Editor
KOMPAS.com - Apa itu ibadah haji, siapa yang wajib melaksanakan, kapan kewajibannya berlaku, di mana dilaksanakan, mengapa diwajibkan, dan bagaimana pelaksanaannya menjadi bagian penting yang perlu dipahami setiap muslim.
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan religi biasa, tetapi merupakan puncak dari rukun Islam yang melengkapi keislaman seseorang.
Berbeda dengan ibadah shalat yang dilakukan setiap hari atau puasa Ramadhan yang dijalankan setiap tahun, haji memiliki karakteristik khusus karena hanya diwajibkan sekali seumur hidup bagi yang mampu.
Baca juga: Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Idul Adha Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan keseimbangan antara kewajiban dan kemampuan umatnya.
Dirangkum Kompas.com dari laman MUI, BAZNAS, dan Antara, berikut adalah penjelasan singkat terkait ibadah haji.
Baca juga: Lebaran Haji 2026 Bulan Apa? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha, Libur, dan Tanggal Pentingnya
Dilansir dari Antara, ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang memenuhi syarat tertentu.
Haji dilaksanakan di Baitullah, Makkah, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt bagi mereka yang mampu.
Kewajiban ini tidak berlaku setiap waktu, melainkan hanya sekali seumur hidup ketika syarat terpenuhi.
Oleh karena itu, memahami hukum ibadah haji beserta dalil dan keutamaannya menjadi penting dalam kehidupan seorang muslim.
Adapun hukum ibadah haji menurut kesepakatan para ulama yakni fardhu ‘ain. Artinya, kewajiban ini berlaku secara individu bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat.
Namun, hukum fardhu ‘ain tersebut berlaku ketika semua syarat wajib haji terpenuhi, seperti beragama Islam, baligh, berakal, merdeka, dan mampu.
Dengan demikian, kewajiban ini tidak dibebankan kepada seluruh umat Islam tanpa pengecualian, melainkan hanya bagi mereka yang memenuhi kriteria tersebut.
Ulama telah bersepakat setiap Muslim setidaknya wajib melaksanakan haji sekali seumur hidupnya. Kewajiban ini didasarkan pada Al-Qur'an dan sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam.
Mengenai dalil diwajibkannya ibadah haji telah diterangkan dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS Ali ‘Imran: 97).
Berdasarkan penjelasan ayat tersebut, haji merupakan ibadah yang dilakukan di Baitullah (Makkah) dan wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang memiliki kemampuan.
Ilustrasi suasana ibadah haji.Sementara dalam hadits disebutkan:
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ الْحَجَّ فَحُجُّوا فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ” اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ ثُمَّ قَالَ ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ
"Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk menunaikan ibadah haji. Karena itu, tunaikanlah ibadah haji." Kemudian seorang laki-laki bertanya, "Apakah setiap tahun ya Rasulullah?" beliau terdiam beberapa saat, hingga laki-laki itu mengulanginya hingga tiga kali. Maka beliau pun bersabda: "Sekiranya aku menjawab, 'Ya' niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun dan kalian tidak akan sanggup melaksanakannya. Karena itu, biarkanlah apa adanya masalah yang kutinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu mendapat celaka karena mereka banyak tanya dan suka mendebat para Nabi mereka. karena itu, bila aku perintahkan mengerjakan sesuatu, laksanakanlah sebisa-bisanya, dan apabila aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka hentikanlah segera."
Hadis ini menjelaskan bahwa kewajiban haji tidak bersifat tahunan, melainkan cukup sekali seumur hidup dengan mempertimbangkan kemampuan umat.
Hukum wajib berhaji sangat terkait dengan kemampuan. Hal ini karena ibadah ini tidak hanya merupakan perjalanan yang membutuhkan kemampuan materi, namun juga kekuatan fisik.
Adapun penjelasan makna mampu yang menjadi persyaratan wajib bagi calon jamaah haji diantaranya:
Kemampuan finansial merujuk pada adanya perbekalan untuk membayar biaya penyelenggaraan ibadah haji atau BPIH pergi dan pulang serta biaya hidup, ongkos transportasi, tempat tinggal, makanan dan minuman yang cukup, dan lain sebagainya selama melaksanakan ibadah haji.
Kemampuan fisik merujuk pada kondisi kesehatan yang tidak terganggu dan tidak terhalangi oleh situasi tertentu seperti perang. Dalam pelaksanaan ibadah haji, hampir seluruh rangkaian rukun dan kewajiban berkaitan dengan kemampuan fisik, kecuali niat yang bersifat qalbi.
Kemampuan fisik sangat menentukan keberlangsungan ibadah haji dan tidak semata-mata ditentukan oleh usia.
Oleh karena itu, konsep mampu bertujuan untuk memberikan kemudahan dan perlindungan bagi umat Islam agar dapat menjalankan ibadah dengan baik.
Ibadah haji memiliki keistimewaan yang menjadikannya sebagai impian bagi setiap muslim. Berikut adalah sejumlah alasannya:
Ibadah haji dipandang sebagai panggilan khusus dari Allah SWT. Tidak semua orang dapat melaksanakannya meskipun memiliki kemampuan materi.
“Orang yang berhaji di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya. Dan mereka memohon kepada Allah, lalu Allah mengabulkan permohonan mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Menjadi tamu Allah merupakan kehormatan besar bagi seorang hamba.
Ibadah haji memberikan kesempatan bagi seorang muslim untuk kembali suci dari dosa.
“Siapa yang berhaji ke rumah ini (Ka’bah), lalu dia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali suci seperti hari di mana ibunya melahirkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Haji menguji berbagai aspek kehidupan, mulai dari fisik, mental, hingga harta. Jamaah harus bersabar dalam menghadapi berbagai kondisi selama pelaksanaan ibadah.
Peristiwa berkumpulnya jutaan manusia di Padang Arafah menggambarkan suasana hari kebangkitan, yang mengingatkan manusia pada kehidupan akhirat.
Ibadah haji menjadi bentuk jihad bagi mereka yang tidak dapat berperang.
“Tidak, jihad yang paling afdhal bagi kalian adalah haji yang mabrur.” (HR.Bukhari)
Haji mempertemukan umat Islam dari berbagai latar belakang. Hal ini mencerminkan bahwa kepatuhan dan iman bisa menjalin persatuan tanpa batas ras dan negara.
Ibadah haji yang mabrur dijanjikan balasan berupa surga.
"...Dan haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibadah haji merupakan kewajiban yang memiliki makna mendalam dalam Islam, baik dari sisi hukum maupun spiritual.
Dengan berbagai syarat dan keutamaan yang dimiliki, haji menjadi ibadah yang tidak hanya menyempurnakan rukun Islam, tetapi juga membawa perubahan besar dalam kehidupan seorang muslim.
Memahami hukum dan keistimewaan haji diharapkan dapat mendorong umat Islam untuk mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun finansial, agar dapat memenuhi panggilan Allah SWT ke tanah suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang