KOMPAS.com – Dalam sejarah dunia, tidak sedikit pemimpin yang dikenang karena keberhasilannya memperluas wilayah kekuasaan, memenangkan peperangan, atau membangun peradaban besar.
Namun hanya segelintir yang tetap dikenang karena kesediaannya hidup lebih susah daripada rakyat yang dipimpinnya.
Salah satu sosok yang kerap dijadikan teladan dalam hal itu adalah Umar bin Khattab RA. Khalifah kedua dalam sejarah Islam ini memimpin wilayah yang sangat luas, membentang dari Jazirah Arab hingga berbagai kawasan di luar semenanjung. Di bawah kepemimpinannya, negara berkembang pesat dan kekuatan Islam semakin disegani.
Namun di balik besarnya kekuasaan tersebut, Umar justru memilih menjalani kehidupan yang sederhana.
Ia tidak membiarkan jabatan menjadikannya hidup lebih nyaman daripada rakyatnya. Baginya, seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas setiap urusan yang dipimpinnya.
Berbagai riwayat menggambarkan bagaimana Umar menjalani prinsip itu dalam kehidupan sehari-hari dikutip dari buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah Oleh Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny.
Mulai dari menahan diri hanya makan minyak selama berbulan-bulan, memikul sendiri karung tepung untuk kaum miskin, hingga membela para pelayan yang diperlakukan berbeda dalam sebuah jamuan makan.
Baca juga: Kisah Haru Penjual Sepatu yang Dapat Gelar Haji Mabrur Tanpa ke Makkah
Kepemimpinan Umar berlangsung pada masa yang penuh tantangan. Di tengah perluasan wilayah Islam, ada kalanya masyarakat menghadapi masa sulit dan kekurangan bahan pangan.
Dalam kondisi seperti itu, Umar tidak memilih hidup nyaman di balik tembok istana. Ia justru berusaha merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.
Diriwayatkan bahwa Umar pernah bersumpah tidak akan menikmati makanan mewah sampai kondisi kaum Muslimin membaik. Selama berbulan-bulan ia hanya mengonsumsi roti yang dicelupkan ke minyak sebagai lauk sehari-hari.
Riwayat menyebutkan keadaan tersebut berlangsung hingga sembilan bulan.
Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terlihat tidak masuk akal. Sebagai khalifah, Umar memiliki kesempatan memperoleh makanan terbaik yang tersedia saat itu. Namun ia menolak mengambil hak istimewa yang tidak bisa dinikmati rakyatnya.
Umar memahami bahwa pemimpin tidak cukup hanya mendengar laporan tentang kesulitan masyarakat.
Seorang pemimpin harus memiliki empati yang nyata, bahkan bila perlu ikut merasakan penderitaan mereka.
Sikap inilah yang membuat Umar dihormati bukan hanya karena kekuasaannya, tetapi juga karena ketulusannya dalam memimpin.
Baca juga: Satu-satunya dalam Sejarah, Kisah Pemulangan Jenazah Bung Tomo dari Makkah
Kisah lain yang memperlihatkan karakter Umar terjadi ketika ia menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan Sufyan bin Umayyah pada musim haji.
Saat itu dihidangkan sebuah nampan besar berisi makanan yang dibawa oleh beberapa pelayan. Para tamu dipersilakan menikmati hidangan, sementara para pelayan hanya berdiri di sekitar ruangan.
Pemandangan tersebut menarik perhatian Umar. Ia memperhatikan para pelayan yang terus berdiri sambil menyaksikan orang lain makan. Umar kemudian bertanya kepada tuan rumah mengapa mereka tidak ikut menikmati hidangan.
Sufyan menjelaskan bahwa para pelayan akan makan setelah seluruh tamu selesai. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menunjukkan kehormatan dan kebesaran tuan rumah.
Mendengar jawaban tersebut, Umar tidak menyembunyikan ketidaksenangannya.
Ia menilai perlakuan semacam itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang mengajarkan persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT.
Umar kemudian berkata bahwa setiap kaum yang merendahkan pelayannya akan direndahkan oleh Allah. Setelah itu ia memerintahkan agar para pelayan dipersilakan duduk dan makan bersama.
Peristiwa tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat besar.
Pada masa ketika perbedaan status sosial masih sangat kuat, Umar menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaan atau kedudukannya. Seorang pelayan tetap memiliki martabat yang harus dihormati.
Bagi Umar, Islam datang untuk mengangkat derajat manusia, bukan menciptakan sekat-sekat yang membuat sebagian orang merasa lebih tinggi daripada yang lain.
Jika ada satu kisah yang paling sering dikutip untuk menggambarkan kepedulian sosial Umar, maka kisah karung tepung adalah salah satunya.
Umar memiliki kebiasaan berkeliling pada malam hari untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Ia tidak ingin hanya mengandalkan laporan para pejabat.
Dalam salah satu patroli malamnya, Umar menemukan seorang janda bersama anak-anaknya yang hidup dalam kesulitan.
Anak-anak itu menangis karena lapar, sementara sang ibu tidak memiliki cukup makanan untuk diberikan kepada mereka.
Melihat keadaan tersebut, Umar segera kembali menuju tempat penyimpanan bahan makanan. Ia mengambil sendiri karung tepung beserta kebutuhan pokok lainnya.
Beberapa sahabat yang menemaninya menawarkan bantuan untuk membawakan karung yang berat itu. Namun Umar menolak.
Dengan kalimat yang kemudian menjadi pelajaran sepanjang zaman, ia berkata, “Siapakah yang akan memikul dosaku pada hari kiamat?”
Ucapan tersebut menunjukkan cara Umar memandang jabatan yang diembannya.
Ia tidak melihat dirinya sebagai penguasa yang harus dilayani, tetapi sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya.
Karena itu, ketika ada masyarakat yang lapar, Umar merasa dirinya ikut bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Ia memilih memikul sendiri karung tepung tersebut hingga sampai ke rumah keluarga yang membutuhkan.
Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Kesederhanaan Umar bukanlah pencitraan sesaat atau sikap yang muncul karena keadaan tertentu. Semua itu berakar dari cara pandangnya terhadap kehidupan dunia.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Umar sering mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlena oleh gemerlap dunia.
Suatu hari ketika melewati tempat pembuangan kotoran, ia berhenti dan berkata, “Inilah duniamu yang engkau rakus dengannya.”
Kalimat itu menggambarkan betapa Umar memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara.
Harta, jabatan, dan kemewahan tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan. Semua itu hanyalah sarana untuk beribadah dan menebar kemaslahatan.
Pandangan inilah yang membuat Umar mampu menjaga integritasnya selama memimpin. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah SWT.
Berabad-abad telah berlalu sejak Umar bin Khattab wafat. Namun kisah-kisah tentang dirinya masih terus dibaca dan diceritakan hingga sekarang.
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan kekayaan dan kemewahan, Umar menghadirkan definisi kepemimpinan yang berbeda.
Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukanlah orang yang hidup paling nyaman, melainkan orang yang paling besar tanggung jawabnya. Bukan yang paling banyak menerima, tetapi yang paling banyak memberi.
Ketika rakyat kesulitan, ia memilih ikut merasakan kesulitan itu. Ketika melihat ada orang yang diperlakukan rendah, ia berdiri membelanya. Ketika menemukan keluarga yang lapar, ia turun tangan langsung membantu mereka.
Karena itu, warisan terbesar Umar bin Khattab bukanlah luasnya wilayah yang pernah dipimpinnya. Warisan terbesarnya adalah teladan tentang keadilan, empati, dan kesederhanaan.
Dari kisah hanya makan minyak selama sembilan bulan, mempersilakan pelayan makan bersama tamu, hingga memikul sendiri karung tepung untuk janda dan anak yatim, Umar menunjukkan satu pelajaran penting, yaitu pemimpin yang baik bukanlah yang hidup di atas penderitaan rakyatnya, melainkan yang bersedia berbagi beban bersama mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang