Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Haji 2026 Diprediksi Ekstrem meski Masuk Musim Semi, Suhu Makkah Bisa Tembus 40°C

Kompas.com, 19 April 2026, 14:40 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Musim haji 2026 diprediksi menghadirkan kondisi cuaca yang unik sekaligus menantang.

Meski secara kalender masuk periode musim semi, suhu di Makkah dan Madinah tetap berpotensi tinggi, bahkan mendekati karakter panas ekstrem.

Fenomena ini menandai fase transisi penting, di mana ibadah haji mulai bergeser dari musim panas menuju musim yang relatif lebih “sejuk”.

Namun, para jemaah tetap diimbau waspada terhadap suhu tinggi dan risiko dehidrasi.

Suhu Tetap Tinggi, UV Ekstrem

Berdasarkan prediksi meteorologi yang dilansir dari Weather2Travel, puncak ibadah haji yang diperkirakan berlangsung pada akhir Mei 2026 akan diwarnai suhu panas yang cukup ekstrem.

Di Makkah, suhu siang hari diperkirakan berkisar 39–40 derajat Celsius, dengan kemungkinan melonjak di atas 40°C saat wukuf di Arafah.

Sementara di Madinah, suhu bahkan bisa mencapai 43°C pada siang hari dan turun ke sekitar 24°C pada malam hari.

Selain itu, indeks UV diprediksi berada pada level ekstrem (11+), sehingga jemaah berisiko tinggi mengalami paparan sinar matahari langsung.

Kondisi semakin menantang karena kelembapan udara sangat rendah, di bawah 30 persen. Situasi ini menciptakan panas kering yang membuat tubuh cepat kehilangan cairan tanpa disadari.

Ancaman El Nino dan Cuaca Tak Menentu

Selain faktor lokal, cuaca haji 2026 juga dipengaruhi potensi fenomena global seperti El Nino.

Data menunjukkan peluang kemunculan El Nino pada periode Mei–Juli 2026 mencapai sekitar 61 persen. Jika terjadi, dampaknya bisa berupa:

  • Gelombang panas yang lebih intens
  • Hujan ekstrem mendadak di wilayah gurun
  • Badai pasir yang mengganggu mobilitas jemaah

Kondisi ini berpotensi memengaruhi perjalanan antara titik-titik utama ibadah seperti Mina, Arafah, dan Muzdalifah.

Upaya Arab Saudi Antisipasi Panas

Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan berbagai inovasi untuk melindungi jemaah.

Salah satunya adalah teknologi “white road”, yakni pelapisan jalan yang mampu menurunkan suhu permukaan hingga 12–15°C.

Selain itu, sistem semprotan uap air (mist spraying) dan penanaman pohon peneduh juga diperluas untuk menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk.

Di sisi kesehatan, otoritas juga menerapkan aturan ketat terkait kelayakan medis jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit kronis.

Awal Era “Haji Lebih Sejuk”

Tahun 2026 menjadi awal dari siklus baru pelaksanaan haji di musim semi yang akan berlangsung hingga 2033. Setelah itu, haji akan bergeser ke musim dingin pada periode 2034–2041 yang dianggap lebih ideal.

Pergeseran ini terjadi karena kalender Hijriah yang lebih pendek sekitar 10–12 hari dari kalender Masehi, sehingga waktu pelaksanaan haji terus maju setiap tahun.

Meski disebut sebagai awal “era haji yang lebih menyegarkan”, jemaah tetap perlu mempersiapkan diri secara fisik dan menjaga kesehatan.

Pasalnya, tantangan utama haji 2026 bukan hanya ibadah yang padat, tetapi juga kemampuan tubuh beradaptasi dengan suhu tinggi dan cuaca yang tidak menentu.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar