Editor
KOMPAS.com – Musim haji 2026 diprediksi menghadirkan kondisi cuaca yang unik sekaligus menantang.
Meski secara kalender masuk periode musim semi, suhu di Makkah dan Madinah tetap berpotensi tinggi, bahkan mendekati karakter panas ekstrem.
Fenomena ini menandai fase transisi penting, di mana ibadah haji mulai bergeser dari musim panas menuju musim yang relatif lebih “sejuk”.
Namun, para jemaah tetap diimbau waspada terhadap suhu tinggi dan risiko dehidrasi.
Berdasarkan prediksi meteorologi yang dilansir dari Weather2Travel, puncak ibadah haji yang diperkirakan berlangsung pada akhir Mei 2026 akan diwarnai suhu panas yang cukup ekstrem.
Di Makkah, suhu siang hari diperkirakan berkisar 39–40 derajat Celsius, dengan kemungkinan melonjak di atas 40°C saat wukuf di Arafah.
Sementara di Madinah, suhu bahkan bisa mencapai 43°C pada siang hari dan turun ke sekitar 24°C pada malam hari.
Selain itu, indeks UV diprediksi berada pada level ekstrem (11+), sehingga jemaah berisiko tinggi mengalami paparan sinar matahari langsung.
Kondisi semakin menantang karena kelembapan udara sangat rendah, di bawah 30 persen. Situasi ini menciptakan panas kering yang membuat tubuh cepat kehilangan cairan tanpa disadari.
Selain faktor lokal, cuaca haji 2026 juga dipengaruhi potensi fenomena global seperti El Nino.
Data menunjukkan peluang kemunculan El Nino pada periode Mei–Juli 2026 mencapai sekitar 61 persen. Jika terjadi, dampaknya bisa berupa:
Kondisi ini berpotensi memengaruhi perjalanan antara titik-titik utama ibadah seperti Mina, Arafah, dan Muzdalifah.
Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan berbagai inovasi untuk melindungi jemaah.
Salah satunya adalah teknologi “white road”, yakni pelapisan jalan yang mampu menurunkan suhu permukaan hingga 12–15°C.
Selain itu, sistem semprotan uap air (mist spraying) dan penanaman pohon peneduh juga diperluas untuk menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk.
Di sisi kesehatan, otoritas juga menerapkan aturan ketat terkait kelayakan medis jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit kronis.
Tahun 2026 menjadi awal dari siklus baru pelaksanaan haji di musim semi yang akan berlangsung hingga 2033. Setelah itu, haji akan bergeser ke musim dingin pada periode 2034–2041 yang dianggap lebih ideal.
Pergeseran ini terjadi karena kalender Hijriah yang lebih pendek sekitar 10–12 hari dari kalender Masehi, sehingga waktu pelaksanaan haji terus maju setiap tahun.
Meski disebut sebagai awal “era haji yang lebih menyegarkan”, jemaah tetap perlu mempersiapkan diri secara fisik dan menjaga kesehatan.
Pasalnya, tantangan utama haji 2026 bukan hanya ibadah yang padat, tetapi juga kemampuan tubuh beradaptasi dengan suhu tinggi dan cuaca yang tidak menentu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang