Editor
KOMPAS.com – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf meninjau Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah untuk memastikan kesiapan layanan kesehatan menjelang kedatangan jemaah haji gelombang kedua dari Makkah.
Kunjungan tersebut dilakukan di tengah persiapan pemulangan dan pergerakan jemaah usai menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Menhaj menilai layanan kesehatan yang diberikan kepada jemaah sejauh ini berjalan dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan selama musim haji.
Baca juga: Kemenhaj Dorong Komoditas Pangan RI Masuk Rantai Pasok Katering Haji Arab Saudi
Meski demikian, pemerintah menilai diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap model layanan kesehatan haji agar lebih efektif, efisien, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan regulasi di Arab Saudi.
Saat meninjau KKHI Madinah, Kamis (4/6/2026), Menhaj memastikan kesiapan fasilitas kesehatan dalam menyambut kedatangan jemaah dari Makkah.
Baca juga: Kemenhaj: Penerapan Istithaah Kesehatan Berhasil Tekan Angka Kematian Jemaah Haji
Ia menyebut secara umum layanan kesehatan di KKHI Madinah telah siap beroperasi untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji Indonesia.
"Hari ini saya melihat langsung kesiapan KKHI Madinah dalam menyambut jemaah dari Makkah. Secara umum sudah siap, tetapi model pelayanan kesehatan yang kita gunakan perlu dievaluasi untuk menjawab tantangan ke depan," ujar Menhaj.
Menurutnya, evaluasi perlu dilakukan agar sistem pelayanan kesehatan haji dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi jemaah.
Menhaj menilai fasilitas yang dimiliki KKHI saat ini memiliki kapasitas yang besar, namun pemanfaatannya perlu dikaji lebih lanjut agar lebih efektif.
Evaluasi tersebut akan menjadi bagian dari pembahasan pemerintah setelah penyelenggaraan ibadah haji 2026 berakhir.
"Kita ingin memastikan setiap sumber daya yang tersedia benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi jemaah," katanya, saat berada di KKHI Madinah, Kamis (4/6/2026).
Ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian layanan kesehatan terhadap regulasi Arab Saudi yang terus mengalami perubahan.
Menurut Menhaj, sistem pelayanan kesehatan haji Indonesia tidak bisa terus menggunakan pola yang sama dari tahun ke tahun tanpa melakukan pembaruan.
"Regulasi di Arab Saudi terus berkembang. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pola pelayanan yang sama dari tahun ke tahun. Harus ada penyesuaian agar layanan tetap optimal," ujarnya.
Selain aspek pelayanan, Menhaj menegaskan peningkatan kualitas layanan kesehatan harus berjalan beriringan dengan penerapan prinsip istitha'ah kesehatan.
Ia mengungkapkan pada musim haji tahun ini terdapat 345 calon jemaah yang tidak diberangkatkan karena tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan jemaah selama menjalankan ibadah haji.
"Prinsip istithaah harus tetap ditegakkan demi keselamatan jemaah. Di sisi lain, kualitas layanan kesehatan bagi mereka yang berangkat juga harus terus ditingkatkan," tegasnya.
Menhaj juga menilai kebutuhan tenaga kesehatan perlu mendapat perhatian khusus mengingat jumlah jemaah Indonesia setiap tahun mencapai lebih dari 200 ribu orang.
Karena itu, perencanaan tenaga medis yang memadai menjadi faktor penting dalam mendukung pelayanan kesehatan selama musim haji.
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan PPIH Daerah Kerja Madinah, dr. Enny Nuryanti, menjelaskan KKHI Madinah beroperasi selama 24 jam untuk melayani kebutuhan kesehatan jemaah haji Indonesia.
Menurut Enny, kasus kesehatan yang paling banyak ditangani saat ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan hipertensi.
Selain layanan di KKHI, pemerintah juga menyiagakan lima klinik satelit yang tersebar di lima sektor wilayah Daerah Kerja Madinah.
Klinik-klinik tersebut melayani jemaah yang menginap di hotel-hotel sekitar Masjid Nabawi dan didukung tenaga dokter, perawat, farmasi, laboratorium, serta sanitasi yang bersiaga selama musim haji.
Enny menjelaskan KKHI berfokus pada pelayanan rawat jalan, sementara jemaah yang membutuhkan penanganan lanjutan atau mengalami kondisi darurat akan dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.
Menjelang kedatangan jemaah gelombang kedua ke Madinah, Kementerian Haji dan Umrah memastikan seluruh layanan kesehatan diperkuat.
Perhatian khusus diberikan kepada jemaah yang baru menyelesaikan fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), karena kelompok ini dinilai paling rentan mengalami kelelahan dan gangguan kesehatan.
"Jemaah yang baru menyelesaikan fase Armuzna menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian. Karena itu, kesiapan layanan kesehatan harus benar-benar terjaga hingga mereka kembali ke Tanah Air," pungkas Menhaj.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang