Editor
KOMPAS.com - Arab Saudi diperkirakan akan menghadapi kondisi cuaca yang lebih panas dari normal dalam beberapa bulan mendatang seiring meningkatnya peluang berkembangnya fenomena El Nino.
Peringatan tersebut disampaikan melalui indikator iklim terbaru yang dirilis Regional Center for Climate Change (RCCC) bersama National Center for Meteorology (NCM).
Selain kenaikan suhu, sejumlah wilayah di Arab Saudi juga diprediksi mengalami peningkatan curah hujan yang berpotensi memicu banjir pada musim gugur 2026.
Baca juga: Arkeolog Temukan Harta Karun Emas Berusia 1.200 Tahun di Jalur Haji Kuno Arab Saudi
Meski saat ini kondisi El Nino masih berada dalam fase netral, para ahli iklim memperkirakan fenomena tersebut berpotensi menguat secara bertahap hingga Oktober mendatang.
Dilansir dari Saudi Gazette,Regional Center for Climate Change (RCCC) merilis indikator iklim terbaru terkait fenomena El Nino yang menunjukkan potensi kenaikan suhu di atas rata-rata dalam beberapa bulan ke depan.
Baca juga: Haji 2026 Selesai, Arab Saudi Mulai Pulangkan 1,7 Juta Jemaah
Dalam laporan yang diterbitkan bersama National Center for Meteorology (NCM), kondisi tersebut diperkirakan akan memengaruhi cuaca di Arab Saudi selama musim gugur 2026.
Dampak yang diprediksi muncul antara lain peningkatan suhu di atas kondisi normal serta bertambahnya peluang hujan di sejumlah wilayah Kerajaan Arab Saudi.
Saat ini, status El Nino atau fase hangat dari fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada dalam kondisi netral.
Per 5 Mei 2026, indeks Niño 3.4 tercatat berada di angka 0,39 derajat Celsius, sementara rentang netral berada antara minus 0,80 derajat Celsius hingga plus 0,80 derajat Celsius.
Namun, berdasarkan proyeksi NCM dan RCCC, peluang berkembangnya kondisi El Nino diperkirakan meningkat dalam periode Mei hingga Oktober 2026.
RCCC memperkirakan anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 akan melampaui ambang batas 0,8 derajat Celsius dalam beberapa bulan mendatang.
Pada Mei, anomali suhu diperkirakan meningkat di atas 1,1 derajat Celsius.
Angka tersebut diproyeksikan terus bertambah menjadi lebih dari 1,4 derajat Celsius pada Juni, sekitar 1,8 derajat Celsius pada Juli, dan mencapai 2,3 derajat Celsius pada Agustus.
Kenaikan diperkirakan berlanjut hingga sekitar 2,5 derajat Celsius pada September dan mencapai 2,8 derajat Celsius pada Oktober.
Peningkatan suhu permukaan laut tersebut menjadi salah satu indikator berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi pola cuaca regional.
Selain memicu kenaikan suhu udara, El Nino juga diperkirakan memengaruhi pola curah hujan di sejumlah wilayah Arab Saudi.
Wilayah barat Arab Saudi diprediksi menghadapi peningkatan risiko banjir selama musim gugur mendatang, yaitu pada September, Oktober, dan November 2026.
Sementara itu, dampak di wilayah tengah Arab Saudi diperkirakan akan terasa selama musim hujan 2026–2027 yang akan datang.
Di kawasan dataran tinggi barat daya, jumlah curah hujan selama musim gugur 2026 juga diperkirakan berada di atas rata-rata normal.
Secara umum, suhu rata-rata di Arab Saudi diperkirakan berada di atas kondisi normal, terutama selama musim panas dan musim gugur.
Selain itu, musim dingin tahun ini diperkirakan tidak akan sedingin biasanya karena pengaruh perubahan pola iklim yang berkaitan dengan El Nino.
Meski demikian, RCCC mengingatkan bahwa proyeksi perkembangan ENSO masih mengandung tingkat ketidakpastian tertentu karena adanya perbedaan hasil antar-model iklim yang digunakan.
Karena itu, pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan El Nino dinilai sangat penting, terutama selama periode transisi musim semi antara Februari hingga Mei, ketika tingkat akurasi prakiraan iklim cenderung lebih rendah dibandingkan periode lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang