Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Sebanyak 43 perguruan tinggi Muhammadiyah terlibat dalam kerja sama dengan Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia Profesional (DPN Peradi Profesional) untuk memperkuat pendidikan profesi advokat.
Kesepakatan itu dijalin melalui Forum Dekan Fakultas Hukum dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Perguruan Tinggi Muhammadiyah (Fordek FH dan Ketua STIH PTM) se-Indonesia.
Ketua Umum DPN Peradi Profesional Harris Arthur Hedar mengatakan, pendidikan calon advokat perlu bertumpu pada tiga hal, yakni penguasaan ilmu hukum, keterampilan menjalankan profesi, dan integritas pribadi.
Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Sekretaris Jenderal DPN Peradi Profesional Yuhelson, Harris meminta agar kesepakatan tersebut ditindaklanjuti dengan program pendidikan yang memiliki target terukur.
Ia juga menekankan pentingnya pengajar yang kompeten, materi yang mengikuti perkembangan hukum, dan pembinaan etika profesi.
“Saya menghendaki kerja sama ini menghasilkan langkah nyata. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya kegiatan atau jumlah peserta semata, melainkan kualitas lulusan dan kepercayaan masyarakat terhadap profesi advokat,” kata Harris dalam sambutan tersebut.
Menurut Harris, perguruan tinggi berperan membangun cara berpikir kritis dan karakter calon advokat. Organisasi profesi dapat melengkapi bekal tersebut dengan pengalaman praktik hukum dan pemahaman tentang kebutuhan masyarakat yang mencari keadilan.
Ketua Fordek FH dan Ketua STIH PTM se-Indonesia, Faisal, menilai kerja sama antara kampus dan praktisi hukum diperlukan agar pendidikan advokat dapat mengikuti perkembangan praktik hukum sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kerja sama ini merupakan bentuk konkret penguatan hubungan antara praktisi hukum dan dunia kampus untuk mewujudkan advokat yang beretika, bermutu, dan berkarakter,” ujar Faisal, yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.