Editor
KOMPAS.com - Arab Saudi diperkirakan memasuki salah satu periode paling panas dan kering dalam setahun seiring datangnya bulan Juni.
Meski sepanjang tahun negara tersebut mengalami berbagai kondisi cuaca, mulai dari gelombang dingin berkepanjangan hingga hujan lebat di sejumlah wilayah, karakteristik cuaca pada Juni cenderung berbeda.
Dilansir dari Saudi Gazette, berdasarkan pemantauan jangka panjang Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM), Juni secara konsisten menjadi salah satu bulan dengan suhu tertinggi dan curah hujan terendah.
Baca juga: El Nino Diprediksi Menguat, Arab Saudi Hadapi Suhu Lebih Panas dan Peningkatan Risiko Hujan
Analisis yang mencakup data cuaca selama empat dekade, dari 1985 hingga 2025, menunjukkan pola panas yang terus mendominasi pada bulan tersebut.
Berdasarkan analisis NCM terhadap data iklim periode Juni selama puluhan tahun, suhu rata-rata pada bulan tersebut mencapai 32,2 derajat Celsius.
Baca juga: Arkeolog Temukan Harta Karun Emas Berusia 1.200 Tahun di Jalur Haji Kuno Arab Saudi
Sementara itu, curah hujan rata-rata hanya sekitar 1,58 milimeter berdasarkan periode normal iklim 1991–2020.
Angka tersebut menempatkan Juni sebagai bulan terpanas ketiga di Arab Saudi sekaligus menjadi bulan paling kering sepanjang tahun.
Data NCM juga menunjukkan suhu maksimum rata-rata pada Juni mencapai 39,5 derajat Celsius, sedangkan suhu minimum rata-rata berada di angka 24,38 derajat Celsius.
Catatan iklim menunjukkan bahwa tahun 2024 menjadi tahun dengan suhu maksimum rata-rata tertinggi pada bulan Juni selama periode pengamatan 1985–2025.
Pada tahun tersebut, suhu maksimum rata-rata mencapai 41,52 derajat Celsius.
Sebaliknya, suhu minimum rata-rata terendah untuk bulan Juni tercatat pada 1985, yakni sebesar 22,14 derajat Celsius.
Data tersebut juga memperlihatkan bahwa kondisi malam hari pada bulan Juni cenderung semakin hangat dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam satu dekade terakhir, tahun 2024 mencatat suhu minimum rata-rata tertinggi sebesar 27,04 derajat Celsius.
Sementara itu, suhu minimum rata-rata terendah dalam periode yang sama tercatat pada 2025 dengan angka 25,13 derajat Celsius.
Meski dikenal sebagai bulan paling kering, jumlah curah hujan pada Juni tetap menunjukkan variasi yang cukup besar dari tahun ke tahun.
Juni terbasah dalam catatan NCM terjadi pada 1996 ketika rata-rata curah hujan mencapai 16,98 milimeter.
Dalam satu dekade terakhir, curah hujan rata-rata tertinggi pada Juni tercatat pada 2019 dengan 4,0 milimeter.
Sebaliknya, tahun 2025 menjadi salah satu periode paling kering dengan curah hujan rata-rata hanya 0,02 milimeter.
Secara geografis, suhu tertinggi pada Juni umumnya terjadi di wilayah barat Arab Saudi serta beberapa bagian wilayah timur dan selatan.
Sementara itu, suhu yang lebih rendah biasanya ditemukan di kawasan dataran tinggi barat daya dan wilayah utara Kerajaan Arab Saudi.
Untuk curah hujan, wilayah pegunungan di bagian barat dan barat daya menjadi area yang paling sering menerima hujan selama Juni.
Sebagian besar wilayah lainnya cenderung mengalami kondisi kering sepanjang bulan tersebut.
NCM juga mencatat sejumlah rekor cuaca ekstrem yang terjadi pada bulan Juni selama periode pengamatan.
Suhu tertinggi yang pernah tercatat terjadi di Kota Jeddah pada 22 Juni 2010 dengan mencapai 52 derajat Celsius.
Sebaliknya, suhu terendah pada bulan Juni tercatat di Al-Qurayyat pada 4 Juni 1990 dengan suhu 10,6 derajat Celsius.
Untuk curah hujan harian, rekor tertinggi terjadi di Sharurah pada 16 Juni 1996 dengan total hujan mencapai 53,8 milimeter dalam satu hari.
Sementara itu, kecepatan angin tertinggi yang pernah tercatat pada Juni mencapai 111,1 kilometer per jam di Taif pada 14 Juni 2023.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang