah marah? Mengapa anak harus takut lebih dulu baru kita merasa berhasil mendidiknya?
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Al-Qur’an juga memberi contoh indah melalui Luqman. Ketika Luqman menasihati anaknya tentang tauhid, ia berkata:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ، إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ.
“Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman [31]: 13).
Perhatikan panggilannya: wahai anakku tersayang. Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab memberi perhatian pada kelembutan panggilan ini sebagai bahasa kasih seorang ayah kepada anak. Ini pelajaran besar bagi orang tua: isi nasihat memang penting, tetapi cara menyampaikan nasihat menentukan apakah hati anak terbuka atau tertutup.
Rasulullah saw. juga memberi teladan yang sangat manusiawi. Suatu hari, Rasulullah saw. mencium cucunya, Hasan bin Ali r.a. Seorang sahabat bernama Al-Aqra’ bin Habis melihat hal itu, lalu berkata bahwa ia memiliki sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Rasulullah saw. menanggapi sikap keras itu dengan bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ.
“Siapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Coba kita bayangkan suasana itu. Rasulullah saw. adalah pemimpin umat, nabi, rasul, panglima, dan manusia paling mulia. Namun, beliau tidak malu menunjukkan kasih sayang kepada anak kecil. Beliau tidak membangun wibawa dengan wajah yang selalu keras. Beliau tidak menjadikan jarak sebagai tanda kemuliaan. Beliau mengajarkan bahwa kasih sayang bukan kelemahan. Kasih sayang adalah pintu agar nasihat masuk ke hati.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
“Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini sangat dekat dengan rumah kita. Banyak orang tua merasa kuat ketika suaranya paling keras di rumah. Padahal, kekuatan sejati adalah saat ia mampu menahan amarah ketika anak melakukan kesalahan. Kekuatan sejati adalah memilih kata yang mendidik, bukan kata yang melukai. Kekuatan sejati adalah tetap menjadi orang tua yang dekat dengan anak, bukan berubah menjadi ancaman yang ditakuti anak.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Maka, pulanglah hari ini dengan tekad yang lebih jujur. Kurangi teriakan, perbanyak teladan. Kurangi celaan, perbanyak dialog. Kurangi membandingkan, perbanyak mendoakan. Tegur anak, tetapi jangan hinakan. Arahkan anak, tetapi jangan patahkan hatinya. Sebab, anak mungkin lupa sebagian nasihat kita, tetapi ia akan lama mengingat suasana rumah yang kita ciptakan.
Semoga Allah menjadikan rumah kita rumah yang penuh sakinah. Semoga Allah melembutkan hati para orang tua dan menjaga anak-anak kita dari kerusakan zaman. Semoga Allah menjadikan kita orang tua yang mendidik dengan teladan, bukan dengan teriakan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِينَا، وَاهْدِ أَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا مَسَاكِنَ سَكِينَةٍ وَمَوَدَّةٍ وَرَحْمَةٍ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.