KOMPAS.com – Dalam ajaran Islam, doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling dekat dengan hubungan antara manusia dan Tuhan.
Seorang hamba menyampaikan harapan, penyesalan, rasa syukur, dan permohonannya langsung kepada Allah SWT melalui doa.
Dalam buku Mutiara Doa Para Nabi dan Rasul dari Al-Qur’an dan Hadits karya Ahmad Suhendra dijelaskan bahwa kata doa berasal dari bahasa Arab ad-du’a yang berarti memanggil, memohon, atau mengundang.
Secara makna spiritual, doa merupakan panggilan seorang hamba kepada Tuhannya yang Maha Mendengar.
Baca juga: Ramadhan 1447 H: Ini Doa Mustajab Saat Sahur, Berbuka, dan Lailatul Qadar
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya dan selalu mendengar doa yang dipanjatkan dengan tulus. Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 186.
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Wa iżā sa'alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb(un), ujību da'watad-dā'i iżā da'ān(i), falyastajībū lī walyu'minū bī la'allahum yarsyudūn(a).
Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa doa bukan sekadar permintaan, tetapi juga bentuk kedekatan spiritual antara manusia dan Allah.
Menariknya, Al-Qur’an juga mengabadikan banyak doa yang dipanjatkan para nabi. Doa-doa tersebut menjadi teladan bagi umat Islam tentang bagaimana seorang hamba memohon kepada Allah dalam berbagai keadaan, saat bertaubat, menghadapi kesulitan, hingga memohon kekuatan menjalankan amanah.
Baca juga: Doa Ramadhan: Bacaan Lengkap Menyambut Puasa, dari Doa Awal Bulan hingga Doa Berbuka
Berikut lima ayat Al-Qur’an yang berisi doa para nabi yang sering diamalkan umat Islam.
Doa ini dipanjatkan oleh Adam setelah melakukan kesalahan ketika melanggar larangan Allah. Doa ini menjadi contoh penting tentang bagaimana seorang hamba seharusnya memohon ampunan dengan penuh kerendahan hati.
رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
rabbanā ẓalamnā anfusanā wa illam tagfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn(a).
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS Al-A’raf: 23)
Dalam kitab tafsir karya M. Quraish Shihab yang berjudul Tafsir Al-Mishbah dijelaskan bahwa doa Nabi Adam mengandung tiga unsur penting dalam taubat, pengakuan kesalahan, permohonan ampun, dan harapan terhadap rahmat Allah.
Makna spiritual dari doa ini adalah kesadaran bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Namun, pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang kembali dengan penuh penyesalan.
Baca juga: Doa Nabi Saat Menghadapi Perang dan Konflik, Ini Bacaan Lengkapnya
Doa ini dipanjatkan oleh Musa ketika mendapatkan tugas besar dari Allah untuk menyampaikan risalah kepada Firaun.
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ اَهْلِيْ هٰرُوْنَ اَخِى اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
Qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul 'uqdatam mil lisānī. Yafqahū qaulī. Waj'al lī wazīram min ahlī. Hārūna akhī. Usydud bihī azrī. Wa asyrik-hu fī amrī. Kai nusabbiḥaka kaṡīrā(n). Wa nażkuraka kaṡīrā(n). Innaka kunta binā baṣīrā(n).
Artinya: “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku. Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku. Teguhkanlah kekuatanku dengannya, dan sertakan dia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat keadaan kami.” (QS Thaha: 25–35)
Menurut buku Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, doa ini sering diamalkan sebelum berbicara di depan umum atau ketika menghadapi tugas berat.
Maknanya bukan sekadar meminta kemudahan, tetapi juga memohon kekuatan mental dan kemampuan komunikasi yang baik.
Doa ini dipanjatkan oleh Yunus ketika berada dalam perut ikan setelah meninggalkan kaumnya.
لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn(a).
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-Anbiya: 87)
Doa ini dikenal sebagai salah satu doa yang sangat kuat dalam Islam. Dalam banyak literatur keislaman dijelaskan bahwa doa ini mencerminkan tiga unsur utama, pengakuan keesaan Allah, penyucian Allah, dan pengakuan kesalahan diri.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali disebutkan bahwa doa yang paling dekat untuk dikabulkan adalah doa yang disertai kerendahan hati dan pengakuan kesalahan seperti yang dicontohkan Nabi Yunus.
Baca juga: Keutamaan Doa Nabi Yunus di Malam Nisfu Syaban, Ini Rahasianya
Doa berikut berasal dari ayat Al-Qur’an yang sering diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk tawakal kepada Allah.
حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Hasbiyallāhu lā ilāha illā huw(a), 'alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul-'arsyil-'aẓīm(i).
Artinya: “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy yang agung.” (QS At-Taubah: 129)
Dalam banyak tafsir disebutkan bahwa ayat ini menggambarkan sikap tawakal yang sempurna: menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan usaha.
Doa ini dipanjatkan oleh Sulaiman sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
Rabbi auzi'nī an asykura ni'matakal-latī an'amta 'alayya wa 'alā wālidayya wa an a'mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī 'ibādikaṣ-ṣāliḥīn(a).
Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, serta agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An-Naml: 19)
Doa ini menekankan pentingnya bersyukur kepada Allah sekaligus berusaha melakukan amal saleh.
Baca juga: Doa Nabi Saat Hidup Terasa Sangat Berat
Doa-doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an bukan sekadar kisah sejarah. Doa tersebut menjadi panduan spiritual bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai keadaan hidup.
Mulai dari taubat seperti Nabi Adam, memohon kekuatan seperti Nabi Musa, meminta pertolongan seperti Nabi Yunus, bertawakal seperti Nabi Muhammad, hingga bersyukur seperti Nabi Sulaiman.
Dengan meneladani doa-doa tersebut, seorang Muslim tidak hanya memohon sesuatu kepada Allah, tetapi juga belajar tentang kerendahan hati, kesabaran, dan keimanan yang kuat.
Karena pada akhirnya, doa bukan sekadar rangkaian kata-kata. Doa adalah bentuk kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya, sekaligus pengingat bahwa dalam setiap keadaan, manusia selalu membutuhkan pertolongan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang